"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Tampilkan postingan dengan label ~ Publikasi Penulis ~. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ~ Publikasi Penulis ~. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2016

Tejo Sulistyo, Maestro Tari Jawa yang Ajeg Mencari Keparipurnaan

TELAH TERBIT

Judul: "Tejo Sulistyo, Maestro Tari Jawa yang Ajeg Mencari Keparipurnaan"
Penulis: Wahyu Budi Nugroho
Penerbit: Cipta Media, Yogyakarta
Cetakan I: Oktober 2016
ISBN: 978-602-7897-13-7


Sabtu, 14 Mei 2016

1001 Dosa Orangtua pada ANAK

TELAH TERBIT. Buku saya yang ke sekian. Ditulis bersama taipan bisnis billboard Jakarta sekaligus suami artis tanah air era 1990-an Minati Atmanegara: Alexander Felder. Buku ini merupakan “publikasi selingan” (baca: publikasi refreshing) saya di sela penulisan naskah-naskah lain yang lebih berat dan memusingkan. Sebagaimana judulnya yang tampak begitu “pop”, buku ini memuat konsep-konsep sosiologi keluarga termutakhir, diramu dengan beragam konsep aplikatif disiplin psikologi serta kewirausahaan secara ringan dan mudah dimengerti. Di balik sosoknya yang polos, buku ini berupaya mengritisi kultur feodal yang telah lama bercokol di tanah air, bahwa; “orangtua selalu benar”, “orangtua sarat diikuti tanpa perlu dipertanyakan”, pun yang terparah, kultur masyarakat kita yang seolah menganggap “anak sebagai hak milik orangtua”, yang dengan demikian sekedar menempatkan anak sebagai investasi orangtua di hari senja.


Ihwal yang begitu saya ingat dalam proses penulisan buku ini adalah wanti-wanti dari Pak Alex: “Mas Wahyu, Mas kan’ belum berkeluarga, nanti kalau ada yang tanya, gimana Mas Wahyu kok bisa nulis buku ini padahal Mas Wahyu belum berkeluarga, juga belum punya anak; terus gimana?”. “Oh, tenang Pak. Saya kan’ pernah jadi ‘anak’, dan sampai sekarang saya juga masih jadi ‘anak’, hehe”.


Judul: 1001 Dosa Orangtua pada Anak
Penulis: Alexander Felder, Wahyu Budi Nugroho, Lusia Gayatri Yosef
Penerbit: Herya Media & Hartika Publishing
Cetakan Pertama: Maret, 2016
ISBN: 978-602-1032-63-3
Harga: Rp 30.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Pemesanan: Septi (0812-9684-5052)

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu … Mereka terlahir melaluimu, tapi bukan darimu.
Meski mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu…” [Kahlil Gibran]


Jumat, 04 Juli 2014

Menuju Teknologi Transkomunitas

Menuju Teknologi Transkomunitas


Penulis;
Dr. Muhamad Supraja, S.H., S.Sos., M.Si. [Universitas Gadjah Mada]
Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A. [Universitas Udayana]
Dedy Ilham Perdana, S.Sos., M.A. [Universitas Palangkaraya]
Fransiska Romana Catur Utami, S.Sos., M.A.
Dewi Cahyani Puspitasari, S.Sos., M.A. [Universitas Gadjah Mada]

Penerbit: LOGIS [2014]
ISBN: 979-17590-7-3
Tebal: xi + 165 halaman
Ukuran: 15,5 cm x 23,5 cm

Jumat, 17 Januari 2014

Trayektori Pendidikan [Jurnal Pemikiran Sosiologi-UGM/Vol. 2/No. 1]

Trayektori Pendidikan, antara Praksis-Teoretis
dan Dikotomi Low Science-High Science
Telaah Sosio-Filosofis Nilai Guna
Ilmu Pengetahuan di Era Kapitalisme-lanjut

Wahyu Budi Nugroho


ABSTRAK

Tulisan ini berupaya memaparkan problem trayektori pendidikan dan implikasi domino yang ditimbulkannya. Secara ringkas, “trayektori pendidikan” menunjuk pada ketidakjelasan arah atau ketidakterhubungan antara dunia pendidikan dengan realitas konkret kontemporer. Timbulnya trayektori pendidikan ditengarai oleh perceraian antara teori dengan praksis yang kemudian memunculkan klasifikasi ilmu ke dalam dikotomi low science dan high science. Persoalan menjadi kian pelik manakala dihadapkan pada tatanan kapitalisme-lanjut yang begitu mensakralkan ukuran-ukuran ekonomi sehingga beberapa ilmu pengetahuan (disiplin) dirasa tak lagi relevan keberadaannya. Hal inilah yang nantinya memunculkan problem “alienasi nilai guna ilmu pengetahuan”.  Di sisi lain, posmodernitas yang memayungi tatanan kapitalisme-lanjut turut memicu kontestasi antara legitimasi dengan otodidaktisme yang berujung pada diskursus seputar kepakaran formal dan nonformal. Singkat kata, tulisan ini berupaya mewacanakan kembali kedudukan ilmu pengetahuan sebagai sarana emansipasi manusia, terutama berkenaan dengan aktualisasi diri individu maupun kolektif beserta segenap potensi yang dimilikinya.

Kata kunci; trayektori pendidikan, alienasi, kapitalisme-lanjut.


ABSTRACT

This paper tries to elaborate the problem of education trajectory and its domino effect implications. Briefly, education trajectory refers to uncertain path or disconnection between formal education and contemporary concrete reality. Education trajectory is caused by the separation between the world of theory and praxis, as the results it produces classification of knowledge into dichotomy of low sicence and high science. The problem of it turns to be more complicated when it is vis-à-vis with the late-capitalist system which magnifies economical values, so that some disciplines seem to be irrelevant of their existences. This matter will create another problem so called “utility alienation of science”. On the other hand, postmodernity which shelters the late-capitalist system also triggers competiton between legitimacy and autodidactism creating discourse around formal and non-formal masteries. Shortly, this paper tries to put this issue into a proper discussion related to the existence of science as a tool to achieve humanitarian emancipation, mainly concerning with self-actualisation of individuals and their whole potencies.

Keywords; education trajectory, alienation, late-capitalism

An intellectual is someone whose mind watches itself…”
[Albert Camus, Notebooks 1935-1942]

Minggu, 07 Juli 2013

Alienasi, Fenomenologi, dan Pembebasan Individu

TELAH TERBIT
Alienasi, Fenomenologi, dan Pembebasan Individu


Penulis; 
Dr. Muhammad Supraja, S.H., S.Sos., M.Si.
Dewi Cahyani Puspitasari, S.Sos., M.A
Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A
Dedy Ilham Perdana, S.Sos.
Kaisar Atmaja S.Sos.
Penerbit: LOGIS [Lingkar Studi Mikrososiologi-UGM]
ISBN: 602-18750-0-1
Harga: Rp 30.000,-
*Sementara dapat diperoleh di kantor Jurusan Sosiologi-UGM.



Rabu, 06 Februari 2013

Orang Lain adalah Neraka: Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre ~ Pustaka Pelajar, 2013

Orang Lain adalah Neraka:
Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre

Oleh: Wahyu Budi Nugroho
(Pustaka Pelajar, 2013)


Koruptorrajim: Surat-surat Cinta untuk KPK ~ IRCiSoD, 2012

Koruptorrajim: Surat-surat Cinta untuk KPK
(Kumpulan Tulisan [Edi Akhiles, dkk.], IRCiSoD, 2012)

Wahyu Budi Nugroho
(Bab 16, "Viverepericoloso", hal. 165)





Pancasila sebagai Pseudo Ideologi ~ Proceeding Kongres Pancasila III, 31 Mei - 1 Juni 2012

Pancasila sebagai Pseudo Ideologi:
Menilik Ideologi Pancasila melalui Perspektif Golongan Islam-Radikal
[Proceeding Kongres Pancasila III:
Harapan, Peluang & Tantangan Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila.
Universitas Airlangga, 31 Mei - 1 Juni 2012]

Oleh: Wahyu Budi Nugroho






Pemuda, Bunuh Diri, dan Resiliensi ~ Jurnal Studi Pemuda, YouSure-UGM, Vol. 1/No. 1, Mei 2012.

Pemuda, Bunuh Diri, dan Resiliensi:
Penguatan Resiliensi sebagai Pereduksi Angka Bunuh Diri di Kalangan Pemuda Indonesia
[Jurnal Studi Pemuda Youth Studies Center (YouSure), Fisipol-UGM]

Oleh: Wahyu Budi Nugroho



A B S T R A K

Pengkajian terkait berupaya mengulas urgensi dimensi resiliensi bagi para pemuda dalam keseharian hidup. Secara sederhana, resiliensi dapat diterjemahkan sebagai kemampuan individu untuk bertahan, beradaptasi berikut bangkit dari berbagai bentuk penderitaan hidup yang menderanya. Persoalan ini menjadi penting mengingat masa muda merupakan periode-periode transisi yang begitu berat bagi setiap individu, di mana ketidakstabilan emosi dan psikologis besar mempengaruhi di dalamnya. Oleh karenanya, daya pegas dalam menghadapi setiap permasalahan hidup—resiliensi—kiranya diperlukan dalam periode-periode di atas. Lebih jauh, pengkajian ini akan memuat sekilas penjelasan mengenai karakteristik pemuda dan alasan diperlukannya dimensi resiliensi, perkembangan studi resiliensi, maraknya aksi bunuh diri yang dilakukan pemuda dewasa ini sebagai implikasi lemahnya dimensi resiliensi, serta berbagai upaya yang dapat ditempuh dalam rangka memperkuat dimensi resiliensi pada diri pemuda guna mengatasi persoalan tersebut.

Kata kunci; resiliensi, pemuda, transisi, bunuh diri.          


ABSTRACT

This article attempts to discuss the urgency of resilience for Indonesian youths in their daily life. The concept of resilience can be defined as individual ability to survive, to adapt, and furthermore, to revive from their sufferings. Such ability is important for youths during the transitional period from childhood to adulthood, where usually contains huge psychological and emotional instabilities and troubles. It further discuss the rise of suicide among youths as consequence of the lack of resilience, and some efforts to empower resilience among youths. The article begins with a brief discussion on the development of resilience studies, both its conceptual dimensions and its utilities.  

Keywords: resilience, youth, transition, suicide.





Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger