"To revolt today, means to revolt against war..." [Albert Camus]

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Minggu, 08 Januari 2012

Karl Marx: Nabi Kaum Proletar dan Berbagai “Ramalannya” yang Tak Terbukti

Karl Marx: Nabi Kaum Proletar
dan Berbagai “Ramalannya” yang Tak Terbukti
Oleh: Wahyu Budi Nugroho

(Makam Karl Marx, Inggris)

          --- Adam Schaff, seorang pakar marxis asal Polandia, mengejutkan dunia dengan mengungkap wajah “Janus” Marx: Marx muda dan Marx tua. Menurutnya, Marx muda menjadikan individu (manusia) sebagai titik tolak kajiannya, pemikirannya pun berdimensi kritis, lebih jauh Marx muda turut dikenal sebagai sosok yang humanis. Berbeda halnya dengan Marx muda, Marx tua dikenal dengan titik tolak pengkajiannya yang berdimensi sosial (masyarakat), pemikirannya pun bersifat positivis, Marx tua dikenal pula sebagai sosok yang radikal (konfrontatif). Perbedaan pemikiran antara keduanya tampak melalui perbandingan seksama antara karya Marx tua—Manifesto Komunis dan Das Kapital—dengan karya Marx muda—Economic and Philosophical Manuscripts.   

            Lebih jauh, tulisan ini berupaya melakukan telaah kritis atas pemikiran Marx tua yang bercorak positivis. Sebagaimana kita ketahui, satu karakteristik utama yang begitu kentara dalam positivisme adalah keyakinan bahwa fenomena sosial dapat diukur berikut diprediksi. Hal tersebut tak lepas dari latar belakang kelahiran ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang kental dalam nuansa renaissance ‘pencerahan’ Eropa di mana rasionalitas (akal/budi) menjadi muatan utama yang dibawanya—penetrasi ilmu-ilmu alam/eksakta dalam ilmu sosial-humaniora. Apabila penelaahan lebih jauh dilakukan, maka ditemui bahwa sesungguhnya positivisme merupakan elaborasi dari dua mahzab besar pencerahan Eropa, yakni rasionalisme dan empirisme.

            Kembali pada ranah pemikiran Marx yang bercorak positivisme—Marx tua, melalui “analisis ilmiah” yang dilakukannya, setidaknya Marx mengungkapkan tiga hal yang bakal terjadi di kemudian hari, antara lain; nasib buruh akan kian menderita, revolusi sosialisme-komunis bakal digerakkan oleh para buruh negara-negara industri, berikut negara-negara kapitalis yang pada akhirnya akan berubah menjadi negara bercorak sosialisme-komunis. Lebih jauh, Marx menyusun serangkaian tahapan perubahan di atas, menurutnya masyarakat bergerak sedari tahapan tradisional, menuju feodal, kemudian kapitalis, dan pada akhirnya akan sama sekali berubah menjadi masyarakat dengan corak sosialisme-komunis.

            Anggapan (baca: “ramalan”) pertama Marx terkait nasib buruh yang bakal kian menderita di kemudian hari agaknya tak dapat dibenarkan. Pasalnya, pasca-Perang Dunia II dan diterapkannya konsep ekonomi Keynesian, kapitalisme yang hadir kemudian adalah “kapitalisme dengan wajah humanis”. Kapitalisme-humanis tak segan memberikan berbagai bentuk bonus dan tunjangan bagi para pekerjanya; bonus akhir tahun, bonus hari besar, tunjangan kecelakaan kerja, hari tua, dsb. Tak hanya itu saja, kapitalisme-humanis turut menyuntikkan pop culture ‘budaya pop’ guna mereduksi berbagai kontradiksi (pertentangan) yang terjadi antara buruh dengan majikan. Melalui budaya pop, buruh dapat menyambangi bioskop yang sama layaknya majikan, berpenampilan seperti majikan, berikut serangkaian perihal lainnya yang kian mengaburkan pertentangan antara keduanya.

Anggapan kedua Marx, yakni revolusi sosialisme-komunis bakal digerakkan oleh para buruh industri, faktual tak terbukti pula kemudian. Dalam kasus Revolusi Bolshevik 1917 misalnya, “revolusi merah” tak digerakkan oleh para buruh industri, melainkan para buruh tani, begitu pula dengan revolusi merah yang terjadi di Cina dan Vietnam. Anggapan ketiga Marx, berbagai negara kapitalis bakal berubah menjadi negara sosialis-komunis, pada kenyataannya yang terjadi justru sebaliknya, berbagai negara kapitalis tak kunjung berubah menjadi negara sosialis, malahan berbagai negara sosialis mengalami kebangkrutan di usianya yang masih “seumur jagung” dan bertransformasi menjadi negara kapitalis, Rusia dan Cina misalnya. Kebangkrutan berbagai rezim komunis dunia ditengarai oleh bertahannya sistem pemerintahan diktator proletariat yang seyogyanya syarat berlaku sementara, yakni sekedar ditempatkan sebagai pemerintahan transisi menuju masyarakat komunis yang “sama rasa-sama rata”. Tak pelak, bertahan lamanya sistem pemerintahan diktator proletariat mengamini pernyataan Lord Acton: “Power tend to corrupt, and absolutes power corrupts absolutely”.       

Harus diakui memang, ramalan Marx mengenai kehancuran kapitalisme akibat overproduksi sempat menemui relevansinya pada dekade 1930-an, ia mengemukakan hal tersebut dalam Internasionale I untuk menjawab pertanyaan seorang buruh perihal waktu yang tepat guna meletuskan revolusi dalam rangka menghancurkan kapitalisme. Namun demikian kehancuran kapitalisme yang dikenal dengan peristiwa Great Depression tersebut—melanda Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa—tak berlangsung lama setelah seorang ekonom bernama John Maynard Keynes hadir ke permukaan dan segera didaulat sebagai “dokter kapitalisme yang tengah sekarat”. Diakui atau tidak, peristiwa terkait menunjukkan kemampuan kapitalisme dalam beradaptasi terhadap konstelasi sosial, politik dan ekonomi yang tengah berlangsung, sekaligus menyiratkan “kemandulan” pola pikir Marx tua yang bersifat positivistik—gemar meramal masa depan.


*****

Referensi;
§  Fromm, Erich. 2001. Konsep Manusia Menurut Marx. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
§  Marx, Karl. 2004. Kapital (Buku I). Jakarta: Hasta Mitra.
§  Zeitlin, Irving M. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

5 komentar:

Muhammad Endi mengatakan...

Dapat ilmu dari blog ente sob..
Happy blogging.. :)

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

makasih bung, thanks for ur appreciation, i do appreciate ;)

zinevodka mengatakan...

jawaban terbaik adalah tindakan

Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

dan berkata2 pun termasuk tindakan bung, ditilik secara lokus kebahasaan ;)

Anonim mengatakan...

Selama ada Kapitalisme ( monopoli kaum modal ), maka selama itulah ada Komunis, yang terilhami dari ajaran Marxisme.

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger