"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 23 Februari 2014

TAUBATNYA BANDIT EKONOMI

Jangan remehkan kata “tidak” sekecil-kecilnya, bahkan lewat gestur sekalipun. Ketika Anda memilih, Anda memilih untuk banyak orang, hanya saja; sering kali Anda tak menyadarinya…

TAUBATNYA BANDIT EKONOMI*


Oleh: Wahyu Budi Nugroho

“Indonesia akan menjadi korban pertama saya…” [John Perkins]

Itu, si Perkins telah lama berprofesi sebagai makelar yang menghubungkan negara-negara dunia ketiga dengan negara maju. Profesinya memang unik, jarang; kerap dijuluk sebagai “bandit ekonomi”. Tugasnya membuat laporan semu pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang, bolehlah dikata; dia tulis pertumbuhan ekonomi 8% Indonesia era Soeharto pakai mata tertutup. Tugas penting Perkins lainnya adalah membuat dan menawarkan proposal bantuan ekonomi pada para petinggi negara dunia ketiga, proposal ini, kalau boleh dikata secara gamblang, adalah “jebakan hutang”. Maka dari itu, para bandit bungah nian kalau-kalau negara dunia ketiga kena bencana atau musibah. Bagi mereka, itu celah yang teramat lunak tuk memasukkan proposal hutang. Tak jarang pula, bandit-bandit ekonomi layaknya Perkins bermain dalam perdagangan senjata, pun ekspor-impor komoditas pangan.

Eits, jangan samakan bandit ekonomi dengan bandit sosial. Keduanya sama-sama pakai kata “bandit”, tapi beda di hati dan tindak-tanduk. Kalau You baca kajian Eric J. Hobsbawm tentang Social Bandit, itu mirip-mirip Robin Hood; merampok harta orang-orang kaya tuk dibagikan pada mereka yang membutuhkan, baik proletar maupun lumpen-proletariat. Jadi please, jangan samakan bandit ekonomi dengan bandit sosial; bandit sosial adalah para rompak dan begal terhormat.

SUATU KALI, saat berada di Mami Kota, Perkins berjalan-jalan—on foot—melihat sikon sekitar hotel berbintang tempatnya menginap, waktu itu udara Jakarta belum seakut sekarang. Tak jauh dari tempatnya melangkah, di samping kiri jalan, tampak terpal lusuh dan telah sobek di banyak bagian sengaja dibangun menyerupai tempat berteduh—jauh dari bentuk gubuk. Perkins terusik melihat ihwal di dalamnya. Ia melangkah mendekat, terus, dan terus; dan … didapatinya seorang wanita tua berambut putih kusut mengenakan pakaian compang-camping tengah bernaung.

Terganggu oleh ketubuhan Perkins yang hadir, wanita tua itu melancarkan tatapan garang, seakan kuat menolak menjadi “obyek tontonan” pria bule. Perkins ajeg mematung, diamatinya terus wanita tua itu sambil dipikirnya sesuatu; sesuatu, sesuatu... Tak dinyana, sekonyong-konyong, wanita tua itu meludah ke arahnya; barulah Perkins terhenyak dan pergi menjauhinya.

Perkins sadar, getirnya kehidupan wanita tua-gelandangan itu, juga tak terhitungnya jumlah gembel-gelandangan di Indonesia, tak lepas dari ulahnya; profesinya sebagai bandit ekonomi. Bertopengkan pembangunan-isme, trickle down effect, dan berbagai jargon sakral neolib lainnya; bangsa wanita tua itu digiring memasuki jurang indeks gini yang kian curam.

Perkins insyaf, akibat liur-ludah wanita tua itu.

Sementara, si wanita tua sama sekali tak tahu-menahu, jika liur-ludahnya yang tak seberapa itu, menyadarkan bandit ekonomi pembawa sengsara ratusan juta rakyat Indonesia.

Hanya karena ludah.
Cuma ludah.
Ludah.

-----

*Tulisan ini didedikasikan spesial untuk Dr. Dwi Condro, ekonom STEI-Hamfara, Yogyakarta.

Bacaan;
Baswir, Revrisond, 2003, Pembangunan tanpa Perasaan, ELSAM.
Perkins, John, 2007, Pengakuan Bandit Ekonomi, Ufuk Press.
Slatta, Richard W., 2004, Eric J. Hobsbawm’s Social Bandit: A Critique & Revision, A Contracorriente: Journal on Social History and Literature in Latin America, 2004, pp. 22-30. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger