"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Menyoal Geng Motor Dewasa Ini

Menyoal Geng Motor Dewasa Ini
Suara Publik, TVRI Bali 09/03/15


Apa yang melatarbelakangi munculnya geng motor remaja?
Pertama, kita perlu membedakan antara geng motor dengan klub motor. Klub motor umumnya tercatat di kepolisian dan masyarakat, menggunakan satu jenis (merek) motor, dan umumnya membawa agenda-agenda advokasi, seperti; mensosialisasikan cara berkendara yang baik dan benar, advokasi lingkungan, tak jarang juga mereka turun memberikan bantuan sosial saat terjadi bencana alam. Tegas dan jelasnya, klub motor lebih sebagai bentuk komunitas hobi.

Sebaliknya, geng motor tidak tercatat di kepolisian ataupun masyarakat, mereka menggunakan beragam jenis motor, serta memiliki aturan atau nilai-normanya sendiri.

Sesungguhnya, fenomena “geng-gengan” di usia remaja merupakan hal yang wajar, anak dengan usia remaja memang cenderung menjadikan teman sebaya atau sepermainan (peer-group) sebagai acuan. Hal ini menjadi tak wajar ketika tindakan mereka mulai menyalahi nilai dan norma sosial, bahkan mengarah ke tindakan-tindakan vandal; pengrusakan, kekerasan, dan sejenisnya. Di sisi lain, sering kali muncul rasa bangga pada remaja yang memiliki keanggotaan suatu geng; merasa berbeda dari yang lain, istimewa, atau serasa mempunyai prestige tersendiri. Dan umumnya, anak-anak yang tergabung dalam geng motor adalah mereka yang kurang memiliki saluran untuk beraktualisasi dan mengekspresikan diri.

Mengapa geng motor identik dengan kriminalitas?
Para anggota geng motor adalah mereka yang mengalami desosialisasi; tercerabut dari akar sosial, kemudian memasuki suatu perkumpulan baru yang memiliki nilai dan normanya sendiri. Sering kali, perkumpulan ini menjelma menjadi massa di mana benar-salah menjadi tersamarkan, inilah mengapa, tindakan mereka cenderung mengarah pada anarkisme dan vandalisme.

Di sisi lain, kultur masyarakat kita yang kental dengan konsumerisme mendorong masyarakat untuk “terus memiliki dan memiliki”, inilah yang kemudian mendorong mereka yang tak kritis untuk memperoleh segala sesuatu secara instan; tanpa pikir panjang.

Bagaimana dengan masyarakat yang main hakim sendiri dalam merespon munculnya geng motor?
Ketika negara atau aparat tak hadir, menjadi lumrah ketika nantinya msyarakat “bergerak sendiri”. Akhirnya, masyarakat sendiri pun menjadi sekumpulan massa layaknya geng motor di mana benar-salah tersamarkan. Inilah mengapa, tindakan-tindakan seperti main hakim sendiri pun kemudian dilumrahkan—oleh masyarakat.

Tak ada hal lain yang ditimbulkan anarkisme kecuali munculnya bentuk-bentuk anarkisme baru sebagai balasan. Di sinilah peran penting pemerintah atau aparat untuk memutus mata rantai anarkisme tersebut mengingat merekalah yang sesungguhnya memiliki legitimasi untuk menggunakan berbagai instrumen kekerasan.

Apa solusi jangka pendek dan jangka panjang yang bisa diambil untuk mengatasi persoalan ini?
Pertama, keluarga sebagai unit sosial terkecil harusnya mempunyai peran lebih dalam mengontrol anggotanya (baca: anak). Kedua, sekolah. Ihwal yang patut disayangkan, tak diragukan lagi jika guru memiliki basis pedagogi—ilmu kependidikan—yang baik, namun sering kali mereka, entah secara sadar atau tidak, “keceplosan” melabelkan siswa-siswi yang dianggap nakal dengan berbagai label negatif, inilah yang membuat mereka—anak didik—justru tercerabut dari akar dan kian ter-eksklusi. Pada gilirannya, mereka pun bakal beralih pada kelompok atau komunitas-komunitas sosial yang tak terkontrol.

Jangka panjang. Satu hal yang sangat disesalkan adalah, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang tak memberikan pelajaran sastra bagi siswa-siswi di sekolah—bukan pelajaran bahasa Indonesia, tetapi sastra. Pelajaran sastra memiliki fungsi strategis dalam melunakkan pola pikir berikut perasaan para peserta didik, sekaligus memberikan saluran berekspresi yang konstruktif. Dengan demikian, apabila remaja tengah membutuhkan sarana untuk bereskpresi, mereka akan lari ke puisi, cerpen, dan sejenisnya; ini justru melahirkan kreativitas tersendiri. Pembelajaran sastra juga dapat meredam tumbuhnya bibit-bibit radikalisme.

Begitu pula, patut disayangkan, sepuluh-dua puluh tahun lalu kultur menulis diary atau buku harian sempat menggejala, namun sekarang mulai jarang ditemui, berganti gadget dan media sosial yang menyiratkan ketiadaan ruang privat. Apabila tak terkontrol, bentuk-bentuk ekspresi yang diejawantahkan di ruang publik ini pun dapat menimbulkan provokasi-provokasi baru dan serangkaian hal negatif kemudian.


*****

Jumat, 17 Januari 2014

Trayektori Pendidikan [Jurnal Pemikiran Sosiologi-UGM/Vol. 2/No. 1]

Trayektori Pendidikan, antara Praksis-Teoretis
dan Dikotomi Low Science-High Science
Telaah Sosio-Filosofis Nilai Guna
Ilmu Pengetahuan di Era Kapitalisme-lanjut

Wahyu Budi Nugroho


ABSTRAK

Tulisan ini berupaya memaparkan problem trayektori pendidikan dan implikasi domino yang ditimbulkannya. Secara ringkas, “trayektori pendidikan” menunjuk pada ketidakjelasan arah atau ketidakterhubungan antara dunia pendidikan dengan realitas konkret kontemporer. Timbulnya trayektori pendidikan ditengarai oleh perceraian antara teori dengan praksis yang kemudian memunculkan klasifikasi ilmu ke dalam dikotomi low science dan high science. Persoalan menjadi kian pelik manakala dihadapkan pada tatanan kapitalisme-lanjut yang begitu mensakralkan ukuran-ukuran ekonomi sehingga beberapa ilmu pengetahuan (disiplin) dirasa tak lagi relevan keberadaannya. Hal inilah yang nantinya memunculkan problem “alienasi nilai guna ilmu pengetahuan”.  Di sisi lain, posmodernitas yang memayungi tatanan kapitalisme-lanjut turut memicu kontestasi antara legitimasi dengan otodidaktisme yang berujung pada diskursus seputar kepakaran formal dan nonformal. Singkat kata, tulisan ini berupaya mewacanakan kembali kedudukan ilmu pengetahuan sebagai sarana emansipasi manusia, terutama berkenaan dengan aktualisasi diri individu maupun kolektif beserta segenap potensi yang dimilikinya.

Kata kunci; trayektori pendidikan, alienasi, kapitalisme-lanjut.


ABSTRACT

This paper tries to elaborate the problem of education trajectory and its domino effect implications. Briefly, education trajectory refers to uncertain path or disconnection between formal education and contemporary concrete reality. Education trajectory is caused by the separation between the world of theory and praxis, as the results it produces classification of knowledge into dichotomy of low sicence and high science. The problem of it turns to be more complicated when it is vis-à-vis with the late-capitalist system which magnifies economical values, so that some disciplines seem to be irrelevant of their existences. This matter will create another problem so called “utility alienation of science”. On the other hand, postmodernity which shelters the late-capitalist system also triggers competiton between legitimacy and autodidactism creating discourse around formal and non-formal masteries. Shortly, this paper tries to put this issue into a proper discussion related to the existence of science as a tool to achieve humanitarian emancipation, mainly concerning with self-actualisation of individuals and their whole potencies.

Keywords; education trajectory, alienation, late-capitalism

An intellectual is someone whose mind watches itself…”
[Albert Camus, Notebooks 1935-1942]

Minggu, 15 Mei 2011

Tinjauan Kritis Pendidikan

Tinjauan Kritis Pendidikan

Oleh: Koko Wijayanto
Universitas Gadjah Mada

(Fisipol-UGM tempo doeloe [Kraton])

            Melihat relitas kehidupan yang ada dalam masyarakat pada umumnya, disadari atau tidak, kita telah masuk pada era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan hal yang tabu untuk diyakini bahwa pendidikan akan memberi perubahan-perubahan yang nyata dalam masyarakat. Kini, masyarakat ditempatkan pada ranah kehidupan yang semakin berkembang (selalu berubah). Perubahan semacam ini bisa terjadi pada kebudayaan, kebiasaan maupun cara pandang atas suatu gejala/fenomena.

Sebuah citra mengenai masyarakat konsumtif akan mudah dilihat. Seperti halnya penggunaan kendaraan bermotor pada tahun 2000-an, bila dibandingkan dengan keluaran tahun 2010 pastilah berbeda bila dipandang dengan kacamata terkini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semacam ini telah memberi dampak yang sangat drastis selama 10 tahun terakhir. Tentunya, pada umumnya orang akan cenderung memilih kendaraan terbaru untuk digunakan dalam kesehariannya. Selain itu, beberapa makanan cepat saji juga menjadi alternatif bagi masyarakat. Dengan adanya makanan cepat saji, tentu akan memudahkan maupun mempersingkat waktu dalam beraktivitas. “Tidak perlu berlama-lama, Bung! Sekarang semua makanan serba instan.”[1] Anggapan serta kemajuan seperti ini hanyalah contoh kecil saja dari dampak perubahan yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Bapak besar pendidikan seperti Paulo Freire berkata, “Proyek pendidikan diciptakan untuk memberikan … pengetahuan dan transformasi sebagai senjata untuk mengubah dunia.”[2] Sebuah bimbingan untuk membantu kita mengetahui bawasanya kita telah berada dalam dunia yang bisa dirubah dengan “pendidikan”. Di lain sisi, adakalanya pendidikan bisa disalahgunakan sebagai alat legitimasi. Atas dasar kepentingan tertentu, pendidikan juga bisa disalahgunakan pada tempat dan tujuan yang tidak semestinya.

Berbicara mengenai fungsi pendidikan dalam masyarakat, tak dipungkiri bahwa anggapan yang dapat muncul kemudian adalah keterkaitan erat antara pengetahuan dengan kekuasaan. Bagaimana tidak, fungsi ganda pendidikan dapat pula menciptakan serta menjalankan sebuah budaya yang ada dalam masyarakat. Pengaruh besar yang dihasilkan melalui penemuan ataupun kebenaran kiranya akan merubah cara pandang manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Dengan pola seperti ini, tatanan kebudayaan lambat-laun dapat berubah, hingga pada akhirnya ditemui anggapan yang mengklaim bahwa kebiasaan atau tradisi itu kuno, ketinggalan jaman dan sebagainya.

Beberapa aktor yang bermain dalam hegemoni perubahan adalah para intelektual. Sebagaimana pernah diutarakan Presiden Soekarno dalam pidatonya, “… kaoem intelektual adalah kaoem jang akal-fikirannja telah mendapat ‘didikan’ dan pengadjaran.”[3] Sebuah anggapan besar yang termuat dalam benak Soekarno, bahwa para terdidiklah yang nantinya berperan besar dalam dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri, manusia terdidiklah yang dapat merubah budaya, kebiasaan serta cara pandang atas suatu fenomena yang terjadi.

Beberapa tipologi intelektual juga diperjelas oleh Antonio Gramsci. Pendekatan intelektual menurut Gramsci terbagi menjadi empat kelas besar. Pertama, “Intelektual Tradisional”, ialah intelektual yang menyebarkan ide dan berfungsi sebagai mediator masyarakat kelas bawah dengan kelas atas. Kedua, “Intelektual Organik”, ialah mereka peneliti dan pembelajar yang berupaya memberikan refleksi atas keadaan yang terjadi. Namun, hal ini kerap kali dilakukan atas tujuan atau kepentingan kelompok tertentu. Ketiga, “Intelektual Kritis”, kaum intelektual yang mampu melepaskan diri dari hegemoni elit pemerintah yang memiliki kedaulatan untuk berkuasa maupun menguasai. Keempat, “Intelektual Universal”, adalah mereka yang berusaha memperjuangkan proses peradaban budaya yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Berbagai kerangka teoretis terkait kiranya akan mempermudah kita dalam melihat beragam tipe intelektual yang juga erat kaitannya dengan ranah pendidikan.

Jika kita membicarakan definisi dari istilah “revolusi”, tentu tidak akan bermakna jauh dari pengertiannya mengenai perubahan suatu tata kehidupan masyarakat yang menuju ke arah lebih baik. Kiranya, perlu disadari bahwa kegiatan politik dan kekuasaan dapat dipengaruhi oleh konstelasi pendidikan yang ada. Dengan mengetahui fungsi pendidikan yang dapat berpengaruh pada tataran sosial, budaya, ekonomi hingga politik, bisa jadi beberapa pihak menggunakannya untuk menghancurkan tatanan dunia sosial serta meluluhlantahkan kekuasaan yang mapan. Di satu sisi, kekuasaan politik dapat pula mengancam otonomi intelektual melalui pengawasan yang berlebihan terhadap aktivitas intelektual, mematikan setiap gerak dan bahkan hingga melakukan makanisme sensor atas karya intelektual. Di sisi lain, penetrasi uang dapat menjadikan intelektual abai akan panggilan utamanya sebagai agent of change.[4]

Berbagai karya intelektual yang dirahasiakan maupun disensor sudah tentu menghambat perkembangan kemajuan dunia global meskipun pada akhirnya dengan kesungguhan berikut usaha keras yang dilakukan oleh minority creative dapat menyerua ke permukaan. Dalam hal ini, tentunya amat disayangkan jika pendidikan sekedar digunakan sebagai alat kepentingan kelompok tertentu.

“Kehebatan manusia terletak pada kekuatan pikirannya”, ungkap Blaise Pascal, filsuf dan ahli fisika Perancis.[5] Sebagaimana ungkapnya, hakikat kekuatan manusia berada pada otaknya (baca: pikirannya), bukan pada uang, harta atau kekuasaannya. Melalui sudut pandang Pascal, kita akan mengetahui arti penting pendidikan bagi masa depan umat manusia. Laksana sebutir benih anggur yang berkembang subur, nantiya akan menciptakan benih-benih anggur yang baru. Pendidikan memiliki arti penting bagi transformasi dunia di masa mendatang. Melalui pendidikan lah struktur masyarakat dapat berubah dan/atau dirubah, meskipun memang, entah menuju konstelasi perubahan yang lebih baik ataukah lebih buruk mengingat kekuatan politik dan kekuasaan yang selalu bermain di belakangnya. Singkat kata, arah perubahan dunia berikut umat manusia di dalamnya besar dipengaruhi oleh discovery of sciences and technology.


[1] Instrumental rational action (tindakan rasionalitas instrumental), tindakan semacam ini terkait dengan pilihan akan efisiensi dan efektifitas. Tindakan ini dilakukan dengan penuh kesadaran yang tak lepas dari pertimbangan pencapaian tujuan secara instan. Saya ingin berterima kasih kepada Max Weber atas poin ini.
[2] Peter McLaren, Che Guevara, Paulo Freire dan Politik Harapan: Tinjauan Kritis Pendidikan. Diglossia Media, Surabaya, hlm. 14.
[3] Kalimat tersebut diutarakan Soekarno dihadapan ‘Open bare Vergadering PNI Bandoeng dan Jakarta’s pada bulan Desember 1929. Dikutip dari Daniel Dhakidae, 2003, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, Gramedia, Jakarta, hlm. 49-50.
[4] Arizal Mutahir, Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu; Sebuah Gerakan Untuk Melawan Dominasi, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2011, hlm. 10.
[5] Mahbub Djunaidi, 365 Motivasi, Pustaka Ansana, Yogyakarta, 2010, hlm. 10.

Rabu, 16 Maret 2011

Bangku Kelas: Sebuah Penindasan?

Bangku Kelas: Sebuah Penindasan?
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Menjaring Muatan Ideologi melalui Sosiologi Interpretatif
“Ideologi tersebar di sekitar kita!”, demikian sekiranya pungkas para pemikir Mahzab Frankfurt semisal Marcuse, Adorno dan kawan-kawan. Pasca kejayaan fasisme Eropa, bersamaan dengan menguatnya rezim komunisme Soviet, para pemikir Frankfurt Schule ‘Mahzab Frankfurt’ mampu mendudukkan ideologi sebagai suatu “kepalsuan”, pembodohan massal, atau tegasnya, “ sebentuk tipuan picik”.
Menurut mereka, ideologi sengaja diciptakan penguasa dengan sederet kepentingan yang menyertainya: cita-cita fuhrer akan Third Reich mencirikan bentuknya sebagai positivisme, dengan demikian, ia adalah bualan belaka mengingat musykil-nya empirisme-prediktif dalam pandangan pemikir Frankfurt. Oleh karenanya, begitu pula dengan berbagai pidato Hitler di saentaro Jermanbualan belaka.
Dalam perspektif antropologi politik, kebudayaan ajeg mengalami ketegangan dengan dimensi kemanusiaan. Diskursus yang berlangsung di dalamnya adalah, apakah kebudayaan diciptakan oleh manusia, ataukah sebaliknya?. Faktual, dalam ranah politik, kerap kali berbagai upacara besar yang digelar (eksibisi pasukan dan persenjataan) ditujukan guna meyakinkan (baca: menghipnotis) massa akan kekuatan pemerintahnya yang “tak terkalahkan”.
Guna menelanjangi berbagai selubung kepalsuan di atas, para pemikir Frankfurt menelurkan sebentuk konsep bernama “sosiologi interpretatif” yang tergabung dalam tataran pemahaman kritis. Menurut mereka, sosiologi interpretatif berfungsi menafsirkan pola-pola komunikasi antara pihak dominan dengan dormant yang tentunya tak luput dari muatan ideologi-ideologi. Dalam hal ini, dapatlah ditilik bahwa selebaran jalanan berikut informasi yang dirilis pemerintah melalui berbagai media yang ada sekedar menemui bentuknya sebagai ideologi semata, yakni ideologi pelanggengan kekuasaan.


Dalam perkembangannya, sosiologi interpretatif Mahzab Frankfurt tak sekedar ditujukan bagi penelisikan berbagai muatan ideologi dalam konstelasi sosial-politik penguasa dengan rakyatnya, melainkan pula dalam ranah kebudayaan (materi maupun imateri), tentunya tetap dengan mempertahankan aspek emansipatoris (pembebasan) yang selalu diusungnya. Dalam hal ini, kajian Walter Benjamin mengenai ideologi yang mewujud dalam benda-benda kebudayaan kiranya dapat merepresentasikan hal terkait.
Ideologi dalam Benda-benda Budaya
Sebagaimana untaian kalimat yang telah diutarakan di atas, “Ideologi tersebar di sekitar kita!”, apakah kita sadar bahwa jalanan yang kerap kita lalui tak lagi netral dan penuh dengan pretensi-pretensi? Hadirnya beragam baliho dan banner di pinggiran jalan faktual mengandung ideologi: ideologi candu dan konsumerisme (iklan rokok, produk-produk konsumtif, dsb.).  
Begitu pula, sering kali kita tak sadar bahwa bangku kelas pun memuat ideologi. Apabila kita tilik, umumnya bangku kelas—khususnya bangku kuliah—memiliki papan menulis di bagian kanan. Hal tersebut faktual memuat ideologi, yakni “ideologi normal” dan “tak normal/abnormal”. Seakan, mereka yang menulis dengan tangan kanan adalah normal, sedangkan mereka yang “kidal” (menulis dengan tangan kiri) adalah tak normal. Eksistensi bangku kelas dengan papan menulis di bagian kanan jelas menyulitkan mereka—mahasiswa—yang menulis dengan tangan kiri. Melalui hemat perspektif kritis, kondisi emansipatoris kelas dapat diwujudkan dengan ketersediaan beberapa bangku kelas dengan papan menulis di bagian kiri guna mengakomodasi mereka yang kidal.

*****

Sabtu, 12 Maret 2011

MATINYA “MATINYA SEKOLAH”-EVERETT REIMER

MATINYA “MATINYA SEKOLAH”-EVERETT REIMER
REKONSTRUKSI ATAS DEKONSTRUKSI REIMER PADA SISTEM PENDIDIKAN UNIVERSAL
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Pendahuluan
            Gerakkan Reformasi yang terjadi kurang-lebih satu dekade lalu tak hanya merubah struktur pemerintahan Indonesia tetapi juga membawa “angin segar” bagi dunia pendidikan Indonesia. Bergantinya kurikulum CBSA dengan KBK menandai berakhirnya sistem pendidikan gaya bank sebagaimana dikritisi Paulo Freire.[1] Momen tersebut secara tidak langsung membangkitkan kembali kajian atas tokoh-tokoh besar pendidikan seperti Paulo Freire di atas, Philip H. Coombs, Neil Postman, Ivan Illich dan tentunya Everett Reimer.[2]
Hal ini tampak melalui tanggapan kreatif berbagai percetakan yang ada dengan penerbitan ulang buku-buku yang ditelurkan sejumlah tokoh pendidikan di atas. Dalam paper ini, kiranya penulis cukup tertarik melakukan analisis singkat terhadap salah satu dari sejumlah “buku besar” pendidikan di atas yakni School is Dead karya Everett Reimer. Adapun buku yang hendak dikaji penulis merupakan edisi lama (1987) yang saat itu karena berkuasanya rezim otoriter Orde Baru memaksa penerbit melunakkan judul buku tersebut, dari judul yang seharusnya Matinya Sekolah menjadi Sekitar Eksistensi Sekolah, namun penulis telah memastikan bahwa cetakan lama buku ini tetap dijumpai kesamaan muatan dan substansi dengan cetakan baru.[3]  
Harus kita akui bahwa ide-ide para ‘pembesar’ pendidikan di atas tampaknya begitu subversif namun menawan dan mempesona kita. Saya menganggap bahwa ini seharusnya juga menjadi catatan penting tersendiri, yakni jebakan-jebakan pada romantisme ide-ide pembebasan. Bukannya saya menempatkan diri sebagai anti-Subversif dan dekonstruksionis,  hanya saja analisis yang saya lakukan pada School Is Dead karya Reimer menemukan banyak hal yang tidak lagi relevan di era sekarang ini. Oleh karena itu, dalam paper yang singkat ini saya berupaya menyajikan berbagai ide Reimer yang kiranya tidak relevan dan membutuhkan pembenahan bagi penyesuaian-penyesuaian situasi dan kondisi saat ini.  

Sekilas “Matinya Sekolah” Karya Everett Reimer
Dalam bagian pendahuluan, Reimer mengakui bahwa buku yang ia tulis ini merupakan hasil diskusi apiknya dengan Ivan Illich selama kurang-lebih 15 tahun. Ia dan Illich secara tidak sengaja bertemu di Puerto Rico yang kala itu sedang menggalakkan industrialisasi besar-besaran, Reimer saat itu menjabat selaku sekretaris panitia Sumber-Sumber Tenaga Kerja Manusia Pemerintahan Persemakmuran, bertindak sebagai konsultan tenaga kerja dan rekomendator suatu program pendidikan untuk menopangnya sedangkan Illich menunaikan “tugas suci” dari Kardinal Spellman yang diembankan kepadanya untuk mengorganisasi suatu program latihan bagi para pastur.[4]
Dalam bagian pendahuluan ini pula Reimer mengemukakan motivasinya dalam penulisan buku ini, yaitu “melihatnya sebagai ramalan yang akan menjadi kenyataan”. Baginya juga, menjadikan seseorang sadar akan kebiasaan-kebiasaan buruk institusionalnya dan dapat merubahnya kemudian menjadi sesuatu yang ditawarkan dalam tesis ini.[5]
Membaca School Is Dead karya Reimer akan membawa kita pada beberapa poin penting yang menjadi isu utama buku tersebut. Beberapa poin inilah yang seyogyanya menjadi sorotan utama kita dalam mempertimbangkan sekali lagi relevan-tidaknya ide-ide Reimer bagi dunia pendidikan kontemporer. Apakah benar pemikiran-pemikiran Reimer di atas betul-betul dapat terwujud atau tidak, kiranya pemaparan selanjutnya dapat menjadi pertimbangan seksama bagi kita.    

Hidupnya Sekolah
Hidupnya Ketidakadilan
Dalam tulisannya Reimer kerap berbicara masalah keadilan dalam pendidikan, sekolah sebagai media indoktrinasi serta tema-tema pembebasan manusia lainnya. Satu untaian kalimat yang diungkapkannya dan tampaknya bakal sulit untuk kita lupakan, bahwa sekolah hanya mengajarkan pada murid-muridnya untuk seolah-seolah mempercayai bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama seperti siswa-siswi lainnya yang faktual kesempatan tersebut sama sekali tidak ada,[6] atau dapatlah dikatakan sebagai sebuah ilusi yang dikatakan secara terus-menerus supaya tampak sebagai buah kebenaran. Ketika Reimer berbicara masalah ini maka akan kita lihat penekanan pada aspek materi, baginya tebal-tipis “kantong” orang tua sangat berpengaruh pada kesempatan-kesempatan tersebut. Sekolah yang secara konkret hanya menjadi tempat pengawasan anak, kemudian mengakumulasi kekayaannya lewat biaya-biaya pengawasan yang kian meningkat seiring bertambah umur murid-murid, inilah yang kemudian menyebabkannya semakin sulit dijangkau.[7]
Dari analisis sekolah secara internal yang dilakukan Reimer, ia kemudian beranjak pada analisisnya secara eksternal yakni melihat bagaimana “produk-produk” sekolah mempengaruhi situasi dan kondisi masyarakat, bukan hanya pada taraf lokal-nasional tetapi juga pada cakupannya yang lebih luas yaitu masyarakat internasional. Ide Reimer mengenai suatu karir yang dapat dicapai seorang siswa berprestasi hendaknya tidak mematikan peluang atau kesempatan berkarir siswa yang lain terkesan begitu “indah” di benak kita,[8] namun pertanyaan yang cukup mengusik batin menghampiri kita kemudian, apakah benar hal tersebut betul-betul dapat terwujud, hal itu lebih tampak pada tatanan masyarakat utopia Thomas More (1516).[9] Apa yang menjadi kesepakatan bagi kita adalah tiadanya masyarakat yang tidak terstratifikasi, baik mahzab konflik maupun struktural fungsional mengakui hal ini, hanya saja dengan perspektif yang mereka kembangkan masing-masing.[10]
Menilik sekali lagi pada salah satu konsepsi pendidikan Reimer tersebut agaknya juga mengingatkan kita pada konsepsi masyarakat take off Marx di mana “menjadi mungkin bagi kita untuk mengerjakan sesuatu hari ini dan hal yang lain lagi esok harinya; berburu di pagi hari, memancing di siang hari, beternak di sore hari, dan menjadi kritikus setelah makan malam, tanpa menjadi pemburu, nelayan, peternak dan kritikus”.[11] Inilah yang kemudian- seperti halnya konsep masyarakat sosialis Marx-kita dapat menyimpulkan bersama bahwa konsepsi pendidikan Reimer berkait keadilan kesempatan dalam pendidikan tak lebih dari isapan jempol belaka. Hal tersebut diperkuat dengan adanya fakta bahwa Tiongkok Komunis di bawah Mao Tse Tung pada dekade 60-an menemukan kebuntuan dalam usaha “memecahkan” stratifikasi sosial yang diciptakan sekolah.[12]
Dalam masalah ini saya berupaya memberi masukan di mana aspek keadilan yang dimaksudkan Reimer haruslah yang bersifat ‘kecenderungan’, bukannya yang bersifat konkret atau meteriil.[13] Keadilan dalam arti ‘kecenderungan’ dimaknai dengan apa yang tertanam dalam batin, perasaan atau jiwa, sedangkan apa yang bersifat konkret adalah sesuatu yang tampak secara fisik-materiil semisal kesempatan karir, harta, kekayaan dan lainnya, hal ini penting mengingat utopisnya kesamaan kesempatan karir, pemilikan harta serta kekayaan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Penekanan pada keadilan yang ‘berkecenderungan’ memberikan kita kesempatan-kesempatan untuk menghindar dari radikalnya paham sosialisme, egosentrisnya kapitalisme, sebaliknya bila dapat saya katakan, hal itu justru akan membimbing kita pada bentuk-bentuk kapitalisme religius, yakni kembalinya etika-etika kerja berbagai agama besar.

Hidupnya Indoktrinasi
            Kritik penting lain yang dikemukan Reimer atas sekolah adalah fungsi institusi tersebut sebagai media pengendali sosial dan indoktrinasi. Dalam membahas masalah ini teradapat dualitas “nilai” yang kita hadapi, nilai sekolah sebagai sarana pengendali sosial dan indoktrinasi yang disangka positif oleh kaum konservatif sedangkan nilainya yang negatif-sebagai bentuk pembodohan, kepalsuan dan pernyataan yang tidak sebenarnya-bagi para ahli, pakar atau revisionis pendidikan.[14] Indoktrinasi bagi mereka selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang buruk, atau setidaknya seperti suatu ideologi yang patut dihindari jauh-jauh.
            Apa yang ingin saya ungkapkan di sini, apabila kita cermati lebih dalam kritik Reimer di atas, maka perjumpaan dengan kontradiksi-kontradiksi pemikiran Reimer setelahnya tidaklah terhindarkan. Dalam bab-bab berikutnya setelah mengemukakan kritiknya atas sekolah sebagai media indoktrinasi, ia menekankan pentingnya sekolah sebagai pewaris dan penjaga tradisi berpikir Yunani yang kemudian memunculkan renaissance Eropa di abad 15-18.[15] Tak hanya itu saja, Reimer juga mengakui sumbangsih sekolah pada abad pertengahan yang menelurkan tokoh-tokoh besar peradaban seperti Agustinus dan Thomas Aquinas.[16] Dalam hal ini, tampaklah bagi kita bahwa doktrin-doktrin pemikiran Yunani sendiri pada akhirnya “berjasa” bagi masyarakat yang mewarisinya. Tentunya, saya tidak menutup mata terhadap “samarnya” pengertian indoktrinasi dalam konteks-konteks tertentu, namun demikian dalam pembahasan berkait pewarisan tradisi pemikiran Yunani ini saya menemukan adanya intertelektualitas yang dalam pandangan Bordieu dapat disebut sebagai “terdoktrin” atau “tak terbebaskan dari kekuatan yang menentukannya”.[17] 
            Di satu sisi, pandangan yang dikemukakan Reimer di atas menandakan lemahnya pemahaman Reimer atas fungsi-fungsi strategis dari penggunaan doktrin-doktrin dalam masyarakat. Pada ranah ini-bukan maksud saya mengagungkan fasisme-apabila lebih jernih kita melihatnya, pencapaian-pencapaian besar yang diperoleh Napoleon Bonaparte tidak lepas dari doktrin nasionalisme yang disuntikkan pada rakyatnya, atau bila kita melihat kebangkitan Italia yang menyerukan Italia Irradenta di bawah Mussolini yang kala itu dijuluki sebagai Il Duce maka hal itu tak lepas pula dari indoktrinasi yang dilakukan Mussolini pada rakyat Italia kala itu. Hal yang lebih fantastis dan sistematis adalah menilik apa yang dilakukan Hitler pada rakyat Jerman pasca Perang Dunia I, dengan doktrin Deutchland Uberalles sang Fuhrer mampu membangkitkan perekonomian Jerman yang mati akibat Perjanjian Versailles.[18] Kesemua hal di atas salah satunya memerlukan peran strategis institusi sekolah atau sejenisnya dalam upaya melakukan  indoktrinasi. Pandangan kita terhadap “doktrin” tidak harus sesempit ini, kemunculan berbagai peradaban besar religius dunia kiranya tidak lepas pula dari berbagai doktrin yang “dijunjung” bersama. Kita melihat bagaimana kanonisasi lembaga gereja yang mendominasi dunia, begitu juga dengan khilafah Islamiyyah.
            Agaknya kritik Reimer atas indoktrinasi sekolah kian menemui kenaifannya di era kontemporer, pasalnya, sosiolog kenamaan semisal Giddens menyoroti arti penting survillance institution ‘lembaga pengontrol/pengawas’ sebagai lembaga yang mengatur arah atau jalannya perubahan sosial. Lembaga ini, seperti apa yang dikatakannya, berfungsi mengatur sejauh mana ketakutan atau kepanikan yang seharusnya atau tidak seharusnya dialami masyarakat yang notabene ketakutan tersebut berguna bagi keselamatannya sendiri.[19] Kiranya kita perlu meninjau ulang pernyataan Reimer bahwasanya doktrin sekedar mengakomodasi kepentingan orang dewasa, anggapan yang demikian memiliki andil besar terhadap pencitraan negatif atas doktrin. Dalam hal ini dengan demikian, seperti apa yang anda lihat, saya berupaya melakukan dekonstruksi pencitraan negatif atas doktrin, dan kiranya saya berupaya melakukan rekonstruksi bagi pencitraan positif doktrin. Saya pikir ilmuwan-ilmuwan sosial harus mulai membuka mata dan pikirannya bahwa terminologi doktrin tidak sepicik yang mereka kira, doktrin memiliki sisi-sisi strategis bagi kontinyuitas kelanjutan hidup bersama, ilmuwan sosial juga harus mulai sadar dan membuka diri bahwa konsep-konsep eksistensialisme dalam ranah  ilmu-ilmu sosial dan humaniora seperti apa yang diusung Kierkgraad, Sartre, Camus dan tokoh-tokoh lainnya cepat-lambat akan menemui kebuntuan karena memang dunia dengan berbagai kompleksitasnya bukan tempat yang potensial untuk hidup bebas ‘sebebas-bebasnya’-mewujudkan berbagai kritik yang muncul dari ratusan juta kepala manusia. Keyakinan kita atas sisi positif doktrin agaknya akan kian menguat ketika menginsyafi bahwa tidak ada satu pun manusia yang benar-benar obyektif karena memang bentuk-bentuk keobyektifan hanya disusun melalui konsep intersubyektif. Dengan demikian, dalam melihat realitas ini saya sepakat dengan Watson atas tantangannya membentuk salah satu dari  selusin bayi sehat menjadi spesialis tertentu sesuai dengan minatnya, bahwa faktual tidak satu pun bayi yang terlahir di dunia ini yang tidak terdoktrin oleh orang tuanya.[20]  

Hidupnya Kurikulum
            Berbicara mengenai aspek-aspek pembebasan manusia juga menjadi poin penting dalam pemikiran Reimer mengenai pendidikan, setidaknya terdapat dua aspek pembebasan manusia yang menjadi sorotan Reimer, pertama, pembebasan manusia dari kurikulum sekolah dan kedua, pembebasan manusia untuk menjadi apa saja yang diinginkannya selepas dari sekolah. Khusus bagi aspek kedua, jika dikaji lebih jauh maka titik temu terhadap poin pertama pemikiran Reimer yakni keadilan dalam pendidikan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.
            Seperti halnya pakar-pakar pendidikan lain, Reimer menganggap kurikulum sebagai bentuk ‘pengetahuan mati’,[21] peserta didik tak diperkenankan memperdalam apa yang menjadi minatnya, kurikulum bak momok yang memenjarakan kapasitas intelektual. Upaya Reimer guna melegitimasi argumennya dilakukan dengan memetik kata-kata salah satu jenius yang pernah dimiliki dunia yakni Einstein, ia pernah berkata bahwa apa yang menghambatnya dalam studi adalah sekolah itu sendiri, lanjut Einstein, ia juga mengatakan kehilangan minat berbagai pekerjaan kreatif akibat waktunya yang tersita untuk menyiapkan berbagai ujian sekolah.[22] Bagi Reimer pembebasan kurikulum bakal berdampak positif bagi orang-orang seperti Einstein, tetapi yang menjadi permasalahan kemudian, tidak setiap siswa-terutama mahasiswa-memiliki pola pikir yang sama seperti Einstein-katakanlah sebagai mahasiswa yang memiliki kemapanan berpikir. Efisiensi dan efektivitas guna membina mahasiswa-mahasiswa berbakat seperti Einstein hendaknya dilakukan dengan menyediakan sekolah-sekolah khusus berikut dengan berbagai ketentuan kualifikasi peserta didik tentunya.
            Apa yang menjadi cita-cita Reimer untuk “mengenyahkan” kurikulum sekolah agaknya kian sulit diwujudkan saat ini. Dalam meninjau hal ini kita tidak perlu membaca buku yang tebalnya beratus-ratus halaman atau melakukan analisis selama bertahun-tahun lamanya, hal ini cukup jelas tampak dalam kehidupan sehari-hari kita di mana para pelajar, terutama pada tingkatan SMA dan perguruan tinggi larut dalam budaya hedonis siang dan malam, berlomba-lomba melakukan konsumsi hasil kontruksi pabrik-pabrik bergengsi, tenggelam dalam gaya hidup dan bukannya pemenuhan kebutuhan hidup. Hal ini, seperti apa yang saya lacak, menjangkiti mahasiswa-mahasiswa di berbagai belahan dunia, budaya ini tak hanya berlangsung di tahun-tahun terakhir ini, bahkan telah berlangsung sejak 1970-an (pasca gerakan Kiri-Baru),[23] apa yang menjadi pijakan saya dalam hal ini salah satunya adalah kesaksian Hawking di mana pada 1970-an ia menuntut ilmu di Cambridge dan menemui bahwa mahasiswa-mahsiswa yang benar-benar serius dalam belajar-jumlahnya sangat minoritas-hanya menjadi bahan olok-olok teman-temannya.[24] Kebanyakan mahasiswa dunia kala itu larut dalam kehidupan kampus yang glamor, foya-foya, tiada malam tanpa pesta dan sayangnya budaya tersebut masih berlanjut hingga kini.   
            Melihat berbagai realitas di atas, cukuplah akal sehat kita mengakui bahwa kurikulum agaknya kian absurd untuk ditiadakan saat ini. Jika kita mengkaji lebih dalam lagi, pemaknaan sekolah pada awal-awal berdirinya yakni di era Yunani Kuno atau jauh sebelum itu, dalam upacara-upacara manusia primitif memang memandang budaya-budaya hedonis di atas tidak ada salahnya sama sekali karena memang sekolah berasal dari kata scholay yang berarti waktu luang, jadi pada pakem awalnya sekolah adalah tempat untuk mengisi waktu luang.[25] Namun, perkembangan zaman melalui kemajuan teknologi dan pembangunan-pembangunan dinamisnya menggugurkan itu semua, sekolah kemudian tak dapat sekedar menjadi tempat pengisian waktu luang atau sambilan semata, konstelasi Eropa abad pertengahan, Kekhalifahan Islam dan dengan berjalannya waktu hingga saat ini menjadikannya sebagai suatu institusi yang mutlak dan wajib eksistensinya bagi kemakmuran dan ketahanan suatu bangsa dan negara.


Penutup
            Hingga saat ini, kita masih juga bingung menimbang bagaimana menghancurkan budaya-budaya hedonis di atas sekaligus mewujudkan tradisi apollonian[26] dalam masyarakat, khususnya pelajar. Apakah mengkonstuksi belajar sebagai sebuah “panggilan” tuhan yang dengan demikian secara tidak langsung meletakkan kembali dasar etika-etika kerja berbagai agama besar dunia menjadi jawaban, hal ini tentunya masih membutuhkan penyelidikan dan pengujian lebih jauh lagi.

*****




[1] Lihat Adhe (Ed.), Belok Kiri Jalan Terus, Alinea, Yogyakarta, 2005, h. 60.   
[2] Untuk melihat sekilas ide-ide berbagai tokoh besar pendidikan di atas akses Djoko Adi Walujo, Sekolah Mati, Pendidikan Almarhum, Pengajaran=Subversif, http://djokoawcollection.blogspot.com/2007/12/one-teacher-on-blog-teacher-bloger.html
[3] Cetakan terbaru buku Reimer (pasca-Reformasi) dikeluarkan oleh penerbit yang sama (Hanindita) pada tahun 2000 berikut dengan judul yang sama dengan buku aslinya yakni Matinya Sekolah.
[4] Everett Reimer, Sekitar Eksistensi Sekolah, Hanindita, Yogyakarta, 1987, h. 1-6. Dapat kita lihat, bagian kecil dari Amerika Latin inilah-Puerto Rico-yang kemudian menjadi laboratorium Reimer dalam membangun ide dan konsepnya mengenai pendidikan.   
[5] Ibid., h. 4-6. Pernyataan Reimer berkait “ramalan yang akan menjadi kenyataan” patut kita kritisi lebih jauh mengingat kentalnya muatan positivisme di dalamnya.    
[6] Ibid., h. 36.
[7] Ibid., h. 14.  
[8] Ibid., h. 35.
[9] Lihat Karl Mannheim, Ideologi dan Utopia, Kanisius, Yogyakarta, 1991, h. xvii.
[10] Baca Irving M. Zeitlin, Memahami Kembali Sosiologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1995.
[11] Muhidin M. Dahlan (Editor), Sosialisme Religius, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2002, h. 47.
[12] Everett Reimer, op. cit., h. 18.
[13] Ibid., h. 141. Suatu bentuk pengorbanan yang dianggap menguntungkan oleh banyak orang ialah mempertukarkan kuantitas dengan kualitas. 
[14] Ibid., h. 119. Bagi Reimer, Paulo Freire memberikan definisi terbaik bagi terminologi pendidikan yakni suatu proses yang secara kritis menyadarkan orang akan realita dengan cara yang mengakibatkan tindakan efektif terhadap realita itu. Dengan kata lain, seorang yang terdidik akan cukup memahami dunianya untuk dapat menanggulanginya secara efektif.    
[15] Ibid., h. 46.
[16] Loc. cit.
[17] Baca George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Kencana, Jakarta, 2006, h. A-7 hingga A-9.
[18] Lihat Jules Archer, Kisah Para Diktator, Narasi, Yogyakarta, 2004, h. 55-64 & 141-152.
[19] Baca Anthony Giddens, The Third Way, Gramedia, Jakarta, 1999, h. xii-xxii
[20] Lihat Linda Smith & William Raeper, Ide-Ide, Kanisius, Yogyakarta, 2000, h. 36.  
[21] Everett Reimer, op. cit., h. 10. Ingin saya tambahkan bahwa adakalanya benar kurikulum hanya menciptakan orang-orang ‘ensiklopedik’ yakni mereka yang mengetahui banyak hal namun tidak mendalam, sekedar pada permukaannya saja, dampak yang ditimbulkannya kemudian sangat jelas, yakni kian berkurangnya para ahli dalam bidang-bidang tertentu.
[22] Ibid., h. 23.
[23] M. Achmad Icksan, Mahasiswa dan Kebebasan Akdemik, Hanindita, Yogyakarta, 1985, h. 35. Saya justru melihat mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam gerakan Kiri-Baru memiliki kemapanan berpikir dan sangat potensial menjadi intelektual-intelektual muda, jauh berbeda dengan generasi-generasi mahasiswa setelahnya.  
[24] Metro TV, Biography Channel-Stephen Hawking.
[25] Everett Reimer, op. cit., h. 44-45.
[26] Dave Robinson, Nietzsche dan Posmodernisme, Jendela, Yogyakarta, 2002, h. 65. Apollonian merupakan lawan dari Dionsyian, prinsip Apollonian adalah berpikiran harafiah, rasional, intelek dan teratur, sedangkan prinsip Dionsyian berkaitan dengan keliaran, kehewanan dan instabilitas.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger