"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 07 Mei 2014

Mengeja Eksistensialisme Emmanuel Levinas

Mengeja Eksistensialisme Emmanuel Levinas


Wahyu Budi Nugroho
Sosiologi Universitas Udayana

“Etika sarat mendahului filsafat.”
[E. Levinas]

Saya perlu mengucapkan terima kasih kepada Romo Thomas Hidya Tjaya, yang karena bukunya, Enigma Wajah Orang Lain: Menggali Pemikiran Emmanuel Levinas (KPG, 2012), saya dapat masuk lebih jauh ke alam pemikiran Levinas. Sebelumnya, sebagai awam yang menggeluti pemikiran eksistensialisme Jean Paul Sartre, saya insyaf betul pentingnya posisi pemikiran Levinas bagi eksistensialisme Sartre, posisi tersebut, yang meski boleh dikata kurang harmonis, namun dapat pula diucap mengisi satu sama lain.[1] Sayang, literatur mengenai Levinas di tanah air masih terbilang jarang, dan jikapun ada, penulis harus berdebat dengan rangkaian kalimat terjemahan yang meracau, pun dengan kesadaran penuh sebelumnya bahwa filsafat Levinas sendiri memang begitu ruwet bagi pembacaan awam. Seperti diungkap Romo Magnis, Levinas berusaha berfilsafat dengan kosakata yang belum digunakan manusia, ia berfilsafat tentang sesuatu yang sesungguhnya tak dapat dikatakan atau dituliskan. Alhasil, Levinas berputar-putar menggunakan konsep-konsep atau terminus yang sesungguhnya tak memadai melainkan sekedar “mendekati”. Namun tukas Romo Magnis, bila kita tekun mengikuti alur pemikirannya, kita akan segera mengetahui maksud Levinas. Perkara yang tak mudah dan membutuhkan pengorbanan cukup besar bagi penulis pribadi, setidaknya hingga menemukan buku Romo Thomas di atas. Oleh karenanya, kepada Beliaulah tulisan ini dipersembahkan.

Menggugat Kesadaran bagi Keberlainan
Levinas berangkat dari konsep kebenaran sejati ala Aristotelian dan guru fenomenologi-nya sendiri, Husserl, yang mengandaikan kebenaran sebagai kesesuaian antara pemikiran dengan forma (being/Ada). Sebagai misal, apabila saya mengatakan, di kotak itu ada cerutu, dan nyatanya cerutu itu memang benar-benar ada di situ, maka ini merupakan kebenaran sejati yang tak terelakkan. Sedikit berbeda dengan Aristoteles, pemikiran Husserl menjadi lebih canggih dengan menyertakan konsep epoche dan tak menganggap pengetahuan kita tentang suatu forma sebagai ihwal yang “telah jadi” layaknya pola pikir rasionalisme. Kebaruan dalam metode Husserl terletak pada konsep epoche di mana subyek sarat melakukan penangguhan sementara atau memberikan “tanda kurung-kurawal” pada suatu obyek sehingga kemurnian dari obyek tersebut pun tertangkap. Pemberian tanda kurung-kurawal itu termanifestasi melalui penghilangan asumsi, prasangka, ataupun pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya atas suatu obyek. Semisal, ketika seorang anak kecil tengah berada dalam bus dan ia dibingungkan dengan pertanyaan seputar siapa yang sesungguhnya bergerak; ia yang berada di dalam bus, ataukah pemandangan di luar bus; jika anak ini menjawab pemandangan di luar buslah yang bergerak, maka anak ini benar, secara fenomenologi Husserl. Hal ini dikarenakan kesesuaian antara pemikiran sang anak dengan forma yang hadir di hadapannya, dengan kata lain, representasi atau penampakan sebuah obyek selalu selaras dengan kesadaran. Demikianlah fenomenologi Husserl berupaya menginvestigasi proses kesadaran murni manusia terhadap obyek yang ada di sekelilingnya.

Levinas, tak puas dengan skenario di atas, kesadaran dinilainya terlalu egois, memaksakan apa yang tampak layaknya kesadaran itu sendiri. Bagi Levinas yang mengisi sebagian besar hidupnya dengan pencarian makna Other ‘Yang lain’ bagi sesamanya, ia serasa memperoleh jawaban lewat bagaimana proses kesadaran itu bekerja. Kesadaran selalu hendak menaklukkan, mengkooptasi, dan menyerap segala sesuatu ke dalamnya. Hal ini sebagaimana ungkap dalil umum psikologi: kita cenderung tak menyukai seseorang yang berbeda dengan kita. Relasi antara orang tua dan anak yang penuh dengan tuntutan dan permintaan (dalam bahasa Lacan) dapat menjadi misal bagaimana proses penindasan kesadaran bekerja. Orang tua sering kali menanamkan harapan-harapan tertentu pada anaknya, tindakan yang dilakukan orang tua tersebut sesungguhnya merupakan bentuk pemaksaan kesadaran orang tua terhadap sang anak—bahwa kau harus menjadi seperti yang kuinginkan. Inilah mengapa, sering kali orang tua merasa benci, gagal, atau kecewa ketika si anak menjadi berbeda dari yang dimauinya,[2] ia serasa kehilangan kontrol, ada sesuatu yang hilang atau terlepas dari dirinya, sedang “sesuatu itu” sesungguhnya lebih menghendaki untuk terbebas darinya.

Ada satu pertanyaan urgen yang diajukan Levinas berkenaan dengan masa lalunya yang kelam: “Bagaimana bisa seseorang dapat menjadi demikian ‘berbeda’ dari yang lain, hingga karena perbedaan-perbedaan itu seseorang tak lagi dianggap sebagai manusia, dan dengan mudah dihilangkan nyawanya?”. Pertanyaan ini, merupakan manifestasi pemberontakan Levinas atas kenyataan pahit bahwa seluruh keluarganya yang berdarah Yahudi menjadi korban pembantaian Nazi selama Perang Dunia II. Dalam kegetirannya, ia pun menyimpulkan jika “kesadaran” menjadi biang dari semua tragedi ini. Kesadaran bekerja dengan cara mendikitomi antara “Yang sama” dengan “Yang lain”. “Yang sama” dalam konteks ini, merupakan pikiran atau kesadaran itu sendiri, kesadaran yang tercetus dari The I (Sang Aku/Ego), sementara “Yang lain” adalah berbagai obyek yang ada di luar kesadaran atau The I. Kesadaran ini, meski oleh Husserl telah dijinakkan (baca: ditundukkan) melalui epoche, namun pada akhirnya akan selalu jatuh pada asumsi dan prasangka yang dibuatnya sendiri. Kesadaran murni tak lagi benar-benar bersifat transenden (mengatasi segala sesuatu), melainkan menemui wujudnya sebagai “transasendensi”, yakni sebuah gerakan mengatasi yang mengarah ke luar, akan tetapi bakal selalu kembali ke dalam. Dengan kata lain, kesadaran murni terjebak pada kesadaran murni itu sendiri. Sifat kesadaran yang seperti inilah ungkap Levinas, yang bakal melahirkan kesewenang-wenangan, ia—kesadaran—akan selalu menyerap dan menyamakan Yang lain sebagaimana dirinya, tanpa berpikir panjang bahwa dirinya juga merupakan Yang lain bagi Yang lain.[3]

Menolak Kesetaraan bagi Kemanusiaan
“Jangan sakiti orang lain, mereka sama seperti diri kita”. Serangkai kalimat tersebut umum diterima sebagai kebenaran awam; bahwa orang lain layaknya diri kita yang bisa terluka, oleh karenanya, jangan berlaku sewenang-wenang, bahkan hingga menyakitinya. Orang lain yang mudah terluka digambarkan Levinas sebagai kulit yang membungkus ketubuhan manusia. Kulit yang menjadi bagian terluar tubuh manusia sangatlah tipis dan rentan terluka, entah karena tergores, terbakar, iritasi, atau sebab-sebab lainnya. Pun, lewat kulit inilah mau tak mau manusia sarat siap tersakiti dan membawa luka itu kemana pun ia pergi. Namun, Levinas menolak konsep kesetaraan atau “penyamaan” antara manusia satu dengan yang lainnya. Memang, setiap manusia dapat terluka, tetapi bukan berarti mereka sama; masing-masing mereka tetaplah berbeda dan unik.

Bagi Levinas, pendasaran etika ataupun moral kemanusiaan melalui prinsip kesamaan akan menemui kegagalan. Hal tersebut hanya akan membuat seseorang berfokus pada kesamaan-kesamaan yang terdapat antara dirinya dengan orang lain, sedang tak menyiapkan diri bagi perbedaan yang bersifat nyata ataupun laten[4]. Ini seperti ketika kita mengkaji semiotika Barthes di mana terdapat lapisan-lapisan terselubung pada “tanda”. Dalam konteks filsafat Levinas, berbagai lapisan tersebut adalah manusia itu sendiri. Dapatlah diandaikan, begitu mudah menemukan persamaan antara diri kita dengan orang lain; bahwa orang lain juga bernafas, memiliki wajah, tangan serta kaki, dan lain sebagainya. Kesamaan-kesamaan ini, dikarenakan telah menjadi ciri paling kentara dari eksistensi manusia dan biasa kita temui dalam keseharian hidup, pada akhirnya menjadi sesuatu yang bersifat sui generic atau taken for granted ‘apa adanya’. Kita telah terbiasa dengan kedirian manusia yang bersifat fisik-biologis,[5] namun tidak pada unsur-unsurnya yang bersifat instrinstik. Umumnya, kita akan lebih mudah menyematkan label other atau “liyan” pada mereka yang berbeda secara ras, keyakinan (agama), afiliasi politik, serta ideologi. Sampai pada titik ini, kesamaan-kesamaan yang terbangun bersifat semu, sekedar berfokus pada kesamaan “yang benar-benar sama” antara sesama individu—kesamaan bakal mandul ketika menjumpa perbedaan.

Terkait hal di atas, Levinas tak sekedar mengkonsepnya secara abstrak, melainkan telah mengalaminya secara nyata. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, keluarga Levinas menjadi korban pembantaian Nazi. Pengalaman pahit ini membuka matanya tentang bagaimana seseorang dapat menjadi demikian berbeda di antara sesamanya. Dikarenakan perbedaan ciri fisik dan ideologi, eksistensi manusia lain dengan mudah tereduksi; ia tak dipandang layaknya manusia lain yang memiliki keluarga, dengan susah-payah dilahirkan dan dibesarkan, pun yang terparah: dinilai tak memiliki perasaan serta dapat terluka seperti diri kita. Bagi Levinas, hal ini tak lepas dari bagaimana proses kesadaran itu bekerja.

Sebagai alternatif jalan keluarnya, Levinas menawarkan prinsip etika yang sarat dibangun berdasarkan “ihwal yang lebih tinggi”. Inilah mengapa ungkap Levinas, terdapat istilah-istilah seperti; After you, Mam [Silakan Anda duluan, Bu], Please, Sir [Silakan, Pak], dan lain sejenisnya. Prinsip menempatkan orang lain di atas diri kita memang memiripkan bentuknya sebagai altruisme, namun bukan itu yang dimaksud Levinas.[6] Ia memunculkan pihak ketiga dalam setiap jalinan dua individu yang tengah berinteraksi. Pihak ketiga ini, seperti bagaimana kita bakal memperlakukan individu-individu lainnya, atau dengan kata lain, perwakilan (percontohan) dari seluruh umat manusia di dunia. Pertanyaannya, lalu kapan diri kita akan diperlakukan secara lebih tinggi oleh manusia-manusia lainnya?. Di sinilah letak keterbatasan kosakata manusia dalam membahasakan filsafat Levinas. Menyangkut persoalan ini, secara sederhana Levinas berpijak pada “kebaikan yang telah ditentukan”. Jika kebaikan itu telah sedemikian rupa ditentukan Tuhan, maka tak ada jalan lain bagi manusia selain berbuat baik; kebaikan bersifat solid dan tanpa celah. Lebih jauh, pengkajian ini akan menemui bentuknya yang lebih kentara dalam filsafat Levinas mengenai “wajah manusia sebagai jejak tak terbatas”.

Wajah Manusia sebagai Jejak Tak Terbatas
Apabila kita teringat akan seseorang, maka ingatan itu pastilah mengarah pada wajah seseorang; bukan leher, tangan, atau kakinya. Di sinilah Levinas menempatkan wajah sebagai bagian terotentik dari ketubuhan manusia. Ia kerap menggunakan istilah “fenomenologi wajah” dalam kajiannya, namun fenomenologi wajah yang dimaksudkannya tidaklah mengacu pada wajah-fisik atau biologis, melainkan wajah yang bersifat metafisik atau transenden. Melalui pertemuan antarwajah manusia inilah Levinas menyusun konsep etikanya. Kehadiran wajah manusia selalu mengusik kita, menyita perhatian dan kebebasan kita, bahkan lebih jauh: menuntut kita untuk bertanggung jawab atasnya.

Romo Thomas Hidya mencuplik bagian novel All Quite on the Western Front karya Erich Maria Remarque guna menggamblangkan konsep etika Levinas yang dibangun berdasarkan pertemuan antarwajah manusia. Alkisah, seorang prajurit Jerman jatuh di parit yang salah dalam medan pertempuran untuk menghindari masifnya gempuran musuh, ia berharap prajurit lawan tak terjun di parit yang sama bersamanya. Sepanjang hari ia merasa was-was, disiapkannya pula bayonet guna berjaga-jaga, sehingga ketika ada prajurit musuh yang masuk, sekonyong-konyong ia dapat menikamnya. Ketika malam tiba, kegusarannya terbukti, seorang prajurit musuh masuk ke dalam parit yang sama, namun prajurit ini terluka parah dan tak mungkin melukai atau melakukan perlawanan. Gurat wajahnya menyiratkan ketakutan akut dan permohonan agar ia tak dibunuh. Sang prajurit Jerman yang mulanya bersikukuh bakal membunuh setiap prajurit lawan yang masuk ke paritnya pun kemudian tergetar dan luluh. Akhirnya, sang prajurit Jerman mengurungkan niat tuk membunuhnya, dan justru membantunya mengobati luka; meski pada akhirnya prajurit tersebut tak tertolong.

Seperti inilah konsep etika yang berupaya dibangun Levinas, tak peduli atasan, komando, atau negara mempropagandakan kebencian pada pihak lain; pertemuan antarwajah manusia selalu bersifat cair dan tak hitam-putih (baca: saklek). Kita dapat mendiamkan sebuah kursi yang patah, tetapi kita tak dapat berlaku sama jika itu seorang manusia; kita tak bisa mendiamkannya, kita harus bertindak sesuatu. Wajah manusia mengusik kenyamanan dan kebebasan kita, seolah menuntut kita bertanggung jawab atas kehadirannya, wajahnya menyirat serangkai jejak yang tak terbatas; memuat rekam historis yang tak sekedar bernarasi mengenainya, tetapi juga garis keturunannya yang tak terbilang, relasi-relasinya, serta posisinya di dunia ini—bahwa ketiadaannya bakal membawa luka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan; sanak famili, sahabat, relasi, dan pihak-pihak lainnya yang tak kita kenal. Oleh karenanya, mengeliminasi (baca: membunuh) seseorang bukanlah solusi, bayangan wajahnya akan tetap menghantui sampai kapanpun. Melalui serangkaian pengalaman tersebut, Levinas mendaulat pertemuan dengan wajah manusia sebagai sebentuk “epifani”, yakni sesuatu yang tiba-tiba tersingkap dan menyibak segalanya, bahkan dengan cukup berani Levinas mengatakan bahwa pertemuan tersebut tak ubahnya perjumpaan dengan Tuhan.

Berbagai alasan di ataslah yang menyebabkan Levinas bersikukuh membangun etika berdasarkan pertemuan antarwajah manusia, bukannya premis-premis yang bersifat universal dan kaku. Bisa jadi, yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah; lalu, dimana posisi kesadaran dalam proses perjumpaan tersebut?. Levinas secara tegas dan meyakinkan mensubstitusi posisi kesadaran dengan sensibilitas atau “perasaan”. Kesadaran bagi Levinas, terlalu riskan dalam perjumpaan antarmanusia, perasaanlah yang benar-benar mampu menempatkan Yang lain sebagai Yang lain bagi Yang lain.


*****


Denpasar, 8 Mei 2014





[1] Bahkan John Scott terlampau berani mengatakan bahwa pemikiran keduanya saling mempengaruhi secara langsung.
[2] Seperti ungkap Chomsky, “Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat”.
[3] Kalimat ini adalah satu contoh kecil betapa sulitnya membahasakan filsafat Levinas.
[4] Ada namun tak kentara.
[5] Di luar konteks ras dan perbedaan-perbedaan fisik yang sangat kentara. Konsep persamaan ini sesungguhnya menunjuk pada kesamaan “yang benar-benar sama” antara satu individu dengan individu lain; semisal antarindividu dalam suatu komunitas, kelompok, organisasi, partai, suku bangsa atau bangsa.
[6] Bukan pula konsep potlatch ala Marcel Mauss, konsepsi Levinas melampaui baik altruisme maupun potlatch—pemberian tanpa harapan (seketika).

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger