"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 22 Januari 2014

Arbeit macht frei

Arbeit macht frei


Flash-story by Wahyu BN

            Arbeit macht frei ‘Kerja membuatmu bebas’; tutur pagar masuk sebuah industri rumahan; bertempat persis di samping Selatan pasar Giwangan, seberang agak menjorok-masuk dari terminal bus terbesar di Jogja.

            Teng! Teng! Teng!; bunyi meriah di tiap pagi, tanda dimulainya proses produksi. Bunyinya itu-itu saja, teng dan teng; seringnya bekejaran, kadang bersahut loyo, dan yang terjarang: lama bersambut. Kerajinan kuningan.

            09.00.

             Baru sejam, bunyi teng terdengar loyo. Ini gara-gara hadirnya Gita; Gita Wirjamban. Loyonya ritme menjadi original soundtrack peristiwa yang bakal terhelat.

            “Kau niat kerja tak?!”
            “Maaf Pak…, tadi,”
            “Hash! Tak perlu alasan!” 

            Gita Wirjamban. Lahir piatu di jamban, putera almarhum penambang pasir Kali Code, ibunya cuma buruh cuci rumahan, Atut namanya. Ini pagi Bu Atut agak meriang, antara jadi-tak jadi masuk kerja. Gita menanti cemas putusan bundanya, dia-orang yang mengantarnya enam hari seminggu.

            Alhasil, lambatnya putusan Atut berbuah koar Pak Yudho, majikan Gita.

            “Gajimu kupotong bulan depan!”

            Gita terbelalak; di ambang takut, tak berdaya, juga tak terima. Gaji bulan ini aja telat, kok sampeyan tega Pak…, ujar lirih batinnya.

            Diparkirnya sepeda onthel. “Gajimu kupotong!” sejurus Pak Yudho mengulangi perkataannya. Gita cuma bisa diam, sambil melangkah lesu menyusul bunyi teng yang kembali bekejaran.

            Sesaat setelah Gita mengambil selempeng kuningan, Pak Yudho kembali berkata-kata: “Gajimu tak potong!”.

Putus sudah syaraf sabarnya, ditatapnya Pak Yudho dengan muka kesumat.

“Maksudmu apa, Pak?!”
“Maksudku; kuingin kau juga memiliki tempat ini, kita bekerja bersama meningkatkan taraf hidup; kerja keras! Disiplin!”
“Bagaimana bisa?! Cara bapak memperlakukan saya saja seperti ini!”

“Aku ayahmu…”

Ehe ehe. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger