"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Selasa, 04 Oktober 2011

Perbedaan antara Jenius dengan Gila

Perbedaan antara Jenius dengan Gila[1]
Menilik Kejeniusan dan Kegilaan dalam Perspektif Sosiologis

Oleh: Wahyu Budi Nugroho

“Struktur sosial kita dibangun berdasarkan legitimasi…”
(Prof. Dr. Heru Nugroho, Guru Besar Sosiologi-UGM)


Pernahkah Anda memikirkan perbedaan antara orang jenius dengan orang gila? Kita sering mengatakan Einstein atau Bill Gates adalah orang-orang jenius, namun di lain kesempatan, kita kerap pula “mengatai” mereka sebagai orang gila. Entah gila karena pemikiran, ucapan atau tindakan mereka yang mengguncang dunia, atau memang karena mereka benar-benar mengidap kegilaan secara medis (baca: gangguan jiwa). Einstein misalnya, yang secara positif didiagnosis mengidap “skizofrenia”. Di samping Einstein, terdapat pula sederet tokoh dunia yang “dikukuhkan” mengidap kegilaan secara medis seperti; Nietzsche, John Nash, Virginia Wolf, Patch Adams, Ernest Hemingway dan masih banyak lagi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah kejeniusan menyebabkan kegilaan, apakah justru kegilaan itulah yang menciptakan kejeniusan, ataukah mungkin keduanya memang saling terkait erat dan mempengaruhi satu sama lain. Memang, tak mudah menjawab serangkaian pertanyaan tersebut, terlebih mengingat kesemua permasalahan di atas tak menjadi objek kajian dalam disiplin sosiologi melainkan psikologi atau psikiatri.      

Terlepas dari perdebatan di atas, agaknya perspektif sosiologis menyepakati bahwa perbedaan antara orang jenius dengan gila adalah “kesuksesan” semata. Dengan kata lain, orang jenius adalah mereka yang berhasil dalam kehidupannya, sedang orang gila tidak. Namun sesungguhnya, baik keduanya sama-sama “gila”, cukup membingungkan memang. Secara sederhana, mari kita asumsikan bahwa para tokoh yang diakui karyanya dan tenar adalah “orang-orang gila yang sukses”, sedang bagi mereka yang belum atau tidak diakui karya-karyanya adalah “orang-orang gila yang gagal”. Ingat, struktur sosial kita dibangun berdasarkan legitimasi (pengakuan).

(J. Lennon)

Contoh kasus, mengapa hingga sekarang orang-orang masih saja menyebut Lennon yang dalam lirik lagunya kerap memasukkan kata-kata asing (baca: aneh) ciptaannya sendiri adalah jenius. Hal tersebut tentu akan berkebalikan 180 derajat apabila Anda menciptakan kata/istilah sendiri dalam lirik lagu buatan Anda, dan kemudian menawarkannya pada perusahaan rekaman. Dijamin, Anda pasti bakal dicap gila! Bukan jenius… Mengapa? Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, perihal yang paling mendasar adalah “pengakuan” (legitimasi). Anda belum diakui dunia, maka Anda belumlah sukses—Anda masih menjadi orang gila, belum jenius.

(M. Pollock)

Contoh lain adalah Michael Pollock. Ia adalah seorang pelukis Amerika beraliran surrealis. Jika Anda melihat karya-karyanya, mungkin Anda akan meragu dan berpikir sejenak: Apakah karya tersebut benar-benar dibuat oleh seorang jenius ataukah gila?. Sebagaimana kita ketahui, karya Pollock sekedar berbentuk tetesan dan goresan kuas cat lukis secara sembarang. Namun demikian, apabila Anda meniru gaya melukis seniman botak ini dan menggelar pameran tunggal, sudah pasti Anda akan dikatakan gila oleh para pengunjung—tetesan dan goresan sembarang, apakah Kau sudah gila?!.

Menilik berbagai uraian singkat di atas, kiranya dapat ditegaskan sekali lagi bahwa satu-satunya pembeda antara orang jenius dengan orang gila adalah legitimasi semata. Dan, untuk meraih predikat jenius berikut sukses secara instan, agaknya dapat dilakukan dengan menjadi “pelopor” atas sesuatu.


*****
            





[1] Terinspirasi oleh penjelasan Prof. Dr. Heru Nugroho mengenai perbedaan antara dosen dengan mahasiswa, yakni “legitimasi”.

11 komentar:

musik Indonesia mengatakan...

woooowwwww

Anonim mengatakan...

hal itu tentu tdk berlaku untuk kasus einstein. coba jelaskan dimana sisi kegilaan dr einstein yg dianggap jenius. misalkan ada seorang tdk terkenal yg mungkin gila tetapi dia mampu menjelaskan mengenai teori relativitas (hanya beberapa ilmuwan yg mampu memahami scr mendalam) pasti tetap akan diakui sbg jenius. jd "jenius mutlak adalah jenius" bkn "jenius adalah gila plus legitimasi"

Mukti Effendi mengatakan...

Menurut saya jenius dan gila beda jauh sejauh langit dan bumi. Jenius bekerja berdasarkan logika sehat sedangkan gila bekerja tanpa disadari oleh si gila.

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

terima kasih yang tak terhingga buat mas-mas dan mbak-mbak yang sudah mengomentari tulisan di atas, tentunya semua argumen bakal memperluas wawasan kita.

salam hangat. :)

katurangga mengatakan...

Bagi saya jenius dan gila itu tidak ada bedanya, karena keterbatasan manusia atas hal-hal yg dihadapinya maka dicarilah sesuatu untuk menjabarkannya agar bisa diceritakan kepada yang lainnya secara jelas. Sebenarnya otak itu hanya sebuah sungai yang mengalirkan sesuatu dari asalnya, dan semua itu bersumber dari sesuatu yang lebih luas...

Anonim mengatakan...

saya setuju, pada dasarnya orang jenius akan tersenyum ketika dibilang gila, begitupun orang gila, mau disebut jenius juga senyum. apa yang membedakan? orang jenius tersenyum karena dia mengerti bahwa pemikirannya telah melampaui batas pemikiran orang secara umum, tapi dibuktikan dengan karya..

Berbagi Informasi mengatakan...

Jadi mending tidak gila dan bukan jenius ya? :)

Salam kenal semua...

Anonim mengatakan...

Saya sebagai orang yang mengalami langsung sangat percaya itu. Semakin jenius seseorang, kemungkinan kegilaannya akan semakin parah. Untung saya ga jenius2 amat :)

Adi© mengatakan...

Saya sangat setuju jika orang gila ada persamaan dan juga perbedaan dengan orang jenius.

sigit edhi kurniawan mengatakan...

Gila adalah jenius. Jenius itu gila. Mempunyai pikiran yg jenius dan kegilaan untuk membuat suatu zat atau benda yg belum ada di dunia. Seumpama aqu mau buat singizt yg bisa buat manusia hidup di planet ihdez gila ata jenius. Jenius adalah yg sudah di akui manusia di dunia. Gila adalah yg belum di akui dunia. Dan sebage orang gila orang waraslah yg gila. Orang waras orang gila lah yg gila. Trus kita bawa apa kah kita mati. Apa kah orang gila yg waras yg dia kemana2 ga pake baju. Atau orang waras yg mencari harta dan di budak uang.

Fachrur Rozi mengatakan...

Berbicara tentang jenius dan gila pada prinsipnya sama tapi tujuannya sangat jauh berbeda, contoh orang gila makan nasi sisa di tempat sampah untuk memenuhi kebutuhan perutnya agar tidak lapar dan tidak pernah mereka itu kena penyakit akan tetapi seorang jenius makan nasi sisa di tempat sampah tujuannya beda adakalanya ingin mengetahui seberapa cepat reaksi bakteri akan mempengaruhi kesehatan tubuhnya dan berusaha untuk menemukan obatnya

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger