"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 18 Januari 2015

Over-Eksploitasi melalui Kerja Imaterial; Refleksi atas “Keramah-tamahan” Artifisial

Over-Eksploitasi melalui Kerja Imaterial;
Refleksi atas “Keramah-tamahan” Artifisial


Wahyu Budi Nugroho
Sosiologi Universitas Udayana

“Selamat datang…”
“Selamat berbelanja kembali…”
           
Serangkai kalimat di ataslah yang biasa kita tuai kala memasuki minimarket franchise yang kini banyak bermunculan di kota-kota tanah air. Pernahkah kita berpikir, bagaimana bisa para pegawai minimarket tersebut dapat terus bersikap ramah tiap kali pengunjung datang dan pergi. Prosedur! Tentu, inilah jawabnya. Tak diragukan lagi jika setiap tindak-tanduk mereka diatur oleh prosedur, tak hanya sedari cara kerja (operasional) atau cara berpenampilan, prosedur telah mengkooptasi para pegawai tersebut hingga ranah sekecil-kecilnya: afeksi. Hal ini mengingat, mereka tak lagi sekedar menjadi “operator” dari barang-barang yang dijualnya, melainkan turut “diperkosa” mengkomodifikasi diri sebagai bagian dari paket barang-barang yang dijual di tempatnya bekerja. Komoditas, sebagaimana kita pahami; merupakan segala sesuatu yang sengaja diproduksi atau dibuat untuk diperjual-belikan. Dengan demikian, afeksi buatan (artifisial) pun terklasifikasi di dalamnya mengingat turut ditujukan bagi ihwal berorientasi ekonomis/profit. Afeksi artifisial ini menyebabkan para pegawai begitu rentan akan eksploitasi-berlebih. Satu pertanyaan pun menyerua: “Bagaimana dampak afeksi artifisial ini terhadap dimensi kemanusiaan?”.

Tesis Lawas tentang Nasib Pekerja
Tak dapat dipungkiri, terdapat perbedaan mendasar antara terminus pekerja, buruh, dan pegawai. Dalam konteks ini, digunakan istilah “pegawai” dan “pekerja” secara bergantian guna memudahkan pemaparan. Ialah Marx, yang sempat meramalkan bakal kian menderitanya nasib pekerja (worker) di kemudian hari. Ramalan Marx menjadi shahih sebelum mahzab neoklasik hadir dan menawarkan berbagai “kebaikan” bagi para pekerja; tunjangan kerja, asuransi kesehatan, jaminan keselamatan kerja, bonus akhir tahun, dan lain sebagainya. Serangkaian hal tersebut terkulminasi lewat munculnya tesis End of History-Fukuyama; bahwa kapitalisme merupakan ideologi pemenang sejarah, dan meskipun ideologi ini masih menyimpan kekurangan di sana-sini, akan tetapi kapitalisme terbukti memberi infrastruktur terbaik bagi umat manusia.

Huntington dan Derrida adalah dua dari sekian banyak pemikir yang terlibat dalam diskursus menentang tesis Fukuyama di atas, sebelum kemudian hadir Antonio Negri yang menyadarkan betapa spat-kapitalismus ‘kapitalisme lanjut’ benar-benar masih “bermasalah akut” dan justru melahirkan eksploitasi lebih parah terhadap para pekerja. Bagi Negri, persoalan tersebut disebabkan oleh tak sebatasnya eksploitasi yang kini sekedar menjamah aspek fisik, melainkan pula nonfisik. Meminjam Foucault dan Deleuze, Negri menggunakan istilah “biopower”. Secara ringkas, biopower didefinisikan sebagai, “…the generation of energy from renewable biological material” [“…generasi energi dari materi biologis yang dapat diperbaruhi”]. Dalam konteks ini, biopower yang dimaksud mencakup seluruh daya yang dimiliki manusia, baik fisik maupun nonfisik (body and mind) yang dapat diperbaruhi; nonfisik terutama dimensi kesadaran dan perasaan manusia. Oleh karenanya, mereka yang bekerja di ranah intelektual, informasi-komunikasi, jasa, pelayanan, dan berbagai lapangan kerja “imaterial” lainnya dapatlah dikatakan lebih mendayagunakan biopower-nya. Istilah ini berkelindan dengan terminus “biopolitik” sebagai tata lebih tinggi yang memayunginya.

Biopower dan Biopolitik
Pendayagunaan biopower menyimpan ambiguitas tersendiri, baik sedari tujuan maupun cara kerjanya. Dinyatakan, prinsip pendayagunaan biopower tidaklah bertujuan untuk mendisiplinkan para pekerja, melainkan merangsang produktivitas mereka. Di era industrial (modern), optimalisasi biopower mewujud lewat hadirnya panoptikon yang selalu mengawasi, sedang di era pos-Industrial saat ini, biopower termanifestasikan dalam autonomisasi, fleksibilitas, dan kreativitas individu yang dinilai dapat meningkatkan produktivitas dengan sendirinya melalui kontrol informasional dan imaterial yang bersifat abstrak—prosedur kerja yang dianggap sejalan dengan idealisme nilai, norma, berikut kultur masyarakat luas, yang juga telah tertanam pada diri setiap pekerja melalui proses soialisasi sejak dini. Inilah mengapa terminus biopower kemudian berkaitan erat dengan “biopolitik”. Dengan kata lain, biopolitik menegaskan landskap sosial yang telah termapankan sebelumnya, melegitimasinya, dan menerapkannya bagi tujuan tertentu.[1] Lebih jauh, biopolitik memandang manusia sebagai spesies dan sumberdaya yang dapat dikontrol; baik dari segi natalitas maupun mortalitasnya, penciptaan atau peneguhan definisi sehat jasmani-rohani antar sesamanya, pelembagaan di bidang moral, estetika, dan lain sejenisnya yang menampakkan diri sebagai “kontrol halus” terhadap individu maupun kolektif.

Tak seperti di era klasik atau modern di mana biopolitik umum ter-representasi lewat eksistensi kerajaan atau negara yang memiliki kekuasaan legal-formal, kini biopolitik turut mewujud dalam korporasi atau perusahaan multinasional lintas-bangsa/negara. Keberadaan korporasi inilah yang kemudian turut diistilahkan sebagai imperium atau “kekaisaran” oleh Hardt dan Negri. Tak ada yang berubah dari cara kerja kekaisaran, sedari dulu ia berlaku layaknya “vampir” yang hidup dengan cara menghisap (darah) organisme hidup lainnya. Dalam konteks kapitalisme posmodern, kehidupan para pemodal di pusat sepenuhnya bergantung pada “kerja nyata” para pekerja di peri-peri. Pemodal ini dapat berada di suatu tempat (negara), dan para pekerjanya di tempat lain yang sangat berjauhan; sedang kehidupan para pemodal ini sesungguhnya bergantung sepenuhnya pada para pekerjanya.[2] Melalui konstelasi inilah biopower sengaja diproduksi biopolitik guna menunjang kehidupan imperium.

Biopolitik-power dan Implikasi Kemanusiaan
Telah jelas bagaimana karakteristik biopolitik yang memuat standar ganda. Di satu sisi, ia ditujukan untuk penciptaan biopower yang efisien sejalan dengan kultur masyarakat pekerja (keramah-tamahan, penerimaan, kenyamanan, dan lain sejenisnya); namun di sisi lain, pendayagunaan biopower menimbulkan eksploitasi berganda pada para pekerja. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, eksploitasi yang berlangsung tak sekedar menjamah aspek fisik, melainkan pula nonfisik (afeksi). Beralaskan folkways ‘kebiasaan sosial’ yang telah melembaga, dimensi “rasa” dari para pegawai ini dilumpuhkan. Kesadaran yang dibangun tak lagi bersifat spontan, tetapi dipaksakan oleh prosedur. Penghargaan asli dan palsu pun kian tersamarkan, dan agaknya, kita—sebagai konsumen—merasakan benar hal ini, keramah-tamahan yang disajikan seperti tembakan yang “menindak”diri kita; tak tahu bagaimana harus meresponnya karena memang kesemua itu adalah prosedur, dan kerap kali justru membuat kita “kikuk”. Kita digiring pada atmosfer yang sama untuk merayakan keramah-tamahan, sementara situasi perasaan dan kognitif kita belum tentu mendukung bagi kondisi tersebut. Akhirnya, kita melihat bagaimana keramah-tamahan diobral, mubazir, dan semua menemui bentuknya sebagai kepalsuan. Kita dipaksa merasa bahagia, merasa nyaman, juga dipaksa merasa diterima; kebahagiaan, kenyamanan, dan penerimaan yang bersifat artifisial karena bagaimanapun juga lokus utama dari minimarket tersebut adalah ekonomi—menjaring sebanyak-banyaknya pelanggan.

Dapatlah dibayangkan ketertindasan psikis para pegawai minimarket tersebut yang setiap waktu sarat beramah-tamah pada banyaknya pengunjung yang datang dan pergi, terlebih menilik kenyataan bahwa pembangunan setiap minimarket mempertimbangkan rasio kepadatan penduduk di setiap lokasi. Berbagai minimarket yang ada kemudian tak ubahnya sebagai ruang simulasi perasaan bagi para pegawainya, mereka tak lagi diharuskan menjadi manusia, melainkan melampauinya: menjadi “malaikat” yang wajib selalu bersikap baik lagi ramah; tak peduli saat itu mereka tengah bersedih, tertekan, atau mengalami kegalauan akut.

Kiranya, pengalaman penulis sebagai berikut turut mempermudah upaya pemaparan gejala “manusia bukan manusia” sebagai implikasi-ikutan dari hagemoni biopolitik-power.

Suatu malam, penulis membeli barang di minimarket dekat rumah. Seperti biasa, para pegawai menyapa dengan ramah. Saat tiba bagi penulis untuk membayar, pegawai kasir bertanya, “Ada kartu member-nya, Pak?”. “Tidak ada,” jawab penulis singkat. Sejurus penulis melangkah keluar, namun belum sampai pintu kaca terjamah, penulis teringat akan satu barang yang belum dibeli. Penulis pun bergegas kembali dan mengambil barang tersebut, dikarenakan situasi minimarket sedang sepi, penulis segera berhadapan kembali dengan pegawai kasir yang sama—tanpa mengantri. “Ada tambahan lain, Pak?” tanyanya pada penulis. “Tidak,” lagi jawab penulis singkat. Akan tetapi, alangkah terkejutnya penulis kala pegawai kasir ini mengajukan pertanyaan serupa sebagaimana perjumpaan sebelumnya: “Kartu member-nya ada, Pak?”. Gila! Batin penulis. Pengalaman ini tentu penulis catat sebagai sebentuk pelecehan terhadap kemanusiaan; pelecehan si pegawai terhadap dimensi kemanusiaannya sendiri, juga pelecehan terhadap penulis.

Jauh sebelumnya, Martin Heidegger telah mengingatkan kita akan “pola pikir teknologi” yang memunculkan terminus other atau “liyan”. Baginya, hal tersebut disebabkan oleh eksistensi kesadaran; kesadaran yang dimiliki manusia menyebabkannya memandang segala sesuatu sebagai obyek—terutama bagi entitas yang tak berkesadaran. Hal ini menimbulkan dikotomi antara “ada” dan “pengada”. “Ada” adalah semat bagi mereka yang berkesadaran, sedangkan “pengada” merupakan label bagi setiap entitas yang tak berkesadaran. Lebih jauh, pola pikir ini menyebabkan “ada” (manusia) menganggap segala sesuatu sebagai “pelengkap” keberadaannya (baca: kehidupannya).[3] Heidegger memberikan contoh apik tentang eksistensi “singa bukan singa” serta “harimau bukan harimau” di kebun binatang. Menurutnya, singa dan harimau yang ada di kebun binatang bukanlah singa atau harimau yang sesungguhnya. Hal ini mengingat, dikarenakan intervensi bernama “ada”, binatang-binatang tersebut dicerabut dari totalitas kehidupannya. Singa yang sesungguhnya tidaklah berada di kebun binatang dan terpenjara teralis besi, melainkan berkeliaran bebas di alam Afrika sana, begitu pula dengan harimau; harimau yang sesungguhnya tidaklah bertempat di kebun binatang, tetapi rimba belantara Asia atau Amazon sana.

Dalam konteks kapitalisme posmodern, “kaisar” melalui teknologi biopolitik dan biopower yang dimilikinya, berhasil menjadikan dirinya satu-satunya “ada” dengan kesadaran superior yang melindas “ada” lainnya (para pekerjanya) sehingga menjadikan “ada” lain sebagai “pengada”, other, obyek; yang dengan demikian bebas ditindak, termasuk agar merekayasa perasaannya, kesadarannya. Pegawai yang seyogyanya ingat dan tahu—jika penulis tak memiliki kartu member—kemudian sengaja menjadikan dirinya tidak ingat dan tidak tahu dikarenakan prosedur yang mengontrolnya; apalagi julukan yang tepat baginya kalau bukan “manusia bukan manusia”. Sekali lagi, pengkajian ini tak berada pada domain modernitas layaknya “perutinan berlebih” ala Weber, melainkan posmodernitas mengingat dimensi afeksi yang dibawanya.

Fenomena terkait agaknya turut mendorong kita meninjau kembali tesis Robert Pepperell tentang era posthuman ‘pascamanusia’. Bisa jadi, Pepperell terlampau terburu-buru mendaulat era posthuman yang bermula dari fenomena “prostetik”, yakni penanaman mesin anorganik pada bagian-bagian tertentu tubuh manusia, hingga wujudnya yang paling canggih, cyborg (cybernetic organism): manusia setengah robot. Menilik gejala “manusia bukan manusia” di atas, kiranya keberadaan prosedur bagi para pegawai dapat ditempatkan sebagai software yang mengontrol segenap biopower-nya. Prosedur ini merupakan entitas anorganik yang memiliki kontrol penuh terhadap entitas organik, namun hubungan keduanya tak bersifat eksternal, melainkan internal, seolah prosedur tersebut tertransfer dengan sistem bluetooth kemudian tertanam di kepala masing-masing pegawai, mengkooptasi kesadaran dan perasaannya. Hal ini kiranya cukup mentransformasi kebertubuhan pegawai menjadi “benda”, atau yang lebih moderat, “setengah benda”.  

Refleksi
Menjadi begitu jelas betapa sesungguhnya kekaisaran (korporasi) sangat bergantung pada kerja nyata para pekerjanya yang berhadapan langsung dengan pasar. Namun, hagemoni kerja imaterial, di samping material, yang memunculkan over-Eksploitasi seakan tak terhindarkan. Di era informasi dan komunikasi dewasa ini, tentu menjadi hal yang tak sulit menghimpun para pekerja ke dalam satu lini gerakan. Akan tetapi, ini akan menjadi perkara sia-sia mengingat masih banyaknya cadangan tenaga kerja usia produktif di tanah air. Hidden resistance ‘perlawanan terselubung’ mungkin dapat menjadi salah satu alternatif, tetapi, format hidden resistance seperti apa yang sesuai bagi situasi para pegawai minimarket ini? Pertanyaan terkait tentu memerlukan pengkajian lebih lanjut. Sejauh ini penulis menimbang, ihwal termudah guna merespon hagemoni kerja imaterial adalah dengan “otentitas”. Otentitas yang dimaksud tak lantas mendorong pegawai untuk berani menjadi “berbeda” dari yang lainnya—agar menjadi percontohan bagi para pegawai lainnya, melainkan “ketertundukan terhadap diri”: melakukan apa yang ingin dilakukan, dan sebaliknya, tak melakukan apa yang tak ingin dilakukan. Konkretnya dalam konteks ini; beramah-tamah jika sedang ingin melakukannya, dan tak beramah-tamah jika kognitif memang tengah tak mendukung untuk melakukannya.


*****
Bacaan lanjutan;
Adorno, Theodor W. & Max Horkheimer, 2002, Dialektika Pencerahan, IRCiSoD.
Hardt, Michael and Antonio Negri, 2009, Commonwealth, The Belknap Press of Harvard University Press.
______________., 2000, Empire, Harvard University Press.
______________., 1994, Labor of Dionysus: A Critique of the State-Form, University of Minnesota Press.
Pepperell, Robert, 2009, Posthuman: Kompleksitas Kesadaran, Manusia dan Teknologi, Kreasi Wacana.






[1] Contoh biopolitik yang cukup paripurna kiranya ter-representasikan melalui pemerintahan Nazi-Hitler di mana ekspansi geografis bersinggungan dengan kalkulasi-kalkulasi biologis layaknya superioritas ras, lebensraum ‘ruang hidup’, “ladang reproduksi”, juga the final solution (holocaust).
[2] Dalam bahasa Soekarno: “kapitalisme Nyi Blorong”; kepala dari ular itu ada di nusantara, sedangkan buntutnya di Eropa sana.
[3] “Pengada” adalah pelengkap “ada”, dengan demikian “pengada” lebih inferior ketimbang “ada”.

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger