"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Sabtu, 14 Mei 2016

Degradasi Komunikasi Media Sosial

Degradasi Komunikasi Media Sosial


Era internet ini menyebabkan kita masuk dalam era masyarakat jejaring atau “masyarakat jaringan”. Era internet ini juga melahirkan apa yang disebut sebagai “masyarakat informasi”. Dalam era ini, masyarakat tak hanya bertindak selaku konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi. Jika dahulu sebelum adanya internet komunikasi media cenderung bersifat satu arah, kini dengan adanya internet, respon balik masyarakat atas suatu informasi dapat berlangsung dengan demikian cepat dan efisien. Namun hal ini seringkali menimbulkan kebingungan masyarakat. Facebook misalkan, dengan adanya pembaharuan “status” dan komentar di setiap detik, dan berlaku di seluruh dunia; seolah menandakan bahwa kini informasi bisa datang dari manapun; tiap-tiap orang dapat menjadi sumber informasi, terlebih kini begitu mudah membuat kanal-kanal berita seperti blog, dan terutama website.

Mengutip Kireon O’hara, apa yang kita hadapi kemudian di era internet ini adalah bercampur aduknya antara “pengetahuan benar”, “pengetahuan salah”, dengan “keyakinan”. Pengetahuan salah adalah pengetahuan yang belum terklarifikasi, seringkali lebih menonjolkan sisi bombastis demi kepentingan rating, bahkan sama sekali mengada-ada. Sementara, keyakinan adalah keyakinan si penulis artikel atau berita itu sendiri di dunia maya. Pengetahuan-keyakinan di sini lebih menemui bentuknya sebagai provokasi ketimbang berita yang layak baca, dan ini berbahaya jika diamini begitu saja.

Implikasi lain yang muncul dari era kemudahan berkomunikasi ini adalah apa yang bisa kita sebut sebagai “degradasi komunikasi”. Degradasi komunikasi menunjuk pada “menurunnya kualitas komunikasi” atau “komunikasi yang kehilangan makna”. Dikarenakan saat ini berkomunikasi menjadi begitu mudah bagi setiap orang—kapan pun dan dimana pun—kerap kali ihwal yang muncul kemudian adalah “berita-berita yang tak penting”, tak layak, bahkan tak seharusnya diposting. Informasi-informasi tak layak konsumsi tersebut dapat kita sebut sebagai “sampah visual” karena sama sekali tak berguna bagi kita, dan karena ia selalu muncul di beranda media sosial, ia dapat pula kita sebut sebagai “pemerkosaan visual”—sesuatu yang seharusnya tak perlu kita konsumsi tapi mau tak mau harus dikonsumsi karena selalu muncul di beranda (media sosial).

Lalu, bagaimana cara membangun komunikasi yang berkualitas? Ada satu rumusan menarik dari pakar komunikasi asal Inggris, George Mierson, yakni apabila dalam satu jam lebih dari tiga ribu kata keluar dari mulut kita, maka dapat dipastikan itu adalah “komunikasi sampah”. Mengapa? Karena pasti banyak hal tak penting yang disampaikan.

Ah, apa iya?

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger