"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 03 Mei 2016

Sanglah Institute for Individual Emancipation

SANGLAH INSTITUTE FOR INDIVIDUAL EMANCIPATION


"Emancipate yourself from mental slavery, none but ourselves can free our minds."
(Bob Marley, from Marcus Mosiah Garvey, Jr.)

Bagaimana terjemahannya dalam bahasa?
“Institut Sanglah untuk Pembebasan Individu”, atau: “Institut Sanglah untuk Kemerdekaan Individu”.

Apa itu Sanglah Institute for Individual Emancipation?
…merupakan lingkar studi atau komunitas studi yang selalu menggunakan sudut pandang “aktor”, subyek, atau individu dalam merespon serta memberi rekomendasi atas beragam (fe)nomena sosial yang terjadi.

Kapan berdirinya?
Embrio dari institut ini adalah komunitas diskusi LOGOS (Lingkar Studi Mikrososiologi Universitas Udayana) yang biasa menghelat diskusi di seputaran daerah Sanglah, Denpasar—para intelektual gangster yang biasa bergentayangan di sekitar Sanglah. Seiring berjalannya waktu, mengingat mereka yang berpartisipasi dalam diskusi ini kian beragam dan merepresentasi latar belakang disiplin keilmuan yang berbeda—antropologi, sastra, sejarah, arkeologi, politik, pertanian, dan lain sebagainya—maka lahirlah ide untuk membentuk suatu institut guna menampung dan mensistematiskan beragam pemikiran dengan sudut pandang dan semangat yang sama: nominalisme sosial serta pembebasan individu.

Sanglah Institute diresmikan berdiri pada 19 April 2016, sehari pasca Gede Kamajaya memenangkan kasusnya di tingkat kasasi (Mahkamah Agung). Kemenangan Kamajaya atas institusi yang digugatnya kian meyakinkan kami bahwa entitas individu “dapat bertindak lebih”; memiliki bargaining position ‘posisi tawar’ di hadapan struktur, serta menunjukkan secara nyata bagaimana pilihan personal individu dapat berimplikasi luas terhadap struktur maupun khalayak luas—“Ketika aku memilih, aku memilih untuk seluruh umat manusia”. Serangkaian hal tersebutlah yang kian mendorong kami untuk segera meresmikan pendirian Sanglah Institute sebagaimana telah dicita-citakan sebelumnya.

Pembebasan individu seperti apa yang dimaksud?
Keyakinan kami bahwa manusia merupakan makhluk sui generic, berimplikasi pula pada keyakinan bahwa seyogyanya tata sosial, budaya, ekonomi, politik, dan agama tak seharusnya membatasi, menghambat, atau mematikan potensi berikut kreativitas individu; terlebih menjauhkannya dari pola pikir kritis. Kami yakin; tata sosial, budaya, ekonomi, politik, dan agama yang mengungkung individu merupakan produk regime of significant (regimo significato) atau “rezim penafsir” yang kental akan kepentingan-kepentingan tertentu dan bias kekuasaan. Oleh karenanya, superstruktur yang demikian sarat dikritisi, dikompromikan, dinegosiasikan ulang, bahkan lebih jauh: dirombak. Seyogyanya, serangkaian superstruktur tersebut bukannya menghambat individu, melainkan menjadi sarana individu untuk beraktualisasi dan mengekspresikan semesta kemanusiaannya—“Setiap manusia terlahir bebas, tetapi dimana-mana ia terbelenggu”.

Apakah Institut Sanglah mempropagandakan individualisme?
Jawaban yang tepat adalah: Institut Sanglah berupaya meluruskan dan menegaskan kembali perbedaan antara pengertian “individualisme” dengan “antisosial” yang selama ini telah disalahartikan secara luas dan kian jauh dari pengertian semula. Bagi kami, “antisosial” menunjuk pada sikap antimasyarakat, anti-Individu lain; sebentuk sikap egois yang mementingkan diri sendiri. Inilah mengapa, tindakan korupsi misalnya, meskipun dilakukan secara berjamaah, dapat dikatakan sebagai bentuk tindakan antisosial.

Sementara, individualisme bagi kami, lebih merupakan pemahaman yang menekankan arti penting kemandirian individu, terutama dalam berpikir dan menafsir—sapere aude ‘berani berpikir sendiri’. Individualisme mengingatkan manusia untuk menimbang terlebih dahulu berbagai konstruksi sosial yang ada di sekitarnya; bahwa berbagai konstruksi tersebut tak seharusnya diterima begitu saja tanpa dipertanyakan, dan diketahui maksud berikut tujuannya; bahwa berbagai konstruksi tersebut sejatinya turut dibuat oleh para primus interpares (individu-individu berpengaruh) yang memiliki akses terhadap kekuasaan.

Individualisme, sebagaimana awal pemahaman ini muncul dan menyerua; merupakan buah pemikiran yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan; betapa individu sarat memiliki kedaulatan yang sama di hadapan negara, masyarakat, atau institusi lainnya. Dengan demikian, individualisme bukanlah suatu arus pemikiran tentang antimasyarakat atau anti-Individu lain, juga bukan sebagai egoisme yang mengutamakan kepentingan diri ketimbang orang banyak. Individualisme berupaya memanusiakan manusia, pun menentang segala bentuk praktek yang menciderai kemanusiaan, dan atau, merendahkan martabat kemanusiaan. Individualisme berupaya membentuk “masyarakat manusia”, bukan masyarakat massa.

Bagaimana Institut Sanglah memandang masyarakat?
Eksistensi masyarakat diakui sejauh ia merupakan kategori abstrak yang berisi kumpulan individu dengan kepentingannya masing-masing. Masyarakat dibentuk oleh individu-individu berpengaruh, dan terus melanggengkan diri lewat produksi makna serta pikiran dari individu-individu tersebut.

Apa tujuan didirikannya Institut Sanglah?
Melahirkan aktor dan agen sosial; yakni mereka individu-individu yang resilien, otonom, otentik, individu yang berdaya dan berani menegaskan haknya di hadapan struktur atau lingkungan sosial yang tak memungkinkan bagi tumbuh-kembang potensi berikut daya kreativitasnya. Tegas dan jelasnya, Institut Sanglah berupaya melahirkan “gerakan individual”.

Apa yang dimaksud dengan gerakan individual?
Gerakan individual tentu berbeda dari gerakan sosial, gerakan individual sepenuhnya bertumpu pada dimensi keaktoran individu, dan lahir melalui proses individual empowerment ‘pemberdayaan individu’. Munculnya gerakan individual didasari oleh keyakinan bahwa “individu dapat bertindak lebih melampaui dirinya” (persoalan seputar gerakan individual dan pemberdayaan individu akan dijelaskan dalam publikasi-publikasi kami selanjutnya).

Apa saja kegiatan Institut Sanglah?
Terdapat tiga kegiatan utama, yaitu; diskusi, publikasi, dan advokasi. Berbagai hasil diskusi dan pemikiran Institut Sanglah dipublikasikan pada Buletin Emansipasi dan Jurnal Liberasi yang berada di bawah naungan lembaga penerbitan Liberasi. Adapun kegiatan advokasi dari Institut Sanglah sementara ini difokuskan pada persoalan transparansi rekrutmen CPNS. Berkaca melalui gugatan yang dilayangkan Gede Kamajaya, Institut Sanglah berupaya melakukan pendampingan bagi mereka yang menilai kurangnya transparansi atau menemui kejanggalan dalam proses rekrutmen CPNS.

Apa harapan ke depannya?
Institut Sanglah menjadi semacam mazhab atau aliran pemikiran yang aktif menelurkan kajian, pemikiran, serta teori dalam perspektif aktor atau mikrososial, pun aktif bergerak di ranah emansipasi individu.

“Homo sum; humani nil a me alienium puto.”
[“Aku manusia; tak ada manusia lain yang asing bagiku.”]
(Publius Terentius Afer)

0 komentar:

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger