"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Senin, 24 Oktober 2011

Cinta adalah “Keyakinan yang Buruk”

Cinta adalah “Keyakinan yang Buruk”
Cinta dalam Pandangan Kaum Eksistensialis

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Jean Paul Sartre, salah seorang filsuf Perancis berhalauan eksistensialis[1] menegaskan keberadaan cinta sebagai perihal/keyakinan yang buruk—dalam bahasa Perancis: mauvaise foi. Mengapa demikian? Setidaknya, hal tersebut didasarkan pada beberapa argumennya sebagai berikut.  

Cinta merupakan “Penindasan Halus”
Menurut Sartre, perihal di atas dibuktikan dengan ajegnya seorang pecinta bersusah payah mengabulkan segala pinta orang yang dicintainya, meskipun terkadang syarat melakukan berbagai hal yang irasional alias “tak masuk akal”. Sebagai misal, kita kerap mengajak kekasih bersantap malam di sebuah rumah makan/café mahal guna menyenangkan hatinya, namun kenyataannya, untuk makan sehari-hari saja kita hanya dapat mengandalkan “warung angkringan”. Dengan rela dan “ikhlas”, kita pun menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang dimiliki guna memberikan “makan malam yang berkesan” bagi sang kekasih. Tak pelak, hal tersebut menemui bentuknya sebagai penindasan halus yang tak kasat mata—ia ada, namun tak tampak. Begitu pula dengan kasus “pulsa”, “nonton bioskop” dan lain sejenisnya. Bisa jadi, inilah mengapa banyak orang berkata, “Cinta tak pakai logika”, dan bisa jadi pula, hal tersebut dapat menjelaskan banyaknya pejabat yang terdorong untuk melakukan korupsi akibat perilaku konsumtif pasangan hidupnya.

“…the woman in love demands that the beloved in his acts should sacrifice traditional morality for her and is anxious to know to know whether the beloved would betray his friends for her, ‘would steal for her’, ‘would kill for her’, etc.” (J.P Sartre, 1956: 369)


Esensi Cinta adalah Menguasai Dunia Orang Lain
“Cinta membuat individu terasing dengan dirinya!”, demikian pungkas Sartre. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan ditemuinya “tuntutan-tuntutan” dalam cinta. Sebagai misal, sang kekasih meminta kita untuk merubah penampilan, melakukan diet, membentuk tubuh, merubah sikap dan lain sebagainya. Tak pelak, hal tersebut membuat kita “tak terbebaskan”, dan pada akhirnya sekedar bermuara pada “keterasingan” kita atas diri sendiri. Semisal, anda tak suka mengenakan pakaian yang terlampau formal, namun pasangan anda tak hentinya meminta dan memohon, suka tidak suka, mau tidak mau, anda pun syarat mengenakannya. Setelahnya, cobalah berdiri di hadapan cermin, saya mengetahui benar apa yang anda rasakan: serasa tak menjadi diri sendiri, seolah apa yang anda saksikan seketika itu juga adalah orang lain, begitu terasing!. Cobal andaikan pula semisal anda adalah pribadi yang suka berpetualang bersama teman-teman (mendaki gunung, reli, berkemah, dsb.), namun dilatarbelakangi oleh rasa cemburu yang “tak jelas”, kemudian sang pasangan melarang anda untuk melakukan serangkaian kegiatan di atas, apa yang anda rasakan? Tak bebas!. Berbagai hal tersebutlah yang kemudian menyebabkan Sartre turut berkata bahwa esensi cinta adalah “terjebak pada dunia orang lain”.

“…Love the Lover wants to be ‘the whole world’ for the beloved.” (J.P Sartre, 1956: 367)

Pernikahan sebagai Pelanggeng Borjuisme
Tak khayal, berbagai pemikirannya di atas berimplikasi pada penolakan Sartre terhadap institusi pernikahan. Di samping berbagai argumen filosofis, menurutnya pernikahan sekedar melanggengkan lembaga borjuasi/isme. Apa yang dimaksudkannya adalah, apabila kita menikah dan memiliki anak, sekedar terdapat dua kemungkinan bagi masa depan anak kita. Pertama, menjadi seorang yang sukses, yang dengan demikian ia menjadi seorang borjuis (majikan). Kedua, menjadi seorang yang gagal, yang dengan demikian ia menjadi seorang proletar (buruh). Dan baik keduanya menurut Sartre, sama-sama melanggengkan lembaga borjuasi—relasi hierarkis yang kaku dan menindas antara majikan dengan buruh. Kiranya, demikian penjelasan Sartre atas penolakannya terhadap institusi pernikahan—perlu diingat, ia bukan seorang gay.


*****


Referensi:
      §  Sartre, Jean Paul. 1956. Being and Nothingness. New York: Philosophical Library.





     





[1] Eksistensialis utamanya dicirikan dengan semangat individualisme dan antisosial.


13 komentar:

Punya.Tia mengatakan...

ada apa dengan JP Sartre?? membaca tulisan anda saya jadi tertarik membaca bukunya... ada referensi nya??

salam,
Stylish Generation

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

silakan baca "sartre untuk pemula" by donald d palmer, terbitan kanisius. dijamin gokil! hehe

rendy pratama mengatakan...

akibat trauma berat mungkin,,,jadi gak percaya cinta itu awal kebahagiaan

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

ada itu bung, dibahas dalam artikel 'menelanjangi pemikiran tokoh'. salam.

ASAZ mengatakan...

orang boleh saja mendefinisikan cinta

Irqas Aditya H mengatakan...

Kalau lihat tulisannya jangan2 Sartre gak punya anak ya? hehe

Wahyu Nugroho mengatakan...

betul sekali bung, sartre memang tidak menikah dan tidak berkeluarga

salam :)

Irqas Aditya H mengatakan...

mungkin sosialisasi mengenai pemikiran Sartre ini bisa jadi cara efektif menanggulangi ledakan penduduk...hehe

Salam juga bung :)

riswan mengatakan...

apakah iya menikah itu melanggengkan kapitalis, buktinya belum tentukan orang yang manikah punya anak terus anaknya sukse langsung dikategorikan borjouis. marx sendiri yang bilang bila orang majikan itu yang mengeksploitasi kaum buruh. coba dengan anak yang tumbuh menjadi seniman yang sukses apa bisa dibilang borjouis

m.danoAdam mengatakan...

Jika kita bijak membaca realitas, maka yang diungkapkan Sartre sangat berarti,,

Bisa jadi setelah Marx lontarkan "Agama adalah candu", kebanyakan dari kita kemudian memperbanyak bacaan tentang apa sesungguhnya agama itu,,

Sekedar membijaki, apa yang di lontarkan Sartre dan Marx harusnya dibaca sebagai kritikan diruang aksiologi...

Dunia berkumandang tentang cinta itu suci, agama itu suci, namun dimana-mana kita disuguhi dengan tidak sucinya,,disinilah krisisnya

Wahyu Nugroho mengatakan...

riswan: kasus tak bisa dibenturkan dengan teori :)

dano: mari kt kembalikan kemurnian cinta via konsep 3M Aa Gym; mulai dari diri, mulai terkecil, dan mulai saat ini. Wkwkwkwk

Salam Hangat,
Wahyu BN :)

Rofi'i mengatakan...

bukunya pa cak judulnya

Rofi'i mengatakan...

judul bukunya pa bang

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger