"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 03 November 2011

Angkringan sebagai Ruang Publik

Angkringan sebagai Ruang Publik

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Apabila anda pernah mengunjungi kota Yogyakarta, akan anda dapati warung-warung makan kecil beratap terpal warna di hampir setiap pinggiran jalan, itulah warung “angkringan”. Kini, keberadaan warung-warung angkringan di kota Yogyakarta seolah berpacu dengan masifnya lapak-lapak francise berikut menjamurnya banyak minimarket di hampir setiap jalanan kota. Secara ekonomis, keberadaan warung angkringan yang menyediakan beragam makanan berikut “jajanan” dengan harga murah berfungsi sebagai “katup penyelamat” bagi masyarakat golongan kelas bawah. Bungkusan nasi dengan berbagai lauknya seperti oseng-oseng tempe, ikan teri atau sambal yang dikenal dengan sebutan sego kuching ‘nasi kucing’ karena porsinya yang pas-pasan sekedar dijual dengan harga Rp 1.000,- dan agaknya dua porsi nasi kucing saja sudah cukup untuk mengisi perut yang keroncongan, sedang segelas teh hangat atau jeruk hangat dapat diperoleh dengan harga yang sama pula, Rp 1000,-. Tak pelak, keberadaan warung angkringan juga dirasa begitu membantu para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di kota gudeg, terlebih bagi mereka yang memiliki uang saku pas-pasan.


Namun demikian, di samping kesemua alasan ekonomis di atas, faktual keberadaan warung angkringan dapat pula ditempatkan sebagai “ruang publik” masyarakat. Ruang publik (public sphere) sebagaimana diutarakan Jurgen Habermas, filsuf kenamaan Jerman adalah,

“...public sphere may be conceived above all as the sphere of private people come together as a public; they soon claimed the public sphere regulated from above against the public authorities themselves, to engage them in a debate over the general rules governing relations ...”
(Jurgen Habermas 1989: 27)

[“…ruang publik dapat dipahami sebagai kesatuan ruang privat di mana orang-orang yang terdapat di dalamnya datang bersama-sama sebagai publik; melakukan klaim bahwa ruang tersebut syarat diatur berdasarkan otoritas mereka, untuk turut berpartisipasi dalam debat mengenai berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah…”]


Lebih jauh, Habermas menjelaskan bahwa ruang publik adalah suatu ruang yang bebas dari penindasan, tekanan, dominasi-dormant, suatu ruang di mana setiap individu memiliki derajat yang sama, dan berbagai diskusi yang bermuatan subversif pun (mengkritik/mengecam pemerintahan) dapat berlangsung di dalamnya. Di sisi lain, ruang publik berfungsi pula sebagai tempat untuk membudalkan uneg-uneg dan membuang “ampas-ampas kotoran” yang ada dalam pikiran.

Melalui pengertian ruang publik di atas, kiranya warung angkringan dapat terkategori di dalamnya. Apabila kita amati, diskusi yang terjadi dalam warung-warung angkringan berlangsung secara bebas dan terbuka. Bebas dalam arti, setiap orang dapat mengemukakan pendapat berikut kritiknya terhadap pemerintah tanpa harus merasa takut atau was-was bakal dicekal. Sedang, terbuka berarti, setiap orang dapat turut berpartisipasi dalam diskusi atau debat yang tengah berlangsung, entah tukang becak, buruh bangunan, sopir, mahasiswa/i berikut berbagai lapisan masyarakat dengan beragam profesinya yang berbeda. Menilik proses sosial yang terjadi di dalam warung angkringan, tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa sejatinya suara nurani akar rumput justru muncul dan menyerua melaluinya. Tentunya, hal ini menjadi pelajaran yang dapat dipetik para wakil rakyat, apabila mereka hendak mendengar aspirasi rakyatnya secara langsung tanpa terdistorsi para yesman, mengertilah mereka kemana tempat yang harus dituju: angkringan.    



Referensi:
  • Habermas, Jurgen. 1989. The Structural Transformation of the Public Sphere. Britain: Polity Press.

     
*****

11 komentar:

konde mengatakan...

klo menurut gw angkringan tuh mencakup semua kalangan ko gak cuma masyarakat ke bawah..

Kamu Blogger...? Yuk Ikutan Event Untuk Blogger Berhadiah Blakberry Playbook Berakhir 23 Desember 2011

JIMMY mengatakan...

makan di warung angkringan emang manteb bro, dideket rumah gw ada juga tuh warung angkringan dan biasa di jadiin tongkrongan :D

SALAM,

mampir2 yaa hehhe

askep mengatakan...

jujur sya blum prnah ke jogja :D tpi ada kok org jogja yg punya lpak kyak gtu dket rmah :)
jgn lupa mampir ke eMingko Blog

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

konde: betul bung, hanya saja menjadi spesifik bagi kelas bawah ditilik dari sudut 'katup penyelamat'. salam hangat :)

jimmy: salam juga, segera mampir ;)

askep: segera mampir bung askep :D

Juragan Tiket Pesawat harga Murah mengatakan...

warung angkringan sudah meluas hingga ke jakarta

ziady R mengatakan...

memang dengan angkringan bisa bertukar opini, teringat saat saya berdiskusi dengan bapak - bapak di angkrigan ngebahas bhs jawa adalah bhs yang bnyk kosakatanya hehe

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

juragan tiket: thanks for the info bung, dan awalnya angkringan berasal dari klaten

bung ziady: saya jg punya pengalaman mas di angkringan, eyel2an sama bapak2 tentang sejarah kolonialisme belanda, hehe

Angkringan Nasi Kucing78 mengatakan...

Angkringan nasi Kucing memang tempat paling merakyat.. lokasi tongkrongan paling pas u/ ngobrol ngalor ngidul...

Salam nangkring

www.AngkringanNasikucing78.com

Angkringan Nasi Kucing78 mengatakan...

salam nangkring... ngobrol sepuasnya

s1s2s3jobs mengatakan...

mampir kesini bentar gan,,,banyak artikel bagus juga soalnya
http://s1s2s3jobs.blogspot.com

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

wokey bozzz ;)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger