"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 22 Februari 2014

Gelombang Demokratisasi-Dunia

Gelombang Demokratisasi-Dunia


Oleh: Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A.

Istilah demokratisasi” menunjuk pada usaha atau proses pen-demokrasi-an seluruh sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, “gelombang demokratisasi-dunia” setidaknya dapat diterjemahkan sebagai arus berlangsungnya segenap proses di atas pada seluruh masyarakat dunia. Berakhirnya Perang Dingin yang ber-ekses pada kejatuhan rezim komunis-Soviet di awal dekade 1990-an kerap dianggap banyak pihak sebagai pemicu munculnya arus atau gelombang demokratisasi terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Francis Fukuyama dalam buah karya monumentalnya, The End of History and The Last Man, berkata, “…ia (demokrasi) menaklukkan ideologi-ideologi pesaingnya seperti monarki turun-temurun, fasisme dan baru-baru ini komunisme” (Fukuyama, 2004: 1). Begitu pula Samuel P. Huntington dalam The Third Wave yang menegaskan bahwa kejatuhan komunisme dunia sebagai momentum kelahiran kembali demokrasi secara utuh.[1]
 
            Fukuyama mencatat, bilamana pada dekade 1950-an hingga 1960-an hampir setengah dari negara di dunia berdiri di atas rezim komunisme yang otoriter, maka kini mayoritas negara di dunia menggunakan demokrasi sebagai sistem pemerintahannya, “Saat ini, tak ada sistem pemerintahan yang dianggap paling baik kecuali demokrasi”, pungkasnya kurang-lebih. Berikut catatan Fukuyama (2004: 36-37) mengenai rangkaian transisi berbagai rezim “menuju demokrasi” yang melanda dunia.

Tahun
Transisi Demokrasi
1980
Restorasi pemerintahan melalui pemilu yang demokratis di Peru setelah dua belas tahun lamanya berada di bawah kekuasaan militer.
1982
Perang Malvinas mempercepat runtuhnya junta militer Argentina berikut melahirkan pemerintahan Alfonsin yang terpilih secara demokratis.
1983
Mundurnya rezim militer di Uruguay.
1984
Jatuhnya rezim militer di Brazil.
1986
Pemerintahan diktator Marcos-Filipina digulingkan, digantikan oleh Corazon Aquino dengan dukungan massa yang kuat.
1987
Jendral Chun di Korea Selatan meletakkan jabatan dan mengizinkan terpilihnya Roh Tae Woo sebagai presiden. 
1988
Pasca-Kematian Chian Ching Kuo, berbagai isu mengenai demokratisasi kian menyerua di Taiwan, hingga pada akhirnya pemerintahan otoriter Burma mampu dipukul oleh gerakan pro-Demokrasi.
1989
Pemerintahan Komunis Soviet Gorbachev mendeklarasikan glasnost dan perestorika yang sekaligus menandai berakhirnya rezim komunis-Soviet sejak berdirinya di tahun 1917.
1990
Pemerintahan minoritas kulit putih F. W De Klerk membebaskan Nelson Mandela dan mencabut politik apartheid.

Di Nikaragua, pemerintahan Sandinista berkoalisi dengan Violetta Chamoro dalam sebuah pemilu yang bebas.

Kuba dan Guyana merupakan satu-satunya negara di kawasan Barat Amerika Latin yang tak mengizinkan tergelarnya pemilu secara bebas dan layak.

            
      Tak pelak, berbagai catatan gelombang demokratisasi-dunia di atas berlangsung bersamaan dengan terjadinya gelombang radikalisme Islam-dunia. Hal tersebut sebagaimana ungkap Huntington (2006: 187),

“Pada pertengahan 1970-an dan 1980-an, seluruh dunia dilanda arus gelombang demokratisasi yang melingkupi setiap negeri. Meski sifatnya terbatas, gelombang ini, bagaimanapun juga, berpengaruh terhadap masyarakat-masyarakat muslim. Ketika gerakan-gerakan demokratisasi semakin meningkat dan mulai berkuasa di Eropa, Amerika Latin, sekitar Asia Timur, dan Asia Tengah, gerakan-gerakan Islam pun semakin menguat di negara-negara Islam.”

            Pernyataan Huntington di atas menunjukkan bahwa faktual gesekan antara gelombang radikalisme-Islam dengan demokratisasi telah terjadi sedemikian rupa di era 1970-an hingga 1980-an, dan agaknya, gesekan tersebut kian menguat pascadunia memasuki era globalisasi—akhir dekade 1980-an. Hal terkait, sebagaimana ungkap Tarmizi Taher (2004: 13) yang meminjam istilah McLuhan, sebagai konsekuensi logis atas terciptanya global village ‘kampung dunia’ akibat pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi.


[1] Samuel P. Huntington mengidentifikasi terjadinya tiga gelombang demokratisasi dalam sejarah. Gelombang pertama terjadi antara tahun 1828-1926, gelombang kedua pada tahun 1943-1962 dan gelombang ketiga demokratisasi terjadi sejak tahun 1974. Menurutnya, gelombang demokratisasi akan selalu datang dan berulang berikut membawa lebih banyak negara menjadi demokratis.   

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger