"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 03 Maret 2016

TEROR

TEROR

Wahyu BN

            Teror adalah ketika seorang mahasiswi menelponmu di subuh buta dan mengatakan dirinya telah berada di depan kontrakanmu.
            “Ya???” aku masih setengah sadar, dan kupikir, nomornya juga tak tercatat di Lenovo-ku.
            “Saya ada di depan rumah kontrakan Bapak, Pak,”
            “Hah?”
            “Iya, saya sudah di depan…,”
            “Oh….,” apa dia mau bimbingan skripsi, ya? Tapi kok, pagi-pagi gini, sih? Ini kan’ belum masuk jam kerjaku.
Aku masih belum sadar.

            Segera kubilas muka dan berjalan malas menuju pintu depan. “Maunya apa, sih? Ganggu banget,” batinku.
            Kuusap mata sekali lagi, dan memang, ada sesosok perempuan tengah berdiri di luar pagar kontrakanku, itu tampak lewat rambut panjangnya yang sesekali terterpa sinar putih lampu pinggir jalan.
            Kubuka pagar yang tak pernah tergembok, melainkan sekedar menggeser besi panjang penguncinya keluar tembok.
            Ya, aku mengetahui mahasiswi ini, tapi tak mengenalnya. Ia bukan mahasiswiku, melainkan mahasiswi prodi lain. Wajahnya cukup familiar, ia selalu datang di acara-acaraku; entah seminar yang kuisi, dialog publik, juga seingatku, di bedah bukuku; ya, wanita ini hadir di acara itu dan duduk di barisan bangku paling depan.
            “Eh, kamu… Siapa namamu?”
            “Emm, nanti Bapak juga tahu siapa nama saya,” jawabnya sambil tersenyum malu.
            Ia tampak membawa dua bungkusan kantong plastik dengan warna berbeda. Satu bungkusan teridentifikasi olehku, semacam gelas-cup yang menunjukkan lekuknya tertahan plastik putih, sedang satu bungkusan plastik berwarna merah muda tak bisa kutebak.
            Oke, aku memang berharap ia langsung memberikan kedua bungkusan itu dan segera pergi sehingga selesai sudah urusanku dengannya. Tapi, bagaimana kutahu jika bungkusan itu untukku? Ah, ini kan’ seperti kebiasaan mahasiswa pada umumnya yang begitu dermawan terhadap dosen. Seyogyanya, aku memang tak boleh menerimanya; itu gratifikasi, dan itu tergolong korupsi! Tapi, hendak bagaimana lagi, aku kadung bersumpah baru bakal tak korupsi kalau Ahok jadi presiden. Aku tak mau melanggar sumpahku karena itu juga dosa.

            “Saya masuk ya, Pak,” itulah yang seketika diucapnya sambil berjalan melewatiku.
            Aku terbengong. “What the… Apa-apaan ini?! Ia masuk begitu saja tanpa kupersilakan!” teriak batinku. “Ya, aku memang dekat dengan mahasiswa, tapi bukan begini juga caranya! Dimana-mana tamu baru masuk kalau sudah dipersilakan tuan rumah!” lanjut teriak batinku.
            Sesaat ku terdiam memandang jalan sambil menahan dongkol yang teramat-sangat, mau tak mau, harus kuikuti dirinya masuk ke dalam.
            Ia telah berada di ruang tamu dan seakan telah akrab dengan ruangan itu, padahal ia baru sekali ke sini. Sejurus kurasa; akulah tamunya, dan ia tuan rumahnya. Eh, apakah aku masih belum sadar benar?

            “Ini Pak, saya bawain kopi sama jajanan pasar,” itu adalah dua bungkusan yang dibawanya tadi.
            “Oh ya, makasih.” Balasku sekedarnya. Moga ia bisa membaca rautku yang datar dan menyirat ketidakantusiasanku atas apa yang diperbuatnya; aku tak pernah sejengkel ini pada mahasiswa. Tapi tampaknya, itu sia-sia. Ia mulai berbicara dengan kata-kata yang tak ku mengerti.
            Segera kuambil rokok di permukaan meja. Rokokku memang ada dimana-mana; di tempat tidur, di meja makan, di dapur, di toilet, bahkan juga di ruang kamar yang kujadikan mushola. Harapku, kusesaki seisi ruang tamu dengan kepulan asap sehingga dirinya tak tahan dan segera pulang. Tapi tampaknya, itu juga sia-sia. Agaknya ia sudah “terlatih” dengan asap rokok.
            Seketika, terlintas asa jahat di pikiranku: “Andai sekarang ada gempa besar tuk mengakhiri pertemuan tak bermutu ini… Eh, tapi kalo ada gempa besar, rumah ini kan’ ikut roboh. Ya, nggak apa-apa ding’, kan’ bukan rumahku, aku cuma ngontrak di sini. Besok tinggal pindah ke kosan aja yang lebih murah, hehe”
            Tentu, asaku tak masuk akal, bahkan jauh lebih tak bermutu timbang pertemuan ini.
            …hingga pada akhirnya, kupahami perkataannya; apa yang dibicarakannya. Itu saat dirinya meletuskan serangkai kata-kata berikut dengan keras lagi tegas: “Saya cinta bapak! Saya mau dengan bapak! Saya akan lakuin apa aja buat sama bapak!”
            “Emang aku bapakmu, po?” batinku. Duh, aku masih sempat juga bercanda dengan diriku.

Segera ku berpikir keras tuk meresponnya…

            “Heh … asal kamu tahu ya, aku ini … HOMO.”
            “Halah! Bapak nggak usah cari-cari alasan! Pokoknya saya maunya cuma sama bapak! Kalau bapak nggak mau sama saya, saya bakal bunuh diri!” dikeraskannya ucapan itu sambil diambilnya sebilah pisau yang disembunyikan di balik kaos hitam ketatnya.
            Sama sekali tak kusangka mahasiswi ini membawa pisau, oh, sepertinya anggapanku ihwal betapa amannya lingkungan di sini sarat kurevisi—macam skripsi aja, Jon!
            “Kalau bapak tidak mau … saya bunuh diri sekarang juga di sini…” ucapnya kali ini lirih sambil mengacungkan pisau itu persis di depan mukanya yang memelas.
            “Ya udah, kamu bunuh diri aja, itung-itung ngurangin kepadatan penduduk. Toh, bentar lagi kita juga bakal kena bonus demografi,” balasku tanpa perasaan.
Kalian tentu tahu, aku tak bersungguh-sungguh dengan ucapan ini. Kugunakan “psikologi terbalik” tuk menyurutkan niatnya, pun kuyakin, ia tak bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

            “Tapi, sebelum saya bunuh diri … bapak harus mati dulu!”
           
            Aku terkejut. Ini tak main-main. Ia memang bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Aku tak boleh lagi bercanda dengannya atau dengan diriku sendiri. Aku benar-betul dalam kondisi viverepericoloso! Situasi hidup-mati! Aku betul-betul bisa tinggal nama siang nanti!
             Ia beranjak dan segera melangkah mendekat sambil mengacungkan pisau itu ke arahku. Mata pisau itu benar-benar tertuju padaku! Aku takut dan gemetar. Aku betul-betul terTEROR.
Tangan kiriku segera bergerilya meraba halus lipatan bantalan sofa dengan perlahan. Seingatku, kusimpan juga satu revolverku di situ. Asal kalian tahu, revolerku, sama seperti rokokku, kuletakkan di banyak tempat; ada yang di kamar tidur, dapur, toilet, juga di mushola. Tapi, untuk apa revolver sebanyak itu? Hehe, simpel: aku suka menembaki cicak. Menurut ajaran agamaku, membunuh cicak itu berpahala. Cicaklah yang meniupi api Abraham sehingga kobarnya kian menggeliat. Ya, itulah sunnah favoritku: menembaki cicak. Dan, sebagai dosen, kumiliki banyak waktu luang tuk menambal dinding-dinding yang bolong akibat kebrutalan peluru-peluru yang kutembakkan. Betul sekali, mencabuti proyektil dan menambal dinding-dinding yang bolong adalah hobiku di kala senggang. Tak ada lagi lagu “Cicak-cicak di Dinding”. Tak ada.
Segera kutarik revolver yang telah teraba yakin di bawah bantalan sofa, kutarik pelatuknya, dan kuarahkan padanya; pada mahasiswi itu.
“Kalau kamu coba mendekat lagi, kutembak!” ancamku.
Ia sempat tersentak, tapi itu tak lama, ia segera kembali ke laku semula: terus mencoba mendekatiku sambil mengacungkan pisaunya ke arahku.
“Heh! Aku nggak main-main!” segera kuarahkan revolver tepat ke pelipis kiri samping matanya, jaraknya tak sampai satu meter dari tempatku membidik.
Ia terus saja mendekat pelan, tampaknya ia juga tak main-main, niatannya membunuhku memang sudah bulat; ngerinya, ia sama sekali tak berkata-kata saat terus mendekat dan mendekat.

“Dorrr!!!”

Ia ambruk menimpa meja sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Darah segar tertumpah di sekitarannya, meja dan sofaku tak luput terciprat. “Pasti tengkoraknya pecah,” pikirku saat melihat kondisinya yang tak lagi bernyawa. Itu tampak jelas lewat mata kirinya yang sedikit menyembul ke permukaan. Bagusnya, tetanggaku takkan curiga dengan bunyi letupan barusan, pasti dikiranya aku tengah menembak cicak seperti biasa.
Apakah aku was-was? Tentu. Ini kali pertama kubunuh manusia, bukan cicak.
Segera kuletakkan revolver di genggaman tangan kanannya. Itu kulakukan agar seolah ia terlihat bunuh diri karena kutolak cintanya. Eh, tapi mana mungkin polisi dan orang-orang percaya kalau aku punya penggemar militan macam ini. Lalu, apa motifku? Membela diri? Lha, ini, pisau yang digunakannya sudah kupegang, pastilah menipak jelas sidik jariku.
Tanpa pikir panjang, kuambil revolver yang digenggam pasrah tangannya, kutarik pelatuknya dan kutempatkan tepat moncongnya ke tengah-tengah jidatku. “Aku juga sudah bosan dengan pekerjaanku; terlalu bebas, terlalu banyak waktu luang…”

“Dorrr!!!”


Denpasar, 03.03.16

1 komentar:

Indra Jaya Kurniawan mengatakan...

wow sharing yang keren kak.. kalau ingin tahu tentang cara membuat toko online yukk disini saja. terimakasih

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger