"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 16 Oktober 2011

Buku Diary Abad Ini

Analisis: Perilaku di Jejaring Sosial Dunia Maya
Buku Diary Abad Ini
Oleh: Koko Wijayanto
Universitas Gadjah Mada

        
    Anggapan bahwa facebook adalah media komunikasi internet popular saat ini memang tidak diragukan lagi kebenarannya. Dengan adanya facebook yang lengkap dengan beberapa aplikasi di dalamnya, dapat digunakan sebagai alat yang tepat untuk mempermudah komunikasi dengan para pengguna lainnya. Hingga pada perjalanannya muncul grup-grup yang berfungsi menyatukan persamaan ideologi, hobi, gaya hidup sampai halnya bisnis. Selain mempermudah dalam komunikasi, adanya jejaring sosial ini disadari telah mempercepat tercapainya informasi tanpa memperhitungkan jarak maupun waktu. Pada prinsipnya, orang lain dapat berbagi informasi dengan orang lain kapanpun dimanapun dengan pendukung media internet.

Layanan jejaring sosial yang diluncurkan tahun 2004 yang lengkap dengan fitur-fitur pendukung komunikasi kiranya mudah dan sederhana untuk dioperasikan. Berdampingan dengan itu, beberapa fitur terus dikembangkan hingga saat ini. Salah satunya adalah “dinding” yang terdapat di setiap halaman profil pengguna, yang berfungsi bagi pemilik account lain-yang sudah menjalin pertemanan-dapat mengirimkan pesan maupun berbagi informasi. Istilah yang akrab di sebut dengan “update status”, memungkinkan pengguna untuk memberitahukan mengenai keberadaan, aktifitas, kondisi dan lain sebagainya.

Dalam hal yang sama, facebook juga telah memudahkan seseorang untuk menginterpretasikan isi hati melalui tulisan maupun simbol sederhana. Kendati demikian, percakapan dengan para pengguna lain-yang sudah terhubung-dapat berjalan. Secara tidak langsung, tanpa harus bertanya pada pemilik account, orang lain dapat mengetahui keberadaan, aktifitas hingga kondisi sikologis dapat diketahui. Sekedar proposisi, bahwa dari tulisan ataupun simbol yang ia buat, dapat mencerminkan pribadi maupun hal yang terjadi pada seseorang tersebut. Misalnya, orang yang sedang mengalami stress dengan problem lingkungan, pekerjaan, sampai halnya luapan amarah dengan pasangan diutarakan di dinding status. Begitu juga sebaliknya, ekspresi bahagia dapat diutarakan pada dinding status setiap saat. Dilain sisi, hal ini memungkinkan orang lain dapat membaca maupun berkomentar. Pada dasarnya, pemilik account jejaring sosial facebook dapat merubah informasi dengan dukungan media internet. Kiranya, hal ini hanya dapat berlaku pada seseorang penggila facebook (Facebooking).


Menelisik lebih dalam mudahnya informasi tersebar ke orang lain, mungkin adakalanya perlu melihat sebelum munculnya jejaring sosial di dunia maya. Istilah “curahan-hati”, dulunya hanya dilakukan secara micro. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, curhat dapat dilakukan di beberapa fitur facebook. Masih dalam konteks yang sama, curhat-sebelum media internet muncul-hanya dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan menulis di lembaran kertas yang akrab dikenal dengan diary book. Kedua, dengan menceritakan apa yang dialami kepada orang terdekat maupun seorang penasihat. Pada kemajuan tehnologi informasi abad ini, pola tersebut telah berubah dan dapat dikatakan berkembang. Ringkasnya, curhat dapat dilakukan di media online dengan siapapun ia terhubung. Dengan demikian, curahan hati yang dituliskannya pada kolom yang tersedia di Facebook dapat diketahui orang lain dengan mudah.

Adanya tulisan yang muncul di kolom berita facebook, kerap kali mengundang perhatian bagi orang lain untuk membaca maupun berkomentar. Kendati begitu, tidak semua orang membutuhkan ataupun mau berbagi dengan pembuat status di Facebook tersebut.  Hal yang menjadi fokus utama  adalah komentar ataupun nasehat yang di buat oleh orang lain.

Dari respond orang lain yang muncul, dimungkinkan dapat menjadi motivasi tersendiri. Terlebih, komentar yang di utarakan orang lain berdampak baik bagi penulis. Disamping itu, mungkin halnya terjadi sebaliknya yang justru akan menjadi keterpurukan mental maupun perilaku. Analisis psychology B.F. Skinner kiranya tepat dalam mengupas realita kali ini. Inti pemikirannya, setiap makhluk hidup pasti selalu berada dalam proses bersinggungan dengan lingkungannya. Tepatnya, manusia bergerak karena mendapat rangsangan dari lingkungan. Di dalam proses itu, makhluk hidup menerima rangsangan atau stimulan tertentu yang mengakibatkan sebuah tindakan.[1] Dalam konteks ini, reaksi yang muncul atau respon dari tindakan yang dilakukan adalah sebuah kelaziman. Tidakan ataupun respon individu berdasar atas saran atau komentar dari orang lain di lingkungan tersebut.

Perlu dicermati, hal semacam ini dapat berdampak baik maupun buruk. Ada sebuah resiko yang memungkinkan terjadi, dimana rasa ketersinggungan, salah paham kerap menjadi pemicu terjadinya konflik[2]. Sehubungan dengan itu, tulisan (curhat) yang telah dibaca orang lain dapat menjadi topik obrolan di luar dunia maya (nyata). Dengan demikian, hal-hal yang menurut norma tidak sesuai dibicarakan menjadi perbincangan hangat bagi kalangan luas (gossip). Perlu dimengerti, relativitas informasi juga tidak terlepas dari rasa ketertarikan membincangkan realitas yang ada. Kendati topik dirasa menarik untuk diperbincangkan, kerap kali batasan-batasan norma menjadi terabaikan. Kiranya, perihal semacam ini pernah disinggung Kahlil Gibran, ia berpendapat bahwa, “Jika anda membeberkan rahasia anda kepada angin, anda tidak boleh menyalahkannya jika angin membuka rahasia itu kepada pohon-pohon.[3] Tidak memperdebatkan benar ataupun salah fenomena yang terjadi, itu adalah sebuah dampak atau resiko yang harus ditanggung pembuat status.

Tokoh klasik penasehat raja-raja eropa abad 14-15 bernama Eramus juga mempunyai argumen: “Jangan memberi nasehat kalau tidak di minta.[4] Bila difikirkan, mungkin ada benarnya jika nasehat (komentar) yang dibuat menyegarkan pembuat status. Namun sebaliknya, jika pendapat tersebut semata-mata dapat memojokkan yang pada perjalannya merugikan pihak-pihak tertentu.


 Kiranya, dengan kemudahan tercapai sebuah informasi, para pengguna Facebook layak berterimakasih pada co-founder atau orang yang turut menjadi Pendiri Facebook khususnya Mark Zuckerberg yang telah mencurahkan ide sbrilliant pada bidang tehnologi informasi abad ini.  Ibauan yang kiranya sesuai dengan konteks ini sebagai berikut: pertama, dengan mudahnya tercapainya informasi, istilah curhat di media Facebook dapat dilakukan secara bebas dilakukan oleh pemilik account. Akan tetapi perlu disadari, ada sebuah resiko yang ditanggung jika informasi itu jatuh pada orang yang tidak tepat yang berdampak buruk bagi diri sendiri. Kedua, cara berbagi informasi bagi pemilik account maupun respondent seharusnya dapat melihat norma, nilai yang ada di masyarakat serta memikirkan dampak yang akan terjadi. Bukan hanya menjadi sarana baru untuk mencurahkan perasaan, perlu di sadari, ada pentingnya menutup beberapa informasi yang bersifat rahasia (privasi). Ketiga, adakalanya respond pemberian nasehat dapat berdampak baik bagi seseorang yang mendapatkan nasehat. Perlu dikritisi, komentar yang tidak sesuai justru akan menyudutkan seseorang yang sedang mengalami kesusahan.



[1] George Boeree, Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia, Yogyakarta: Prismasophie, 2008, h. 226-229.
[2] Istilah “konflik” kerap kali disalah artikan dengan benturan atau pukulan. Namun, konflik sebenarnya juga dapat terjadi dengan melalui komunikasi (perdebatan) atau konflik yang terjadi namun tidak menimbulkan gejala-gejala kekerasan. Seperti halnya pertengkaran mulut atau pertengkaran argument.
[3] Mahbub Djunaidi, 365 MOTIVASI, Yogyakarta: Pustaka Ansana, 2010, h. 15.
[4] Nur Cahyo, 100% Kutipan Kata Motivasi Super Dahsyat, Yogyakarta: Pustaka Diantara, 2009, h. 31.

7 komentar:

health benefits mengatakan...

tulisannya muantab tenan, jdi inget wktu dlu msh jman buku diary :D

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

makasih bung, proudly present 'Koko Wijayanto', co-writer kolom sosiologi :)

Restiono mengatakan...

Nice essay gan... :)

Tapi kadang orang terlalu berlebihan dalam update statusnya. Seringkali update sesuatu yang tidak ingin orang lain dengar, terutama hal-hal yang terlalu pribadi atau show off. :D

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

Betul bung, dan itu juga sudah dibahas di sini:

http://kolomsosiologi.blogspot.com/2011/06/facebook-dan-degradasi-komunikasi.html

Cheers! :)

isi dunia mengatakan...

Diary oh Diary.... mantap lah bro

Firdian Arif Habibulloh mengatakan...

Nice Share mas koko...
bisa dijadikan bahan artikel di mading sosiologi kampus nih.
minta ijin donlod nggeh :)

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

silakan bung, bung koko pastinya akan senang sekali jika tulisannya dapat terpampang di mading kampus :)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger