"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Tampilkan postingan dengan label Resume Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resume Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

Resume: "DEMOCRACY AND ITS GLOBAL ROOTS" (By Amartya Sen)

Resume:
"DEMOCRACY AND ITS GLOBAL ROOTS" (By Amartya Sen)
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


I.
            Perwujudan alam demokrasi di Iraq menuai skeptisme dan pesimisme, hal ini dikarenakan adanya ketidakpastian dan ke-ambigu-an dalam berbagai proses demokratisasi di wilayah tersebut. Pergerakan demokrasi di Afrika Selatan, Argentina, Indonesia, Burma dan Zimbabwe menandakan adanya pengaruh masyarakat untuk berjuang dalam partisipasi politik dan ke-efektif-an suara. Masalah di Iraq lebih dari itu, terdapat hal-hal laten yang sulit diidentifikasi.
            Timbul suatu debat, apakah demokrasi dapat diterima di negara-negara miskin, apakah demokrasi dapat diukur melalui barometer ekonomi dan perubahan sosial seperti, kecukupan pangan, meningkatnya pendapatan perkapita dan reformasi lembaga-lembaga pemerintah. Penciptaan demokrasi bagi masyarakat yang secara sejarah mempunyai kultural tersendiri akan menuai ketidaktahuan akan hal itu (prosedur dan produk-produk demokrasi seperti HAM, dll.). Demokrasi adalah suatu ide yang hanya bisa ditemukan (dan asli) dari Eropa-tidak di tempat lainnya.
            Konsep terpenting ialah masyarakat dapat berpartisipasi dalam diskusi politik dan mempengaruhi keputusan/kebijakan yang mambawa pengaruh luas bagi masyarakat. Namun demikian, voting adalah salah satu jalan penting untuk membuat diskusi public berjalan dengan efektif-saat voting tersebut dikombinasikan dengan kesempatan untuk bicara dan mendengar tanpa rasa takut karena pada dasarnya kekuatan dan pencapaian pemilu berdasar pada diskusi public.
            Menentukan suara secara sepihak sangatlah menyedihkan, hal itu mengilustrasikan sebuah rezim tirani dan otoriter. Dari Soviet-Stalin hingga Iraq-Saddam Hussein. Permasalahannya bukan hanya pada perolehan suara, namun juga karena adanya penekanan terhadap pihak oposisi dan rakyat sipil. Sudut pandang akan demokrasi menjadi baik  dalam bingkai kebebasan terhadap pemilu dan pemberian suara, hal ini tidak hanya didiskusikan dalam filosofi politik tetapi juga suatu pikiran tepat yang mempengaruhi kondisi ekonomi. Proses pengambilan keputusan melalui diskusi dapat memberikan informasi akurat mengenai kebutuhan sosial dan individual, seperti perkataan James Buchanan, definisi dari demokrasi adalah “pemerintahan yang berdasar pada diskusi public”, yang berimplikasi adanya individu dapat merubah proses pengambilam keputusan.
            Keseluruhannya memunculkan pertanyaan mendalam mengenai focus dominan dalam pemberian suara dan pemilu bagi keadilan dunia, yang diartikan Samuel P. Huntington dalam 3 gelombang; pemilu yang terbuka, bebas dan adil-adalah esensi dari demokrasi. Di dalam demokrasi juga terdapat jaminan akan adanya berbagai paham untuk tumbuh dan berkembang (pluralime).
            Pada dasarnya perkembangan demokrasi juga dapat kita lihat melalui akar-akarnya yaitu “institusi demokrasi”. Hal ini diperkenalkan pertama kali oleh Tocqueville pada tahun 1835 dalam “Demokrasi di Amerika”, Ia mencatat bahwa Revolusi demokrasi merupakan hal baru saat itu. Kemenangan dari pluralisme, diversitas dan kebebasan dapat ditemukan dalam berbagai sejarah sosial. Pemberangusan debat public, masalah sosial dan budaya dapat dilihat di India, China, Jepang, Korea Utara, Iran, Turki, dunia Arab dan banyak tempat di Afrika. Lama-kelamaan muncul kesadaran akan pentingnya ide demokrasi. Namun berbagai pertanyaan juga sempat muncul, bahwa demokrasi berasal dari Barat dan merupakan salah satu isu westernisasi.
            Dalam autobiografinya, “Long Walk to Freedom”, Nelson Mandela menggambarkan betapa tertekannya ia di masa muda. Ia mengatakan bahwa demokrasi adalah “ketika seseorang ingin bicara, ia dapat bicara”. Beberapa Antropolog, Meyer Fortes dan Edward E. Evans Pritchard meneliti bahwa 60 tahun yang lalu struktur kehidupan sosial di Afrika dipegang dan dikuasai oleh Raja. Praktek Apartheid di Afrika sangatlah menyengsarakan penduduk lokal, pasalnya mereka (penduduk lokal) tidak memiliki hak akan pemenuhan ekonomi, sosial dan budaya serta yang lebih penting lagi tidak memiliki hak sipil dan politik. Perjuangan demokrasi juga sempat terjadi di Inggris, Prancis, Portugis dan Kekaisaran Belgia.
II.
            Ide mengenai demokrasi pada intinya menggambarkan keadaan masyarakat Barat yang terhubungkan dengan praktek voting dan pemilu di Yunani Kuno khususnya di Athena sejak abad ke-5 SM. Namun demikian, wanita dan para budak belum diperbolehkan memberi suara, tetapi pada dasarnya proses demokrasi sedang terjadi dan berjalan di sana.
            Anggapan bahwa demokrasi berasal dari konsep barat dapat dilihat dalam dua segi, pertama, berdasar pemberian suara/ pemilu di Athena, padahal tidak semua masyarakat dapat menerima adanya toleransi, puralisme dan diskusi public. Kedua, adanya keterkaitan geografis, pada masa Yunani Kuno beberapa negara/wilayah menjadi satu kesatuan yang harus tunduk pada satu aturan yaitu demokrasi, berbeda dengan keadaan saat ini, namun sulit juga pada saat itu untuk menghilangkan rasialis.
            Salah satu hal yang ditunjukkan oleh Alexander The Great dalam menolak rasialisme adalah melakukan diskusi public terhadap warga India. Luasnya wilayah Yunani saat itu sendiri juga memberikan dampak tersebar luasnya ide-ide yang berasal dari Yunani. Walaupun ide demokrasi tidak masuk Iran namun adanya tradisi pemungutan suara yang dilakukan penduduk setempat mengidentifikasi  bahwa demokrasi telah ada di sana. Harus dicatat tentunya bahwa demokrasi tidak dapat diterapkan pada suatu negara yang memiliki wilayah yang luas cetus Montesqieue dan Rosseau, sebab daerah seperti itu membutuhkan kepemimpinan terpusat yang kuat.
            Saat India merdeka pada tahun 1947 dan menerima ide demokrasi, membuat India dikenal sebagai negara demokrasi terbesar di abad ke-20. India tidak hanya menganut ide barat secara murni dan serampangan, Nehru juga memasukkan budaya-budaya India sendiri di dalamnya. Sebagai contoh, toleransi dan pluralisme yang ditunjukkan melalui cerita Ashoka dan Akbar, hal ini berdampak dengan adanya konstitusi multipartai yang modern di India. Meskipun demikian proses demokrasi di India juga mengalami hambatan karena adanya pandangan satu arah dan komunalisme.
III.
Dalam literatur sejarah mengenai demokrasi, terjadi kontradiksi/perbedaan tafsir antara Plato dengan Aristoteles, Marsilius dari Padua dengan Machiavelli, Hobbes dengan Locke dan lain-lain. Hal ini menandakan bahwa demokrasi tidak memiliki parameter secara global serta dapat diterjemahkan dalam berbagai bentuk di berbagai negara/wilayah sesuai kepentingan penguasa yang bersangkutan.
            Alasan ideal public yang mendekati adanya demokrasi adalah adanya toleransi terhadap berbagai sudut pandang dan keterbukaan terhadap diskusi public. Ada perbedaan yang tajam antara tradisi toleransi barat dengan nonbarat khususnya sewaktu Saladin merebut Jarussalem dalam Perang Salib (Crussade). Meskipun terjadi konflik yang berkepanjangan antara Muslin dengan Yahudi, sejarah tetap mencatat bahwa setelah penaklukan  Muslim terjadi, pihak minoritas dari Yahudi tetap mendapat perlindungan dari Muslim.
            Kita tidak seharusnya terperangkap dalam argumen bahwa nonbarat memiliki demokrasi yang lebih toleran dibanding dengan barat, karena baik dari kedua sisi semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Poin kesamaan dapat dilihat melalui adanya diskusi public. Persamaan lain dapat dilihat dalam ajaran Budha yang dibawa oleh Gautama, di dalamnya terdapat toleransi dan pluralisme. Ajaran Budha ini pada akhirnya menyebar ke berbagai negara dan wilayah di Asia seperti ke China, Jepang dan Korea-yang tentunya membawa dampak tehadap perubahan strukur sosial-politik masyarakat yang bersangkutan. Secara tidak langsung eksternalisasi ajaran tersebut juga memberikan landasan berpijak terhadap penerimaan akan demokrasi modern.
IV.
Pengacuhan terhadap suara public secara tidak langsung merupakan pen-distorsi-an terhadap ide/nilai-nilai serta sejarah demokrasi. Hal itu juga merupakan parameter sukes-tidaknya demokrasi yang berjalan dalam suatu masyarakat. Proporsi diskusi yang begitu besar pada dasarnya berdampak signifikan dalam demokrasi (seperti yang terjadi di India), kediktatoran militer di Ethiopia, Sudan atau Somalia bahkan kepartaian tunggal di Uni Soviet tahun 30-an, China tahun 50-an dan Kamboja serta Korea Utara tahun 70-an. Situasi dan kondisi yang terjadi saat itu memberikan peluang yang kecil sekali bahkan tidak mungkin bagi public/individu mengkritik maupun memberikan suara berkait masalah-masalah yang dihadapinya seperti kelaparan.
Berubahnya pandangan otoriter di negara-negara tersebut khususnya di Asia dapat dilihat melalui beberapa kejadian. Salah satu kejadian tersebut adalah meluasnya wabah virus SARS yang melanda Asia pada tahun 2002. Nampaknya kehidupan demokrasi yang berjalan di negara-negara Asia tersebut adalah adanya perhatian dan partisipasi total pemerintah setempat dalam penanganan kasus meluasnya wabah virus tersebut.
V.
Keberadaan nilai dari suara publik apabila terdapat tindak lanjut secara nyata yang dilakukan pemerintah. Salah satu alternatif untuk menghilangkan otoriterisme seperti yang terjadi di Republik Korea Utara dewasa ini adalah dengan peningkatan kesadaran rakyat sendiri terhadap liberasi. Pengidentifikasian demokrasi sebagai “pemerintahan berdasar diskusi” memberikan sumbangsih yang besar dalam melacak sejarah dan akar-akar demokrasi secara global. Berbagai ide yang diberikan barat pada nonbarat mengenai demokrasi pada dasarnya telah ada sebelumnya.
Hal ini menunjukkan intelektualitas sosial tersendiri bangsa-bangsa nonbarat. Penerimaan akan ide demokrasi dan berbagai prinsip yang terdapat di dalamnya dapat menjadikan kehidupan sosial di berbagai penjuru dunia semaikn baik. Hal itu juga dapat membantu menggerakkan kembali nilai-nilai budaya yang berasaskan keadilan.

 *****


Referensi:
The New Republic
04 October, 2003.

Sabtu, 12 Maret 2011

22 Segi Masalah Kependudukan

Resume: 22 Segi Masalah Kependudukan
By Wahyu Budi Nugroho


Identitas Buku;
Pengarang: Lester R. Brown, et. al.
Penerbit: Sinar Harapan
Cetakan I, 1982


1.       Kepandaian Membaca dan Menulis
Telah lima abad berlalu sejak Gutenberg menemukan mesin cetak, namun demikian prosentase penduduk buta huruf tetap saja begitu besar di dunia yakni mencapai kurang-lebih tujuh ratus juta jiwa pada tahun 1950 dan meningkat menjadi delapan ratus juta jiwa pada tahun 1975. Satu kendala akut yang dihadapi negara-negara berkembang ialah, umumnya masyarakat dengan tingkat buta huruf yang tinggi memiliki angka kelahiran yang tinggi pula. Dengan demikian, alokasi dana yang ada mau-tak mau teralokasikan pada berbagai program kesejahteraan di mana pendidikan belum mendapat perhatian yang cukup serius di dalamnya.
Diakui atau tidak, pemberantasan buta huruf dunia memiliki dua urgensi, antara lain urgensi ekonomis dan politis. Aspek pertama yakni ekonomi, sangatlah jelas jika mereka yang jauh lebih berpendidikan memiliki akses pada berbagai sumber daya pendapatan dan kekuasaan ketimbang pada mereka yang tak berpendidikan. Kedua, yakni aspek politik, tak dapat dipungkiri bahwa saat ini kerja sama internasional merupakan suatu yang lumrah dalam hubungan antarnegara. Dalam jejaring hubungan tersebut faktual akal sehat harus “berperan” di dalamnya, dan guna mewujudkan kondisi yang demikian (masyarakat berakal sehat) kepandaian membaca dan menulis memiliki kedudukan yang tak dapat dianggap remeh di dalamnya.

2.       Perikanan Samudera
Suatu tesis yang menyatakan bahwa laut menyediakan sumber daya protein dan cadangan pangan tak terbatas sebagai konsekuensi tergerusnya persediaan pangan di darat faktual merupakan tesis kosong belaka. Tercatat, jumlah negara yang bersaing guna memperebutkan sumber daya laut kian meningkat pesat antara dekade 1960-an hingga 1970-an. Di satu sisi, hal tersebut diperparah dengan kegagalan program peternakan dan pertanian Uni Soviet yang seketika itu juga memaksa negara adikuasa tersebut turut turun bersaing dalam kancah perebutan sumber daya laut.
Beberapa negara yang tercatat dalam persaingan di atas antara lain Jepang, Korea Selatan, India, Soviet, Ekuador dan Peru. Khusus Peru, negara ini tercatat sebagai salah satu eksportir ikan terbesar di dunia. Hasil tangkapan ikan Peru menyumbang satu perlima dari total tangkapan ikan dunia. Namun demikian, dampak negatif dari eksploitasi laut besar-besaran tersebut tampak jelas di kemudian hari, jumlah ikan di sekitar 200 mil wilayah teritorial Peru kian menyusut jumlahnya. Hal tersebut memaksa Peru menghentikan kegiatan eksploitasinya hingga jumlah aman yakni 9,5 juta ton. Konsekuensi yang timbul kemudian jelas, hal tersebut menyebabkan kembali terjadinya tekanan eksploitasi pada sumber daya darat.

3.       Tempat Tamasya
Tempat bermain golf, taman kota dan berbagai tempat tamasya lainnya telah menjadi persoalan yang cukup peka bagi masyarakat bebagai belahan dunia dewasa ini terkait dengan aspek “kepemilikan”. Di Jepang misalkan, tuntutan akan pembangunan lapangan golf meningkat drastis di mana tercatat jumlah pemain golf di negara tersebut dua kali lipat melebihi kapasitas lapangan golf yang ada.
Di sisi lain, pemugaran tempat-tempat tamasya layaknya taman nasional dan cagar alam faktual memiliki dampak negatif pula atas ekologi. Melalui hadirnya tempat-tempat tersebut, ini berarti bahwa kebutuhan akan air bersih, listrik, tempat pembuangan sampah dan berbagai hal lain yang kental terkait dengan kehidupan masyarakat modern kian meningkat. Hal yang ditimbulkannya kemudian sangat jelas, terutama meningkatnya polusi dan kerusakan alam. Sebagai respon atas hal tersebut, pemerintahan AS misalnya, memberlakukan izin masuk yang lebih ketat pada berbagai kawasan di atas, bahkan muncul wacana untuk menutup taman nasional sehari dalam setahun agar alam dapat “beristirahat”, memperbaiki dirinya dan tak terusik keindahan alaminya.
Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah munculnya ekspansi teritori negara maju atas negara terbelakang di mana negara-negara maju membeli berbagai daerah negara terbelakang guna dijadikan tempat tujuan wisata warganya. Konkretnya, hal tersebut tampak melalui munculnya berbagai infrastruktur mewah di pedalaman Inca yang terpencil. Terkait fenomena tersebut, kerap kali negara-negara terbelakang tak memiliki bergaining position yang memadai atas negara-negara maju sehingga yang terjadi kemudian lebih tampak sebagai “ekspansi teritori”.

4.       Pencemaran
Proses penghancuran sampah merupakan proses alami yang begitu penting bagi alam. Hanya saja, ketika jumlah sampah yang ada tak mampu lagi “dicerna” dan diproses oleh alam maka hal tersebut akan menimbulkan masalah urgen bagi kehidupan manusia. Tumpukan sampah yang tak mampu diproses oleh bumi bakal menimbulkan masalah bagi ketersediaan air bersih, lahan potensial berikut menimbulkan pencemaran udara. Dalam hal ini, bentuk-bentuk polusi semisal hidrokarbon khlorine dan radioaktif patut mendapat perhatian lebih mengingat jangka waktu begitu lama yang dibutuhkan berbagai polusi tersebut untuk hancur dan lebur.
Permasalahan pencemaran lain yang juga hadir sebagai back wash effect dari kegiatan ekonomi semisal residu pupuk kimia dan pestisida yang mengancam ketersediaan air bersih, upaya memperbesar cadangan minyak bumi yang merusak ekologi tundra Alaska berikut tumpahan berton-ton galon minyak yang terjadi di Torrey Canyon. Disadari atau tidak, kesemua hal di atas potensial mengancam kehidupan manusia di masa mendatang jika tak dilakukan penanganan dan perhatian lebih serius terhadapnya.
   
5.       Inflasi
Tahun 1970-an menjadi titik tolak kecemasan akut para pemimpin dunia atas ancaman inflasi berkepanjangan. Para ekonom pun bertanya-tanya mengingat berbagai strategi guna mengatasi inflasi sebelumnya gagal diterapkan kala itu. Secara umum, inflasi terjadi ketika permintaan pasar tak mampu terpenuhi sehingga terjadi kelangkaan barang dan jasa.
Beberapa permasalahan inflasi di atas antara lain mencakup bidang pertanian dan perikanan berikut sektor perindustrian. Di bidang pertanian, hal tersebut tampak melalui ketidakmampuan pemenuhan pangan masyarakat. Sejak tahun 1970-an biaya produksi pertanian meningkat drastis yakni mencakup prihal ketersediaan pupuk urea dan pestisida, hal tersebut belum lagi dihadapkan pula pada permasalahan lahan yang kian susut dari waktu ke waktu serta jumlah penduduk yang kian bertambah secara signifikan.
Dalam sektor perikanan, ditemui drastisnya penurunan tangkapan ikan dari tahun ke tahun yang tak pelak disebabkan oleh eksploitasi berlebih pada periode-periode sebelumnya. Di bidang perindustrian, penyebab inflasi mirip dengan sektor pertanian yakni akibat membengkaknya biaya produksi sehingga mengakibatkan kian mahalnya pula komoditas yang muncul di pasaran.

6.       Penyakit Karena Pencemaran Lingkungan
Tak dapat dipungkiri bahwa pencemaran lingkungan diakibatkan oleh ulah manusia sendiri yakni merupakan ekses diterapkannya teknologisasi yang membawa efek toxic. Penggunaan bahan kimia dan asap pembakaran pabrik yang menyebabkan perubahan lingkungan memunculkan beragam penyakit seperti emphysema, lumpuh, infeksi, penyakit jantung dan kanker.
  Dalam hal ini, kanker terutama, menjadi momok masyarakat dewasa ini. Suatu penyakit yang sebelumnya tak pernah ditemui dalam catatan sejarah umat manusia dan terjadi akibat mutasi tubuh dengan bahan-bahan kimiawi. Kanker merupakan jenis penyakit yang tak pandang bulu, menyerang baik mereka yang tua maupun yang muda serta baik si kaya maupun si miskin. Tercatat, satu perlima kematian anak-anak usia di bawah 15 tahun diakibatkan oleh penyakit ini. Kanker dapat timbul melalui air, udara dan tanah yang tecemar oleh zat-zat kimiawi dan kemudian bersenyawa dengan tubuh.

7.       Kelaparan
Kelaparan menjadi kecemasan yang saling berhubungan dengan permasalahan kependudukan lainnya. Harga pupuk tinggi dan persediannya terbatas, di sisi lain kotoran hewan lebih kerap digunakan sebagai bahan bakar ketimbang pupuk mengingat kian langkanya kayu bakar. Hal tersebut diperparah dengan ledakan jumlah penduduk yang terjadi. Kesemua hal tersebut tak pelak mengakibatkan kerawanan pangan. Kini, dunia internasional makin tergantung dengan hasil produksi pertanian Amerika Utara. Sebelumnya, sempat muncul harapan mampu teratasinya permasalahan pangan dunia, namun dengan kegagalan besar panen Uni Soviet membuat harapan tersebut kian “jauh panggang dari api”.

8.       Perumahan
Rumah berdinding tanah liat datar Di Timur Tengah serta rumah berbahan baku bambu di Asia menunjukkan keanekaragaman budaya yang ada. Namun demikian, dengan munculnya banyak permintaan atas rumah, maka semakin banyak pula kebutuhan akan kayu, semen, tanah dan bahan bakar. Faktual, hal tersebut pada akhirnya menyebabkan kian terbatasnya kemampuan penyediaan rumah.
Baik di negara berkembang maupun negara maju kurangnya ketersediaan rumah kiranya begitu dirasakan dewasa ini. Di negara berkembang, di mana kota didaulat sebagai pusat pembangunan dan pertumbuhan, hal tersebut menyebabkan harga rumah di perkotaan kian mahal. Konsekuensi yang muncul kemudian, banyak keluarga yang tak mampu membeli atau menyewa rumah di perkotaan sehingga terdesak ke daerah pinggiran dan mendirikan rumah-rumah yang terbuat dari kardus atau kaleng. Hal tersebut jelas menimbulkan masalah mengingat kurangnya akomodasi pendidikan, kesehatan, air bersih dan berbagai pelayanan dasar lainnya pada lingkungan kumuh. Di negara maju, satu dari lima keluarga tak mampu membeli rumah sendiri pada tahun 1920-an, dengan berangsung-angsur meningkatnya kegiatan ekonomi, pada tahun 1950-an hasrat besar masyarakat negara maju untuk memiliki rumah di tengah hijaunya alam bukan impian lagi. Namun, di era 1970-an kembali terjadi kelangkaan rumah layaknya pada tahun 1920-an di mana satu dari lima keluarga tak mampu memiliki rumah sendiri.

9.       Perubahan Iklim
Tak dapat disangsikan lagi bahwa manusia memiliki andil besar dalam membentuk wajah lingkungannya. Perubahan iklim yang tak disengaja mengakibatkan perubahan pola hidup, ancaman kesehatan dan berbagai kerentanan lainnya. Pembakaran bahan bakar fosil dan kayu bakar tak pelak mengingkatkan kadar karbondioksida, begitu juga dengan debu sebagai ekses kegiatan pertanian dan perkotaan, kesemua hal di atas menyebabkan perubahan suhu dan iklim di mana pada akhirnya mempengaruhi curah hujan. Bila hal ini terjadi, maka dapat ditelisik secara ekplisit bakal mengancam produksi pangan dunia.

10.   Penggembalaan yang Melampaui Batas
Apabila jumlah penduduk meningkat maka jumlah hewan ternak pun otomatis akan meningkat. Bila hal tersebut terjadi tanpa dibarengi perhatian yang serius maka dapat berdampak pada banyak gundulnya padang rumput. Di satu sisi, akan lebih berbahaya lagi jika hewan ternak tak hanya menggunduli padang rumput tetapi juga merusak pepohonan dan ternak. Penggembalaan ternak di negara berkembang telah mengakibatkan banyaknya lahan gundul dan begitu riskan mengakibatkan terjadinya erosi. Apabila erosi terjadi di banyak tempat maka tanah tak akan mampu lagi menunjuang kehidupan masyarakat sekitar.

11.   Hidup Berdesak-Desakan
Di Jawa, kepadatan penduduk yang terjadi begitu nyata. Banyak penduduk mengungsi ke daerah pegunungan dan bercocok tanam di sana sehingga ketika letusan gunung terjadi mereka harus dievakuasi dan tak sedikit pula di antaranya yang menjadi korban. Di Bangladesh, penduduk terpaksa mengungsi pada dataran paling rendah untuk hidup sehingga kerap kali menjadi korban banjir ketika musim hujan tiba.
Percobaan dalam laboratorium menunjukkan bahwa hidup berdesak-desakan berdampak buruk pada tikus, kelinci, kijang dan hewan lain. Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa hidup berdesak-desakan menimbulkan kekacauan tingkah laku sosial. Hubungan sosial menjadi lebih keras karena merebutkan sumber daya yang terbatas.

12.   Pendapatan
Ahli pembangunan ekonomi selama ini memusatkan perhatian pada pertumbuhan penduduk. Hal tersebut penting mengingat pertumbuhan penduduk menyita begitu banyak hasil-hasil pembangunan. Sempat suatu kali, perdana menteri Kuba menegaskan bahwa pada tahun 1980-an setiap keluarga di Kuba akan memiliki rumah, mobil, kulkas besar dengan beranekaragam makanan di dalamnya. Namun, faktual hal tersebut tak terwujud, terjadi penurunan angka pertumbuhan ekonomi yang tak disangka sebelumnya. Tetapi, perlu dicatat pula kiranya, hal tersebut tak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di negara maju, sebut saja Soviet, Amerika Serikat, Prancis, Jerman dan Jepang.
Apabila laju pertumbuhan penduduk tetap terjadi secara radikal tanpa diimbangi pertumbuhan ekonomi yang memadai maka kesempatan untuk meningkatkan kualitas kehidupan jelas tak mungkin dilakukan. Masalah sosial dan politik yang berkonsekuensi pada kerawanan kehidupan manusia dipastikan bakal terjadi.

13.   Urbanisasi
Revolusi Industri di Inggris pada abad 19 tak pelak menarik minat masyarakat desa untuk bermigrasi ke daerah perkotaan. Di satu sisi, jumlah lahan pedesaan kian menyusut dari waktu dan dari generasi ke generasi. Hal tersebut mengakibatkan kian rendahnya mutu hidup manusia dan masarakat di hari depan.
Dampak lain yang hadir bersamaan urbanisasi telah jelas, kian munculnya banyak pengangguran perkotaan, pendapatan yang kian minim akibat ketidakmampuan masyarakat desa mengikuti pola dan gaya hidup masyarakat kota. Kesemua hal di atas, sebagaimana kita ketahui bersama, kian meningkatkan angka kemiskinan penduduk.

14.   Penggundulan Hutan
Pertumbuhan penduduk yang signifikan berdampak pada kian susutnya luas hutan di dunia. Beberapa hal tersebut tampak melalui munculnya penggundulan hutan guna lahan pertanian, eksploitasi hasil-hasil hutan guna kepentingan perumahan dan lain sebagainya. Dampak dari perilaku tersebut begitu jelas, yakni menyebabkan terjadinya erosi tanah dan memunculkan bencana tanah longsor berikut kian terbatasnya ketersediaan udara bersih.

15.   Sengketa Politik
Pertumbuhan penduduk yang cepat mengakibatkan kian langkanya berbagai sumber daya yang dibutuhkan manusia. Hal ini, sebagaimana diakui, tak hanya berpengaruh pada konstelasi nasional tetapi juga dunia internasional. Permintaan atas sistem politik yang memadai guna menuntaskan segala permasalahan di atas meningkat signifikan. Di satu sisi, permintaan tersebut tak dapat dipenuhi secara instan sehingga pada akhirnya menyebabkan stagnasi sistem politik. Hal tersebut, setidaknya saat ini tampak melalui ketidakmampuan pemerintah menyediakan lapangan kerja, pangan berikut tampat tinggal bagi warganya. Penelitian atas hubungan pertumbuhan penduduk dengan sengketa politik masih jarang dilakukan, oleh karenanya perhatian atas tema-tema tersebut perlu secara serius dilakukan.

16.   Hasil Tambang
Menurut penelitian yang dilakukan, ekspolitasi hasil tambang dewasa ini jauh lebih besar dan masif ketimbang yang terjadi di era Perunggu hingga Perang Dunia II. Saat ini eksploitasi yang dilakukan atas barang-barang tambang terjadi secara merata. Hal tersebut memunculkan ancaman yang jelas bahwa beberapa dekade ke depan barang-barang tambang akan habis. Oleh karenanya, perhatian atas eksploitasi barang tambang yang bertanggung jawab bagi generasi mendatang syarat dilakukan.

17.   Pelayanan Kesehatan
Tercatat, kebutuhan akan pelayanan kesehatan kian meningkat dari waktu ke waktu, dalam hal ini, setiap tahun terdapat 70 juta manusia yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Hal tersebut disadari atau tidak, sebagai konsekuensi pula atas pesatnya laju pertambahan penduduk. Sayangnya, permintaan yang signifikan atas pelayanan kesehatan tak mampu dipenuhi, ini berarti angka kematian bayi atau ibu melahirkan dapat diprediksi bakal meningkat dari tahun ke tahun. Di sisi lain, ide penggunaan petugas kesehatan bakal sia-sia belaka jika laju pertumbuhan penduduk tetap tak terbendung.

18.   Air
Dahulu, sumber air perkotaan cukup diperoleh melalui sumber-sumber yang terdapat di sekitar pemukiman semisal sumber air tanah dangkal. Namun, dewasa ini hal tersebut tak memungkinkan lagi. Kini, kebutuhan akan sumber air harus diperoleh atau dikirim melalui daerah lain, semisal melalui waduk atau perusahaan air minum. Hal tersebut disebabkan oleh kian meningkatnya kebutuhan air akibat ledakan jumlah penduduk. Andaikan hal tersebut terus berlangsung, maka tak pelak bakal memicu kelangkaan air di masa mendatang.

19.   Pengangguran
Munculnya fenomena imigran gelap yang rela mengorbankan hubungan kebangsaan, tanah air, bahkan kekeluargaan merupakan indikator betapa putus asanya orang-orang tersebut dalam memperoleh pekerjaan. Mereka mengorbankan rasa malu sebagai imigran gelap demi mendapatkan penghasilan.
Harus diakui, fenomena di atas terjadi akibat ketidakmampuan suatu pemerintahan menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Tercatat, perbandingan antara pencari kerja dengan lapangan kerja adalah 2:1. Idealnya, pada setiap 1% kenaikan jumlah penduduk layaknya diikuti dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. Pengangguran memiliki berbagai implikasi sosial dan psikologis antara lain putus asanya seseorang karena matinya daya cipta dan kreasi, rasa malu pada lingkungan sekitar dan berbagai dampak negatif lainnya.

20. Jenis Kehidupan yang Terancam
Bertambahnya jumlah manusia faktual berpengaruh signifikan bagi eksistensi makhluk hidup lainnya yakni tumbuhan dan hewan. Dalam hal ini, kebutuhan manusia yang tak terbatas atas protein hewani memaksa kian berkurangnya populasi hewan di sekitar lingkungan manusia. Belum lagi, berbagai polusi baik air, tanah dan udara yang diakibatkan oleh industrialisasi menyebabkan terancamnya keanekaragaman hayati flora dan fauna. Tercatat, kepunahan hayati yang terjadi jauh lebih cepat ketimbang prediksi yang dilakukan para ilmuwan. Dampak yang dapat ditimbulkannya di kemudian hari begitu jelas yakni terancamnya ekosistem dan ekologi kehidupan di kemudian hari.

21. Energi
Setiap tambahan satu manusia pada penduduk berarti tambahan pula atas kebutuhan energi dunia. Setiap manusia perlu makan, umumnya mereka menggunakan bahan bakar kayu atau fosil. Mereka membutuhkan pula listrik guna menunjang kehidupannya sehari-hari. Pertumbuhan penduduk jelas melahirkan permintaan yang kian besar akan energi. Ketidakmampuan negara-negara menyediakan energi bagi rakyat membuatnya berpaling pada energi-energi berbahaya seperti nuklir. Tanpa adanya pengendalian laju pertumbuhan penduduk dunia akan dihadapkan pada permasalahan energi yang mencemaskan di masa mendatang.

22. Kebebasan Perorangan
            Ledakan penduduk memaksa munculnya aturan yang begitu ketat terhadap tingkah laku manusia. Hal tersebut disebabkan oleh ketersediaan sumber daya yang kian terbatas sehingga hubungan antara manusia dengan alamnya yakni tumbuhan maupun hewan berikut hubungannya antarmanusia yang lain dirasa perlu diatur sedemikian rupa sehingga terhindar dari self destruction ‘penghancuran diri’. Namun, di satu sisi, hal di atas berimplikasi pula pada perorangan yang merasa kebebasannya direnggut bahkan bisa jadi pola-pola pemerintahan klasik yang dikuasai segelintir orang dan menindas sebagian besar yang lain terulang kembali. Di sisi lain, satu apologi yang bisa jadi muncul kemudian adalah sistem peraturan yang mengikat dan memaksa mau-tidak mau harus dilakukan demi kebaikan masyarakat itu sendiri.

Kesimpulan
            Melalui berbagai penjabaran dan uraian di atas dapatlah ditelisik lebih jauh bahwa laju tingkat pertambahan penduduk yang begitu pesat memiliki berbagai dampak negatif bagi kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai dampak negatif tersebut tak memandang usia baik muda ataupun tua, status ekonomi baik kaya maupun miskin melainkan seluruh lapisan masyarakat dunia. Oleh karenanya, perhatian lebih dan serius oleh pemerintah berikut berbagai organisasi internasional diharapkan lebih mampu berperan dalam upaya mencari solusi terbaik guna mengatasi berbagai permasalahan di atas.

*****

Teori Pembangunan dari Kiri ke Kanan

RESUME: TEORI PEMBANGUNAN DARI KIRI KE KANAN
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Judul Asli        : From Right to Left in Development Theory
(Diterjemahkan seizin penulisnya)
Kevin P. Clements
Penerjemah      : Endi Haryono (Dosen FISIP UPN, Yogyakarta)
Penyunting      : Kamdani
Cetakan I, Agustus 1997
PP.97.130
Desain Cover   : Ari Widjaja
Ilustrasi            : “Dari Pintu ke Pintu”, karya Dede Eri Supria
Tata Letak        : Ayu
Pracetak           : Widodo
Penerbit           : Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI)
Glagah UH IV/343 Telp. (0274) 381542
Yogyakarta 55164
Pencetak          : Pustaka Pelajar Offset
ISBN                : 979-9075-02-5


KATA PENGANTAR
            Tulisan ini membahas implikasi politik dari beberapa teori pembangunan terkemuka, meliputi :
  1. Asumsi-asumsi dasar setiap teori
  2. Kesimpulan-kesimpulan politik khusus yang bersumber dari beberapa teori tersebut
Tulisan ini bermain dalam ranah teori sebagai alat legitimasi politikus dan cendekiawan dalam perumusan pembangunan, dan kedua, teori sebagai solusi masalah-masalah sosial dan ekonomi. Dalam hal tertentu, perlu dipertegas bahwa teori akan menjadi ideology ketika ia digunakan sebagai rasionalisasi ilmiah bagi promosi kepentingan-kepentingan tertentu.
Kesimpulan dari buku ini menegaskan bahwa teori Marxis dan Neo-Marxis memberikan penjelasan terbaik mengenai pembangunan dan keterbelakangan  pada tingkat nasional maupun internasional. Di samping itu juga karena penerapan Neoklasik dan Strukturalis yang cenderung membuat gap yang lebih tajam antara si kaya dan si miskin.

Kevin P. Clements

PENDAHULUAN
            Telah diketahui dengan pasti bahwa dunia saat ini berada dalam hagemoni Barat, tiga puluh negara maju menguasai 90% pendapatan, cadangan finansial dan produksi baja dunia (Andre Gunder Frank, Millenium : Journal of International Studies, Vol. 7, No. 2, 1978, hal. 153). Di sisi lain, usaha guna meningkatkan produktivitas negara-negara Asia yang disokong oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) buatan AS yang memberikan sumbangan dana 4 juta dollar terbukti gagal. Teori dunia yang cenderung kapitalistik terbukti selama tiga puluh tahun terakhir ini menghasilkan ketimpangan dunia, baik di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
            Teori dalam struktur ilmu sosial membantu menjelaskan fenomena ekonomi, sosial dan politik. Menurut definisi, teori adalah suatu abstraksi dunia nyata yang telah diuji dalam hubungannya dengan fakta-fakta objektif mengenai peristiwa-peristiwa sehari-hari, tetapi teori juga merupakan bagian dari kesadaran subjektif tentang dunia, dan memberi pengaruh yang besar terhadap paramater prilaku manusia.
            Teori-teori sosial kental dengan muatan politik dan ekonomi, sehingga menjadi tugas sosiolog guna memberikan jawaban apakah sebuah teori digunakan sebagai sarana legitimasi atau pembenaran ilmiah atas kepentingan tertentu, khususnya bagi teori-teori pembangunan yang kental dengan muatan Sosiologi, Ekonomi dan Politik. Bagi W. Elkan, perlu diamati lebih mendalam, terutama negara-negara berkembang yang menjadi sasaran “tembak” negara-negara maju, Elkan mengatakan bahwa ekonomi pembangunan merupakan masalah negara-negara yang belum maju.
            Bagaimanapun juga, teori-teori pembangunan yang ada belumlah jelas tertata, hal ini tidak menutup kemungkinan mengundang kepentingan-kepentingan asing di dalamnya, seperti Bank Dunia (IBRD), IMF, ADB dan berbagai badan pembangunan PBB. Para pengambil keputusan yang berada di belakang badan-badan tersebut berusaha mengambil keputusan-keputusan berdasarkan teori-teori yang paling masuk akal (ilmiah?) dan secara politis dapat diterima. Namun, dengan mudahnya ketika suatu teori pembangunan gagal merealisasikan impiannya, dengan mudah para pengambil kebijakan tersebut berubah halauan.
            Suatu realitas yang tak terbantahkan bahwa para pembuat keputusan di negara-negara berkembang didominasi oleh teknokrat, menjadi penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi asumsi dari teori-teori yang digunakan teknokrat tersebut mengingat sebagian besar teori-teori pembangunan disusun di negara-negara maju. Terkadang, menjadi suatu penyakit ketika proposisi-proposisi tersebut diuniversalkan atau kemudian diterapkan di negara dunia ketiga. Pertimbangan tersebut tidak lepas dari teguran seorang ekonom bernama Paul Streeten yang menyatakan bahwa Neoklasik sendiri secara tiba-tiba menjadi seolah ketinggalan zaman, hal ini membuktikan pula bahwa sejarah akan menerangkan baik-buruknya suatu teori.
            Sebagai contoh penerapan Neoklasik yang tidak pada tempatnya adalah filosofi “pasar bebas” Milton Friedman di Argentina, Cile, Uruguay dan Brazil yang cenderung mengandung muatan kepentingan negara-negara maju. Untuk lebih jelasnya, Todaro membagi paradigma pembangunan menjadi dua, antara lain Teori-Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi-yang sangat berkaitan dengan Neoklasik dan Teori-Teori Internasionalis-Struktural.

I
TEORI PERTUMBUHAN NEOKLASIK
            Neoklasik digawangi oleh Hicks, Samuelson, Johnson-dan terutama sekali Milton Friedman. Mereka beranggapan efektifitasnya pembangunan ketika diserahkan pada mekanisme pasar. Neoklasik muncul ketika Keynesian dianggap tidak mampu menyelesaikan krisis yang ada. Teoretisi Neoklasik berasumsi pada :
1.       Membiarkan system ekonomi dunia seperti apa adanya
2.       Tidak menghendaki penyusunan kembali ekonomi domestic secara radikal
3.       Dapat diakomodasikan dengan filsafat politik yang konservatif
4.       Terbukti telah menunjukkan keberhasilan di Korea Selatan, Brazil danTaiwan
5.       Mengganti pengeluaran tidak produktif menjadi investasi industri
Teoretisi Neoklasik beranggapan bahwa masalah keterbelakangan adalah ketidakmampuan negara-negara nonindustri mengikuti jejak industrialisasi negara-negara Barat. Rostow yang tergolong penyokong mahzab Neoklasik, populer dengan teori tahapan yang dikemukakannya, antara lain :
  1. Masyarakat tradisional
  2. Masyarakat prakondisi tinggal landas
  3. Tinggal landas
  4. Pematangan
  5. Konsumsi massa yang berlebihan
Rostow berasumsi bahwa kegagalan negara-negara Asia pada tahapan tinggal landas dikarenakan kesulitan dalam memobilisasi tabungan domestic dan luar negeri dalam rangka mempercepat investasi produktif. Rostow menyamakan pembangunan sebagai kemampuan suatu negara menabung, berinvestasi, meningkatkan produktivitas dan menambah pendapatan riil. Bagi Rostow, pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan tujuan nasional sebagai jaminan pasaran produksi barang-barang mereka di masa depan dan menangkal Sosialisme-Komunisme. Di sisi lain Daniel Lerner cukup sinis beranggapan bahwa keterbelakangan negara-negara dunia ketiga diakibatkan oleh budaya masyarakat itu sendiri sehingga sangat penting melakukan pendidikan transformasi dari tradisional ke modern.
Beberapa Akibat Politik
Akibat politik yang disebabkan oleh Neoklasik antara lain :
  1. Campur tangan negara terjadi ketika muncul krisis yang mengancam kesejahteraan individu dan sosial
  2. Intervensi negara hanya diperbolehkan guna mengatasi distorsi harga
  3. Investasi hanya diperbolehkan dengan timbal-balik keuntungan maksimal
  4. Pengendalian terhadap militansi serikat buruh
  5. Menguntungkan negara-negara yang telah mapan
Negara-negara yang menggunakan varian Neoklasik umumnya berhasil meningkatkan GNP mereka namun disertai pengorbanan sosial yang besar sehingga yang kemudian muncul adalah wacana banyak negara yang ekonominya meningkat secara kuantitatif  namun disertai juga dengan peningkatan kemiskinan “tumbuh dengan kemiskinan”. Trickle down effect tidak berjalan seperti yang diharapkan, oleh karena itu kemudian  muncul varian teori-teori lain guna menjelaskan :
  1. Berbagai hambatan pertumbuhan
  2. Paradoks “tumbuh dengan kemiskinan” dalam pertumbuhan ekonomi.
II
MODEL STRUKTURALIS
            Raul Prebisch adalah tokoh yang paling erat dengan model Strukturalis, sementara tokoh-tokoh lain yang selalu mendukung seperti C. Furtando dan Dos Santos. Strukturalis muncul sebagai respon atas Neoklasik yang tak menjelaskan mengapa negara-negara Amerika Latin tidak mampu berkembang sendiri. Prebisch dan tokoh-tokoh lain pada dasarnya memusatkan perhatian pada berbagai hambatan “structural” yang merintangi negara-negara Amerika Latin. Lebih jelasnya, strukturalis telah jauh pesimis menanggapi keuntungan yang didapat melalui perdagangan bebas.
            Pioner-pioner tokoh ini menganggap bahwa industrialisasi yang berorientasi ekspor sebagai halangan besar terhadap pembangunan nasional karena kebijaksanaan tersebut menumbuhkan kantong-kantong asing dengan seabrek kepentingan yang tidak sejalan dengan penduduk asli. Dengan kata lain, Strukturalis menekankan pemecahan masalah pada tingkat masing-masing negara, bahkan Prebisch selaku sekjen UNCTAD saat itu merubah halauan pemecahan masalah ekonomi dari skala internasional ke nasional, inilah yang secara jelas membedakannya dengan aliran Marxis dan Neomarxis mengenai pembangunan yang tergantung karena mereka beranggapan bahwa pembangunan nasional tidak akan berubah selama ekonomi dunia tidak berubah. Bagi Strukturalis hubungan dengan negara-negara lain merupakan hambatan-yang sampai pada tahap tertentu dapat diatasi melalui penerapan teknologi modern. Prebisch lebih jauh mengatakan bahwa di bawah system sosial yang semacam ini (Neoklasik) tabungan potensial, sumber daya manusia, tanah dan modal tersembunyi begitu saja.
Dengan kata lain, Strukturalis berasumsi pada :
  1. Mengakui pentingnya akumulasi modal
  2. Kekuatan teknologi sebagai factor pedorong utama perekonomian
  3. Hambatan pembangunan adalah distribusi pandapatan dan kekayaan, oleh karena itu Strukturalis menganjurkan adanya redistribusi pendapatan.
Bagi Strukturalis, redistribusi pendapatan berarti :
  1. Memberantas kekayaan yang bersifat oligarkhi
  2. Mampu membebaskan elemen “sosial dinamis”
  3. Penguasaan keterampilan teknik, administrasi dan akhirnya keberhasilan alih teknologi.
4.       Elemen terpenting dalam pembangunan dan redistribusi pendapatan adalah “kemauan politik”
Teori Strukturalis dan Neoklasik mengakui usaha-usaha bebas, perbedaan yang mencolok adalah Strukturalis memilki penjelasan lebih terperinci mengapa suatu pembangunan dapat berhasil atau gagal. Strukturalis dan Neoklasik menegaskan intervensi dalam perombakan pasar secara mendalam guna mencapai redistribusi dan full of employment ‘padat karya’. Teori Neoklasik sangat percaya pada keuntungan pasar sedangkan Strukturalis meragukannya mengingat kerugian yang selalu ditimbulkan pada negara penyedia bahan baku.
Strukturalis beranggapan bahwa pembangunan tidak dapat dilakukan dalam keadaan internasional dan nasional yang cacat, seperti ekspor yang tidak bisa memberikan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut (keadaan nasional yang cacat) dapat dipecahkan dengan jalan pembatasan pertumbuhan penduduk, peningkatan tabungan nasional, penggunaan teknologi yang tepat serta pengurangan kantong-kantong modal asing. Modal asing, menurut Prebisch perlu diatasi dengan campur tangan pemerintah.

III
BEBERAPA AKIBAT POLITIK
            Kebijaksanaan ekonomi dan politik Strukturalis dan Neoklasik pada umumnya dilihat bertentangan satu sama lain.
  1. Tujuan utama pembangunan  Strukturalis adalah pertumbuhan ekonomi agar pendapatan riil dan redistribusi berlangsung sehingga muncul kekuatan sosial dinamis
  2. Hambatan structural akan jatuh pada kewajiban pemerintah untuk menghilangkannya dengan tanpa paksaan, sebab pasar tidak mampu menetapkan kebijakan yang dapat mengatasi hambatan-hambatan structural.
  3. Pentingnya tindakan pemerintah guna mengawasi persediaan inelastic barang dan jasa untuk mengatasi permintaan yang meningkat, dengan kata lain mereka berusaha mempercepat mobilisasi sumber daya (tanah, tenaga kerja dan modal), akibat yang ditimbulkan antara lain:
a)       Sektor pertanian      : reformasi kepemilikan tanah
b)       Sektor industri         : diversifikasi ekspor untuk menjaga impor, konsekuensi à berkembang industri substitusi impor
c)       Sebagai akibat logis dari b), redistribusi pendapatan akan mengurangi ketimpangan tabungan antara yang kaya dengan yang miskin. Si kaya akan berhenti mengkonsumsi barang-barang mewah yang tidak produktif
4.       Pemerintah dapat campur tangan dalam memperbesar pendapatan melalui kebijakan pajak
5.       Mengatur kebijakan luar negeri dalam upaya mendukung pembangunan nasional, berupa :
a)       Menganut dua atau tiga tingkat system pertukaran dan memberikan insentif bagi eksportir
b)       Ekspor sebagai pelopor pertumbuhan ekonomi
Namun demikian, bagaimanapun juga, keberhasilan program-program di atas terutama sekali ditentukan oleh kemauan politik rakyat dan birokrasi yang efisien. Di sisi lain, tidak diterimanya kerangka solusi ini, menunjukkan masih kuatnya kepentingan politik dan ekonomi yang dominan yang berakar di dunia ini.


IV
TEORI KETERBELAKANGAN DAN KETERGANTUNGAN
MARXIS DAN NEOMARXIS
            Terdapat kesamaan pendapat antara Marxis dan Neomarxis dalam kaitannya dengan keberhasilan dan kegagalan pembangunan suatu negara. Teori Marxis dan Neomarxis-bagaimanapun juga berbeda dengan teori Neoklasik dan Strukturalis. Implikasi sosial dan politik pendekatan ini lebih luas dibandingkan Neoklasik dan Strukturalis. Marxis dan Neomarxis memiliki latar belakang historis yang sangat kuat, dan berbagai proposisi dari teori ini dibuat melalui realitas konkret, artinya dipusatkan pada dampak khusus dan nyata dari imperialisme dan kolonialisme di negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin.
            Marxis dan Neomarxis menjadikan ekonomi dunia atau kapitalis global sebagai alat analisis utama, mereka menggunakan analisis :
1.       Untuk menentukan bagaimana produksi kapitalis merubah formasi sosial dan ekonomi prakapitalis
2.       Untuk menerangkan keterbelakangan dan bukan perkembangan yang dialami negara dunia ketiga
3.       Untuk memahami peran apa yang dimainkan negara dunia ketiga dalam pembagian kerja ekonomi internasional
4.       Untuk menunjukkan kepentingan yang saling bertentangan antara negara-negara industri dengan negara pinggiran dan semi pinggiran
5.       Untuk menjelaskan perpindahan sumber daya produksi dalam ekonomi kapitalis
6.       Untuk menunjukkan bahwa pembangunan dalam kapitalis tidak memperkecil ketimpangan melainkan memperbesar
Frank menunjukkan bahwa sumber daya alam berpindah pada negara-negara metropolitan/pusat sedangkan negara-negara satelit/pinggiran dibiarkan kehabisan bahan mentah yang seyogyanya dibutuhkan bagi pembangunan mereka sendiri. Marxis dan Neomarxis meyakini bahwa apa yang terjadi atau tidak terjadi di negara dunia ketiga ditentukan oleh negara-negara dunia pertama, mereka mengatakan bahwa pusat pembangunan berada di negara-negara metropolitan, bukan pada satelit. Marxis dan neomarxis juga menyatakan bahwa dorongan akumulasi di negara-negara pusat mengakibatkan ketimpangan bagi negara pinggiran, lebih jauh, secara tegas dijelaskan bahwa prasyarat pembangunan negara kapitalis adalah dengan menciptakan ketimpangan dalam negara dunia ketiga, bahkan apabila terjadi industrialisasi di negara dunia ketiga, ini pun cenderung akan menjadi industri yang tergantung.
Berkelanjutannya ketidakadilan ekonomi di atas, diterangkan Marxis dan Neomarxis sebagai berikut :
1.       Ada kesamaan kepentingan antara borjuis di negara maju dan negara terbelakang, biasanya mereka dipertemukan dalam sebuah konferensi internasional dan menyepakati aturan tertentu
2.       Negara kapitalis lebih berperan dalam kepentingan modal, bukan mayoritas penduduk
3.       Harga mahal yang harus dibayar negara terbelakang apabila memutuskan hubungan dengan negara maju adalah teknologi yang notabene dikuasai mereka
4.       Jurang pemisah antara negara maju dan terbelakang adalah konsentrasi modal, baik keuangan maupun industri
5.       Perusahaan multinasional sebagai upaya mengorganisasi dan  memusatkan modal di tingkat internasional
6.       Negara maju menciptakan ketergantungan cultural dan ideology atas negara terbelakang yang diciptakan melalui saluran-saluran media massa seperti TV, radio, koran, dll.
7.        Imperialisme dan pertukaran tidak seimbang yang diakibatkan kolonialisme maupun neokolonialisme adalah aspek multidimensional
Sesungguhnya sangat sulit mengidentifikasi suatu factor tertentu yang menyebabkan ketergantungan sehingga penjelasan yang diterima bersifat asumtif. Sebagai contoh misi Biily Graham yang tekenal dengan sebutan Perang Suci Kristen di Singapura, sangat kental dengan misi hagemoni cultural Barat, hal tersebut dapat dilihat melalui :
a)       Di dalamnya tersembunyi sekumpulan asumsi cultural/etika mengenai tingkah laku manusia
b)       Asumsi-asumsi tersebut mencerminkan moral Amerika Pertengahan dan diberlakukan secara universal dan diterapkan di Singapura dan tempat lain yang dimasuki Graham
c)       Seruan keagamaan agar individu menyelamatkan diri sendiri (individualistic)
d)       Misi politik untuk menggalang dukungan bagi Amerika Serikat
Beberapa hal di atas kiranya cukup untuk melihat implikasi politik yang diterapkan teori Marxis dan Neomarxis.

V
BEBERAPA AKIBAT POLITIK
            Implikasi politik teori pembangunan Marxis dan Neomarxis jauh lebih radikal dibanding Strukturalis dan Neoklasik. Dapat dianalisis memang, teori ini sangat minim diterapkan di negara-negara dunia ketiga, bahkan lebih sedikit pendukungnya dibanding teori Strukturalis. Ironisnya, teori tersebut justru diterima oleh ekonom-ekonom borjuis berkait dengan penjelasannya atas keterbelakangan.
            Di bawah ini beberapa implikasi politik akibat diterapkannya Marxis dan Neomarxis,
              I.      Alternatif setiap transformasi harus mulai dengan buruh di desa dan urban, akibat politik lain yang juga penting adalah munculnya partai politik yang cukup radikal guna merefleksikan kepentingan buruh
            II.      Kaum intelektual dan buruh terlibat bersama dalam studi terhadap situasi sosial, ekonomi dan politik local yang mereka alami
          III.      Setelah mempelajari situasi sosial, ekonomi dan politik, partai radikal harus berusaha membuat buruh ditempatkan pada porsi yang sesuai baik dalam tingkat nasional maupun internasional
          IV.      Campur tangan  negara dalam perekonomian adalah suatu tema sentral, sebab nasib buruh tidak akan baik ketika kebijakan yang lahir dari pemerintah tidak mendukung mereka
            V.      Partai Sosialis memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan bagi masyarakat luas
Strategi ekonomi tersebut dapat ditempuh dengan beberapa jalur, antara lain :
Program Sosialis Ultraradikal :
  • Memutuskan hubungan dengan negara-negara kapitalis secara total
  • Revolusi sosial dan ekonomi internal berkait peramaan dan nasionalisasi
  • Menolak imperialisme cultural dan ideology Kapitalisme dengan segala manifestasinya
Program Sosialis Radikal Realistik :
  • Pembangunan yang bersifat tertutup adalah mustahil
  • Mengembangkan kemandirian kolektif antarnegara-negara tetangga yang memiliki kesamaan kepentingan dan kebudayaan semisal ASEAN, EEC, COMECON, dll.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger