"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 21 Maret 2015

“MR 73”: Tinjauan Psikoanalisis Tokoh dan Kejadian

“MR 73”: Tinjauan Psikoanalisis Tokoh & Kejadian
TRANSKRIP Bedah Film @Bentara Budaya Bali, 15/03/15


Wahyu Budi Nugroho

Pendahuluan
Baik ketiga tokoh yang disorot dalam film ini: inspektur polisi, Schneider; Justine; dan tersangka pembunuh berantai, Subra; ketiganya merupakan “orang sakit”. Schneider yang kecanduan alkohol akibat kematian istri dan anaknya, Justine yang mengalami trauma dan keparanoidan akut akibat pembantaian kedua orang tuanya, serta Subra sendiri sang psikopat pembunuh berantai.

Schneider & Justine
Kedua tokoh ini mengalami trauma dalam hidupnya; trauma, dalam bahasa Yunani berarti, “luka yang membekas”. Trauma inilah yang kemudian menyebabkan keduanya merasa terdapat kekurangan atau “kekosongan” dalam dirinya untuk dipenuhi; Schneider yang menghendaki istri dan anaknya kembali, kemudian memanipulasinya dengan minum-minuman keras (baca: alkohol); Justine yang begitu kekurangan akan rasa aman, lalu memenuhinya dengan fantasi tentang si pembunuh berantai. Dalam ranah psikologi, apa yang menimpa mereka disebut “katarsis”; yakni penghempasan kekalutan pada hal lain.

Sebetulnya setiap kita pun memiliki kekosongan, celah; karena manusia merupakan makhluk berkesadaran. “Aku sadar akan diriku”, ada dua “aku” di situ, antara “aku” pertama dan “aku” kedua terdapat jarak atau kekosongan yang menuntut untuk diisi. Hanya saja, kekosongan yang kita alami tak separah dan seakut Schneider serta Justine. Sedangkan jika kita bandingkan dengan benda, benda itu tidak memiliki celah atau kekosongan; ia solid.

Namun demikian, sesungguhnya penyakit yang dialami Schneider dan Justine lebih parah ketimbang Subra. Baik Schneider dan Justine secara aktif menghancurkan (baca: membunuh) dirinya sendiri, sedang tidak Subra yang berhasrat membunuh orang lain. Dalam batas-batas tertentu, secara naluriah, menjadi wajar ketika manusia berhasrat mengeliminasi manusia lain—bukan dirinya sendiri (homo homini lupus).

Psikopatologi
Secara tidak langsung, film ini ingin mengatakan bahwa psikopat ada di sekitar kita; dan ini benar adanya. Beberapa waktu lalu, Prof. Dr. Azrul Azswar dari kemenkes mengatakan bahwa “satu dari empat orang di Indonesia menderita sakit jiwa”—ini artinya, kalau tiga teman Anda baik-baik saja, berarti Anda yang sakit jiwa. Ada di sini yang psikopat? Salah satu ciri psikopat itu menganggap diri lebih tinggi, lebih spesial, atau lebih penting dari orang lain. Nah ini, jangan-jangan kita jadi psikopat karena diciptakan lingkungan. Seorang psikopat tidak untuk dilahirkan, tetapi diciptakan. Coba lihat iklan-iklan di TV sekarang, semua menekankan betapa spesialnya diri kita: “Karena Anda begitu spesial…”.

Sama seperti fenomena penembakan sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Para pelakunya adalah psikopat yang dihasilkan (diciptakan) oleh lingkungan, dalam hal ini media: game. Game seperti tembak-tembakan membuat mereka larut dalam apa yang diistilahkan Baudrillard sebagai “hiperrealitas”: ihwal yang melampaui kenyataan. Ini pada akhirnya membuat mereka tak bisa membedakan antara mana realitas (kehidupan nyata) dengan kehidupan khayal (kehidupan artifisial/buatan yang diciptakan oleh media); jadilah koboi-koboian di sekolah atau jalanan.

Hal yang menjadi persoalan adalah, film ini menggiring pandangan kita bahwa psikopat adalah orang yang dicirikan dengan penampilannya yang lusuh, rambutnya yang acak-acakan, dan tak punya pekerjaan jelas. Padahal, psikopat bisa jadi siapa saja; bahkan bisa saja polisi. Seperti beberapa waktu lalu, ada kasus karyawan perusahaan di Bali yang bekerja sambilan sebagai guide, dan dia membunuh turis-turis yang dipandunya, turis yang jadi sasarannya selau turis Jepang; entah kenapa. Secara pembawaan, karyawan ini sopan, murah senyum, dan baik. Tak ada yang menyangka kalau dia bisa membunuh; tapi kenyataan berkata lain.

Demonstration Effect
Sebetulnya, dengan mengangkat (baca: membuat) film ini, sesungguhnya si produser/sutradara membuka kemungkinan/potensi pada penonton untuk meniru tokoh psikopat yang ada di film ini. Mengapa? Karena seperti diutarakan Veblen, media (baca: TV) memiliki demonstration effect ‘efek demontrasi’. Siapa tahu kebut-kebutan motor di jalan itu terpengaruh (terinspirasi) setelah menonton tayangan balapan motor GP?. Di Amerika Serikat misalnya, kejar-kejaran mobil antara sipil dengan polisi itu hampir jadi makanan tiap hari. Ini karena di setiap film Hollywood selalu menampilkan adegan kejar-kejaran mobil; coba Anda amati film-film Hollywood, tak satu pun yang tak ada adegan kejar-kejaran mobil. Seperti kasus begal motor di tanah air, awalnya sedikit, tapi karena kemudian diangkat di televisi, lalu jadi banyak. Saya yakin tak semua dari begal motor itu awalnya betul-betul serius dan niat melakukan aksi begal; tapi karena mereka mendapat “banyak contoh” dari TV, mereka pun lalu ikut-ikutan. Nah, ini seperti ungkapan Johan Huizinga bahwa manusia adalah homo ludens ‘makhluk yang suka bermain-main’.

Seperti yang pernah saya bilang juga ke mahasiswa-mahasiswa saya; cara paling mudah melihat efek film atas individu atau publik itu mudah. Tunggu dan berdiri saja di dekat pintu exit bioskop. Kalau habis nonton film action, biasanya orang keluar sambil petantang-petenteng, tapi sebaliknya kalau habis nonton film romantis, wajahnya melankolis.

Apabila ini kisah nyata, maka film ini justru melipatganda teror. Seperti wawancara yang dilakukan Giovanna Borradori pada Jurgen Habermas dan Jacques Derrida tentang WTC (2001); tayangan yang berulang-ulang tentang tragedi WTC itu justru melipatganda teror bagi masyarakat.

Subra
Tokoh ini pun sebetulnya juga korban; kenapa ia bisa jadi seorang psikopat? Ingat, seorang psikopat tidak untuk dilahirkan, tapi diciptakan. Dalam film serupa—film-film psikopat—seperti Hannibal misalnya, di seri pertama dan kedua, ditampakkan sekali kalau Hannibal merupakan sosok yang bersalah. Baru di sekuel selanjutnya dijelaskan bagaimana proses Hannibal menjadi seorang psikopat. Dari situ kita tidak bisa lagi secara serampangan mengatakan bahwa Hannibal adalah sosok yang benar-benar bersalah; ia menjadi psikopat juga disebabkan oleh orang lain; bukan salahnya sendiri. Seperti para pelaku sodomi misalkan, nyatanya sebagian besar pelaku sodomi adalah mereka yang pernah menuai pengalaman serupa sewaktu kecil. Nah, ini kita kembali ke konsep katarsis: penghempasan kekalutan pada hal lain atau orang lain.

Film ini, sejak awal sudah menempatkan sang psikopat sebagai sosok yang bersalah dan jahat. Kalau kita gunakan konsep camera lucida dari Roland Barthes; mata kamera itu selalu bersifat satu dimensi; dimana ada citra yang ditampilkan, di situ selalu ada citra yang disembunyikan. Nah, tokoh yang paling banyak disorot dalam film ini adalah Schneider dan Justine, menjadi mudah bagi kita untuk mengidentifikasi siapa pemeran utamanya, juga siapa yang baik, dan siapa yang jahat. Sama seperti sekarang, karena banyak mata memandang ke arah saya, seolah sayalah yang jadi tokoh utama dalam acara ini; saya menjadi sentris, pusat. Padahal belum tentu analisis saya lebih bagus ketimbang kalian yang duduk di sana memperhatikan saya. Bisa jadi, kalian yang lebih pantas berada di depan sini untuk “berkhotbah”.

Konsep camera lucida-Roland Barthes di sini juga tampak lewat ketidaklengkapan alur film; ada yang sengaja disembunyikan. Dalam hal ini, kisah atau proses Subra menjadi seorang psikopat. Seolah di-cut begitu saja, dan tiba-tiba kita mendapati sosok Subra sebagai yang jahat. Dalam film ini, sekali lagi, saya memandang, Schneider dan Justine lah yang sebetulnya jauh lebih bermasalah.

Motif Pembuat Film: Tinjauan Psikoanalisis Media
Kita berhak bertanya ihwal seputar motivasi produser atau sutradara MR 73 membuat film ini. Kalau kata Feurbach, produser atau sutradara yang membuat film sebetulnya tengah merefleksikan kehidupannya sendiri. Dalam arti, ketika ia mendapati ketidakpuasan dalam dirinya atau hidupnya, ia mensubstitusi hidupnya dengan kehidupan tokoh utama yang diciptakannya dalam film. Di sini kita kembali pada katarsis; yakni film sebagai sarana penghempas kekalutan pembuatnya. Bisa jadi sang pembuat film ingin membagi pengalamannya terteror/terintimidasi pada khalayak. Penerawangan ihwal seputar motivasi pembuat film memang sangat samar, ini seperti menerawang motivasi “wanita yang merokok”; apakah wanita yang merokok itu betul-betul menginginkan rokok tembakau, atau jangan-jangan “rokok-rokok yang lainnya”; sementara rokok tembakau sekedar digunakannya untuk mensubstitusi atau memanipulasi keinginan lain yang sesungguhnya.    

Penutup
Pada akhirnya, saya menemui simpulan bahwa apa yang sebetulnya diharapkan sang inspektur polisi, Schneider, dan si wanita bernama Justine, adalah kematian dirinya sendiri. Ini seperti konsep the lost paradise ‘surga yang hilang’; bahwa apa yang sebetulnya kita cari “di luar sini” adalah kenyamanan dan keamanan seperti saat dikandung ibu. Schneider yang mengharap kenyamanan saat berkumpul dengan anak-istrinya, serta Justine yang mendamba keamanan ketika kedua orangtuanya masih hidup. Tegas dan jelasnya, Schneider dan Justine sebetulnya merupakan sosok (tokoh) yang jauh lebih berbahaya ketimbang si pembunuh berantai, Subra.


*****

Berita;


0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger