"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 22 Februari 2014

Gelombang Radikalisme-Islam vis-à-vis Demokratisasi di Era Globalisasi

Gelombang Radikalisme-Islam vis-à-vis Demokratisasi
di Era Globalisasi


Oleh: Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A.

Penyebaran Fatwa Osama bin Laden Via Media Massa Elektronik
            Pascatragedi 11 September 2001, Osama bin Laden menyerukan fatwa kepada seluruh muslim dunia untuk memerangi Amerika Serikat beserta simbol-simbolnya dimanapun mereka berada (Abimayu, 2005: 37), kiranya fatwa tersebutlah yang kemudian menyebabkan aksi terorisme di berbagai belahan dunia kian masif, terutama di Indonesia. Berikut catatan khusus mengenai serangkaian aksi teror yang terjadi di Indonesia pascaperistiwa 11 September 2011 (Ikhwan, 2010: 64).

Year
Date
Boom Attacks
Victims
Suspected/Prosecuted
2001
23 Sep
Plaza Atrium Senen
6 injured


12 Oct
KFC in Makassar
None


6 Nov
Australian International School
None

2002
1 Jan
New Year Night
1 deaths
1 injured


12 Oct
Bali (1st)
202 deaths
300 injured
Amrozi, Ali Imron, Imam Samudra, dan Ali Gufron (Ali Imron divonis hukuman seumur hidup, tiga lainnya divonis hukuman mati).

5 Dec
McDonalds in Makassar
3 deaths
11 injured

2003
3 Feb
Central Police Office
None


27 Apr
Soekarno Hatta International Airport
2 deaths
8 injured


5 Aug
J.W Marriott (1st)
11 deaths
152 injured

2004
10 Jan
Palopo,
4 deaths


9 Sep
Australian Embassy
5 deaths
100 injured


12 Dec
Immanuel Church in Palu
None

2005
21 Mar
Ambon
None


28 May
Tentena
22 death


8 Jun
Pamulang,
None


1 Oct
Bali (second)
22 deaths
102 injured


31 Dec
Traditional market in Palu,
8 deaths
45 injured

2009
17 Jul
J.W Marriott & Ritz Carlton



            Menilik serangkaian catatan teror di atas, kiranya cukup sulit dibayangkan bilamana berbagai aksi teror tersebut sama sekali tak berhubungan dengan konstelasi dunia internasional. Dalam hal ini, saling keterkaitan tersebut dapat dibuktikan dengan fatwa Osama bin Laden untuk memerangi simbol-simbol Amerika Serikat dimanapun berada, dengan berbagai tempat yang menjadi sasaran aksi teror.

            Apabila penelaahan lebih seksama dilakukan, maka dapatlah dilihat bahwa Plaza Atrium Senen merupakan simbol budaya hedonisme dan konsumerime masyarakat Amerika Serikat berikut Barat—American dreams. Di sisi lain, baik KFC, McDonalds, J.W Marriot dan Ritz Carlton secara tegas dan jelas menunjukkan eksistensinya sebagai simbol-simbol kapitalisme-Amerika Serikat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana hal di atas menjadi mungkin, sedang wilayah Afghanistan dengan Indonesia terpisahkan beribu-ribu mil jauhnya, dan sebagaimana kita ketahui bersama, jawabannya terletak pada kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan ter-tranmisi-nya beragam informasi dari belahan dunia lain secara cepat.

            Bisa jadi, komunikasi yang terjalin antara kelompok radikal-Islam di Afghanistan dengan Indonesia berlangsung secara tertutup melalui simbol-simbol yang sekedar diketahui kedua belah pihak. Namun, hal tersebut turut dimungkinkan pula oleh berbagai siaran berita media massa elektronik yang secara tak langsung justru menyampaikan (menginformasikan) fatwa yang didengungkan Osama. Dalam hal ini, berbagai media massa elektronik mengklaim bahwa penyampaian informasi yang mereka lakukan bersifat netral dan berimbang, namun sebagaimana ungkap Iean Ang bahwa audiens bukanlah “subyek-subyek yang kosong”, dalam arti, telah ditemuinya serangkaian nilai, norma berikut pola pikir tersendiri dari audiens yang memungkinkannya menafsirkan segala informasi yang datang secara otonom (Nugroho, 2004: 108). Bisa jadi, sebagian audiens menerima informasi perihal fatwa Osama secara netral, namun tak menutup kemungkinan pula hal tersebut menjadi sebentuk persuasi tersendiri bagi sebagian yang lain. Ini bisa jadi disebabkan oleh informasi yang diterimanya justru kian meneguhkan ideologi yang dianutnya, atau justru menginformasikan bahwa “kolega-koleganya” nan jauh di sana telah menyatakan sikap tertentu sehingga ia syarat mengikutinya.

            Lebih jauh, dimensi globalisasi yang demikian kentara pula di dalamnya tampak melalui naiknya pamor berikut popularitas Osama bin Laden secara drastis di negeri-negeri muslim, terutama Indonesia. Akibat beragam informasi yang diterima masyarakat negeri-negeri muslim melalui citra satelit, sosok Osama kemudian menjadi simbol perlawanan atas hagemoni Amerika Serikat bagi umat muslim di saentaro dunia. Tak hanya sampai di situ, berbagai aksesoris mengenainya pun semisal kaos, poster berikut berbagai film dokumenter yang mengulas perjalanan jihadnya pun tiba-tiba banyak ditemui di negeri-negeri muslim, terutama Indonesia.

            Pada ranah yang berlainan, “efek Osama” di atas turut mempengaruhi berbagai kalangan yang kontra terhadapnya. Di Indonesia misalnya, pascatragedi September Kelabu banyak seminar-seminar yang digelar untuk mengulas berikut menanggulangi menyebarnya “efek Osama” di tanah air. Umumnya, berbagai seminar tersebut digelar oleh kalangan Islam-revivalis, liberal, berikut Islam-radikal nir-Kekerasan. Begitu pula, apa yang lebih penting lagi adalah “latahnya” pemerintah Indonesia yang segera menyusun Perpu No.1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, kemudian disusul oleh Inpres No. 2 Tahun 2002 tentang penunjukan instansi pemerintah yang berwenang untuk mengkoordinasikan tindakan memerangi teorisme di mana kemudian melejitkan nama Densus 88 Antiteror (Abimayu, 2005: 136 & 224).

Imam Samudera dan Fenomena “Aku Melawan Teroris!”
            Pada tahun 2004, publik tanah air dikejutkan dengan terbitnya buku karangan Imam Samudra (Abdul Aziz) yang berjudul, Aku Melawan Teroris!. Buku tersebut berisi berbagai tulisan Imam Samudra kala mendekam di penjara (rutan) Provost Polda Bali yang antara lain berisi; autobiografi singkatnya semasa kecil hingga remaja, perkenalannya dengan pemikiran Islam garis keras, manfestasi politiknya mengenai Bom Bali yang dilakukannya bersama “kawan-kawan seperjuangan”, berikut berbagai catatan kecilnya selama mendekam di rutan. Tak pelak, buku yang diterbitkan oleh Jazera tersebut (Solo) dinilai demikian provokatif dan kontroversial oleh banyak pihak sehingga dihentikan peredarannya (baca: dibreidel) pascatiga bulan peluncuran perdananya.

            Memang, bagian terpenting dari karya Samudra di atas terletak pada manifesto politiknya mengenai “jihad” Bom Bali yang berisi serangkaian pembenarannya atas aksi teror yang ia lakukan. Di sini, pengkajian takkan difokuskan pada berbagai manifestasi politik tersebut, melainkan lebih pada unsur-unsur intrinstik yang tersembunyi berikut tak menjadi tema inti dalam penulisan buku terkait, yakni lebih pada catatan pengalaman Imam Samudra akan persentuhannya dengan “bacaan-bacaan asing” serta dunia maya (internet) yang sedikit-banyak mempengaruhi pola pikir berikut tindakannya.

            Dalam tulisannya mengenai masa muda, tepatnya ketika Imam Samudra duduk di bangku SMP, ia menceritakan perkenalannya dengan tulisan Dr. Abdullah Azzam, pelopor lahirnya organisasi Al-Qaeda di Afghanistan, yang berjudul Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad di Afghanistan. Samudra (2004: 41) mengekspresikan kekagumannya pada buku tersebut dengan menuliskannya sebagai berikut,

“Mereka yang sempat membaca buku itu, Insya Allah, akan tergerak hatinya untuk berjihad mengangkat senjata ke Afghanistan. Tapi waktu itu umurku masih 16 tahun, baru bisa membayangkan, menghayati, dan kemudian melamun.”

            Melalui pernyataan Samudra di atas, kiranya dapat ditilik betapa pembacaannya pada buku karya Dr. Abdullah Azzam membentuk pola pikirnya di kemudian hari. Kiranya, hanya mekanisme globalisasi-lah yang dapat menghantarkan buku berbahasa asing tulis seorang tokoh nan jauh di sana dapat tercetak berikut terpublikasi secara luas di tanah air hingga akhirnya sampai di tangan Samudra kecil. Di dalamnya terdapat serangkaian proses semisal perpindahan naskah, alih bahasa dan berbagai prosedur teknis lainnya yang mencirikan salah satu karakteristik utama era globalisasi, yakni “perpindahan arus barang secara cepat” berikut inrelevansi dimensi ruang dan waktu.

            Pada kesempatan yang lain, Samudra (2004: 100) menceritakan aktivitasnya dalam dunia maya sebagai berikut,

“Saat aku surfing dalam lautan internet, kutemukan gambar bayi-bayi Afghanistan tanpa kepala dan tangan. Mereka dibombardir pasukan salib Amerika dan sekutunya dengan sangat-sangat brutal pada Ramadhan 2001. Itu saja telah menghambat aktivitasku.”

            Hal di atas kiranya jelas menunjukkan relasi antara afeksi pada diri Imam Samudra yang disebabkan oleh salah satu instrumen globalisasi: internet. Di sisi lain, hal terkait turut menunjukkan bahwa internet dapat pula menjadi media ampuh guna menyebarkan semangat radikalisme-Islam. Sebagaimana gambar-gambar yang ditunjukkan Samudra, agaknya hal tersebut mampu mengeksploitasi batin dan pola pikir mereka yang melihatnya sehingga merasa “terpanggil” untuk melakukan jihad. Menyitir ungkap Gramsci bahwa dalam setiap praktek hagemoni selalu terdapat ruang untuk melakukan counter hagemoni, faktual dunia maya tak sekedar berisi hal-hal yang berisfat anti-Transendensi, liberal, pragmatis berikut kosmopolitan, tetapi juga dapat berisi berbagai hal yang berkebalikan dengannya.

            Lebih jauh, dalam bukunya, Samudra turut menyertakan satu subbab yang berisi tentang langkah-langkah untuk melakukan hacking (pembajakan via dunia maya), ia pun mem-propaganda-kan tindakan tersebut pada para pemuda muslim, tujuannya untuk mengganggu bahkan merusak sistem keamanan negara-negara yang dicapnya kafir (Samudra, 2004: 265). Tak pelak, hal tersebut secara eksplisit menunjukkan turut terjadinya perang di dunia maya antara kelompok Islam-radikal dengan Barat selaku pengusung teknologi terkait sekaligus pencetus era globalisasi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger