"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Rabu, 09 November 2011

Budaya Alay Patut Dihargai dan Diapresiasi

Budaya Alay Patut Dihargai dan Diapresiasi

Oleh: Wahyu Budi Nugroho[1]


Tak sedikit dari kita yang memiliki stigma negatif terhadap budaya “alay”. Setidaknya, budaya tersebut mewujud dalam dua hal: penampilan dan tulisan. Secara khusus, artikel ini akan lebih jauh membahas budaya alay yang mewujud dalam bentuk tulisan (budaya penulisan alay).

Berlebihan, tak jelas, merusak tata bahasa Indonesia yang baik dan benar—itulah serangkaian alasan yang dikemukakan bagi sebagian mereka yang “anti” terhadap budaya penulisan alay. Anggapan tersebut memang tak sepenuhnya salah, hanya saja, bagaimana bila mindset atasnya dirubah? Selama ini, tulisan alay yang dicirikan dengan bentuk hurufnya yang tak jelas berikut kerap tercampur dengan bilangan numerik (angka-angka) selalu ditempatkan sebagai negasi atau lawan atas tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun demikian, bagaimana jika kita berpikir sejenak dan menempatkannya sebagai “percabangan-kreatif” bahasa Indonesia—bukan perkembangan. Dengan kata lain, apabila dahulu kita menempatkannya secara kontradiktif, bagaimana jika saat ini kita justru mengelaborasinya?


Diakui atau tidak, pengelaborasian budaya alay dalam struktur tata bahasa Indonesia justru akan kian memperkaya khazanah berikut wawasan kebahasaan kita. Dengannya, bahasa Indonesia takkan lagi menjadi perihal yang mandeg, melainkan dinamis dan mampu berkompromi dengan perkembangan zaman. Namun, perlu diingat sekali lagi bahwa pengelaborasian tersebut sekedar ditempatkan sebagai “percabangan-kreatif”, bukannya “perkembangan-kreatif” yang dengan demikian justru menghilangkan esensi bahasa Indonesia itu sendiri. Melalui penempatan budaya alay sebagai percabangan kreatif, agaknya tak ditemui lagi “ancaman” terhadap konstruksi bahasa Indonesia yang telah disepakati bersama.

Perihal lain yang agaknya mendukung perlunya pengelaborasian antara budaya alay dengan bahasa Indonesia adalah alasan “kemajuan budaya”. Sebagaimana kita ketahui, budaya bahasa yang saat ini tengah berkembang di negara tetangga, Malaysia adalah “kreolisasi bahasa”—tradisi kreol bahasa. Budaya tersebut ditunjukkan melalui penyesuaian pengucapan lidah bangsa Malaysia dalam penulisan kata-kata asing. Sebagai misal, kata yang seyogyanya bertuliskan “snack”, kemudian berubah menjadi “snek”; “facebook” menjadi “fesbuk”. Menilik kenyataan tersebut, seharusnya bangsa Indonesia turut melahirkan budaya bahasa yang tak kalah progresif, dan agaknya budaya penulisan alay dapat mengemban tugas tersebut.

kreolisasi bahasa: facebook = “fesbuk” ~ Malaysia
alay: facebook = “f4c3bU6h” ~ Indonesia

Bagaimanapun juga, budaya alay merupakan salah satu bentuk budaya kontemporer yang lahir melalui kreativitas anak bangsa, oleh karenanya budaya tersebut pun patut dihargai dan diapresiasi.


Situ alay?
G49 mAS4LaH…!


*****
          




[1] Pengamat sosial.

4 komentar:

Punya.Tia mengatakan...

hahhaaaa... nice post om....

salam,

Stylish Generation

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

makasih tante tia, salam juga ;)

Risfaisal mengatakan...

bahasa alay merupakan kreativitas tingkat tinggi :)

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

betul bung, tapi sering kali kita tak menyadari atau tak mengakuinya. thanks for the comment ;)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger