"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 05 Oktober 2012

Pemimpin Populis, Nyata atau Mitos Belaka?

Pemimpin Populis, Nyata atau Mitos Belaka?

Wahyu Budi Nugroho


            Dewasa ini, wacana mengenai kepemimpinan populis tengah digandrungi masyarakat. Bisa jadi, fenomena tersebut tak lepas dari terlampau berlarut-larutnya kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan yang tak memihak dan memperhatikan nasib mereka selama ini, baik itu kepemimpinan di ranah lokal maupun nasional. Dalam ranah lokal, sebut saja citra kepemimpinan populis saat ini tengah tersemat pada walikota Solo, Jokowi yang hampir dapat dipastikan memenangkan perebutan kursi DKI-1 melawan Fauzi Bowo berdasarkan quick count ‘penghitungan cepat’ yang digelar berbagai stasiun televisi nasional Kamis lalu (20/9). Sementara, citra kepemimpinan populis dalam ranah nasional yang tengah mengemuka dewasa ini agaknya tertuju pada Menteri BUMN, Dahlan Iskan yang sempat menyita perhatian publik dengan serangkaian tindakan sensasionalnya. Bahkan, beberapa waktu lalu terdengar rumor bahwa dirinya telah digadang salah satu partai besar tanah air untuk maju mencalonkan diri sebagai wakil presiden dalam pemilu 2014 mendatang.  

            Harus diakui, tren masyarakat pada citra kepemimpinan populis memang patut diapresiasi. Ini berarti, masyarakat telah melek terhadap kepemimpinan yang sama sekali tak membawa perubahan bagi diri mereka atau sekedar membuahkan stagnasi. Di sisi lain, hal ini turut menandakan bahwa masyarakat telah belajar untuk tak begitu saja mempercayai buaian janji-janji calon pemimpinnya, melainkan terlebih dahulu menyaksikan berbagai tindakan konkret yang telah ditunjukkan sang calon pemimpin. Pasca Reformasi akhir dekade 1990-an, masyarakat menjalani suatu tata pemerintahan lokal maupun nasional yang mandeg. Berdasarkan pengalaman empiris yang cukup panjang tersebut, kiranya masyarakat merasa terlalu naif mengharapkan hadirnya sosok pemimpin yang benar-benar populis dan mampu bertindak secara nyata. Perubahan dari satu aktor pemerintahan pada aktor-aktor pemerintahan berikutnya dipandang tak lebih sebagai reproduksi pribadi-pribadi yang sama, perbedaan sekedar terletak pada banyaknya wajah-wajah baru yang nantinya ajeg menghiasi portal berita politik lokal maupun nasional.

            Berdasarkan berbagai persoalan di ataslah kiranya kehadiran Jokowi dan Dahlan Iskan membawa angin segar berikut secercah harapan yang dahulu telah lama terpendam bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat tanah air pun seolah larut dalam euforia kehadiran dua sosok ini, mereka diberitakan dimana-mana dan berbagai tindakannya menuai sorotan-lebih oleh media. Kedua sosok ini dinilai unik dan orisinal oleh masyarakat, berbeda dengan para pemimpin lainnya atau sebelumnya yang dinilai “begitu-begitu saja”. Namun, benarkah mereka betul-betul populis? Dalam artian, benar-benar membela hak-hak dan kepentingan rakyat?

            Apabila kita menilik berbagai pemberitaan media dewasa ini, agaknya kepopulisan mereka saat ini benar-benar nyata. Tetapi, satu hal yang perlu kita ingat, kenyataan tidaklah akan selalu menjadi kenyataan di kemudian hari, bisa jadi ia berubah menjadi mitos, dan begitu pula sebaliknya: mitos berubah menjadi kenyataan. Ini artinya, sosok calon pemimpin yang saat ini dikenal populis, bisa jadi esok berubah menjadi kaki-tangan kepentingan asing (investor) atau lebih mendahulukan kepentingannya ketimbang kepentingan masyarakat luas. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi calon pemimpin yang saat ini dikenal kurang populis, esok justru dapat berubah menjadi pemimpin yang sangat populis apabila diberi kesempatan untuk memimpin. Tegas dan jelasnya, memilih pemimpin bagi rakyat tak ubahnya seperti membeli kucing dalam karung.

            Pertanyaannya, tidakkah ada suatu instrumen yang dapat digunakan untuk menguji dan memastikan bahwa seorang pemimpin atau calon pemimpin benar-benar populis? Jawabnya sederhana, kekuasaan itu sendirilah yang menjadi alat penguji berikut penentunya. Sejauh ini, Jokowi dapatlah dikatakan cukup sukses menduduki tampuk kekuasaan Solo-1, dalam arti, ia tetap keluar sebagai sosok pemimpin yang populis pasca menduduki jabatan tersebut, atau setidaknya mampu mempertahankan citra tersebut. Namun, kita takkan pernah tahu apa yang bakal terjadi di Jakarta nanti, apabila KPUD telah mengesahkan kemenangan Jokowi secara resmi sebagai gubernur baru DKI-Jakarta, mampukah ia mempertahankan citra populis yang melekat padanya, ataukah deru berbagai proyek pembangunan Jakarta bernilai milyaran rupiah justru menggerus dan merubah sosoknya?

            Di sisi lain, begitu pula dengan Dahlan Iskan, sejauh ini ia dapat dikatakan cukup berhasil menjadi menteri BUMN, namun apakah demikian halnya kala ia menjadi RI-1 atau RI-2 kelak? Nyatanya, kita takkan pernah tahu sebelum dirinya benar-benar menduduki tampuk kekuasaan tersebut. Di sini, tampaklah jelas bahwa kekuasaan menjadi instrumen ampuh guna membuktikan populis-tidaknya seorang pemimpin atau calon pemimpin. Di satu sisi, dapatlah dikatakan pula bahwa upaya pencarian pemimpin yang populis bagi rakyat tak ubahnya seperti proses trial and error atau “coba-coba”, kita takkan pernah tahu rupa sosok pemimpin atau calon pemimpin yang kita pilih ke depannya. Satu hal yang pasti, dalam waktu dekat ini hampir dipastikan Jokowi bakal diuji kembali untuk membuktikan benar-tidaknya kepopulisan dirinya. Kita tunggu saja!


*****
                         

1 komentar:

uchie munthe mengatakan...

terbukti, kalau bapak joko benar2 pemimpin yang populis, mengerti keadaaan rakyatnya, aku ingin kelak jadi bapak joko dan bapak dahlan, slesai kuliah ini, bisa jadi pemimpin yang populis :)

Poskan Komentar

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger