"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Februari 2014

Gelombang Radikalisme-Islam vis-à-vis Demokratisasi di Era Globalisasi

Gelombang Radikalisme-Islam vis-à-vis Demokratisasi
di Era Globalisasi


Oleh: Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A.

Penyebaran Fatwa Osama bin Laden Via Media Massa Elektronik
            Pascatragedi 11 September 2001, Osama bin Laden menyerukan fatwa kepada seluruh muslim dunia untuk memerangi Amerika Serikat beserta simbol-simbolnya dimanapun mereka berada (Abimayu, 2005: 37), kiranya fatwa tersebutlah yang kemudian menyebabkan aksi terorisme di berbagai belahan dunia kian masif, terutama di Indonesia. Berikut catatan khusus mengenai serangkaian aksi teror yang terjadi di Indonesia pascaperistiwa 11 September 2011 (Ikhwan, 2010: 64).

Year
Date
Boom Attacks
Victims
Suspected/Prosecuted
2001
23 Sep
Plaza Atrium Senen
6 injured


12 Oct
KFC in Makassar
None


6 Nov
Australian International School
None

2002
1 Jan
New Year Night
1 deaths
1 injured


12 Oct
Bali (1st)
202 deaths
300 injured
Amrozi, Ali Imron, Imam Samudra, dan Ali Gufron (Ali Imron divonis hukuman seumur hidup, tiga lainnya divonis hukuman mati).

5 Dec
McDonalds in Makassar
3 deaths
11 injured

2003
3 Feb
Central Police Office
None


27 Apr
Soekarno Hatta International Airport
2 deaths
8 injured


5 Aug
J.W Marriott (1st)
11 deaths
152 injured

2004
10 Jan
Palopo,
4 deaths


9 Sep
Australian Embassy
5 deaths
100 injured


12 Dec
Immanuel Church in Palu
None

2005
21 Mar
Ambon
None


28 May
Tentena
22 death


8 Jun
Pamulang,
None


1 Oct
Bali (second)
22 deaths
102 injured


31 Dec
Traditional market in Palu,
8 deaths
45 injured

2009
17 Jul
J.W Marriott & Ritz Carlton



            Menilik serangkaian catatan teror di atas, kiranya cukup sulit dibayangkan bilamana berbagai aksi teror tersebut sama sekali tak berhubungan dengan konstelasi dunia internasional. Dalam hal ini, saling keterkaitan tersebut dapat dibuktikan dengan fatwa Osama bin Laden untuk memerangi simbol-simbol Amerika Serikat dimanapun berada, dengan berbagai tempat yang menjadi sasaran aksi teror.

            Apabila penelaahan lebih seksama dilakukan, maka dapatlah dilihat bahwa Plaza Atrium Senen merupakan simbol budaya hedonisme dan konsumerime masyarakat Amerika Serikat berikut Barat—American dreams. Di sisi lain, baik KFC, McDonalds, J.W Marriot dan Ritz Carlton secara tegas dan jelas menunjukkan eksistensinya sebagai simbol-simbol kapitalisme-Amerika Serikat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana hal di atas menjadi mungkin, sedang wilayah Afghanistan dengan Indonesia terpisahkan beribu-ribu mil jauhnya, dan sebagaimana kita ketahui bersama, jawabannya terletak pada kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan ter-tranmisi-nya beragam informasi dari belahan dunia lain secara cepat.

            Bisa jadi, komunikasi yang terjalin antara kelompok radikal-Islam di Afghanistan dengan Indonesia berlangsung secara tertutup melalui simbol-simbol yang sekedar diketahui kedua belah pihak. Namun, hal tersebut turut dimungkinkan pula oleh berbagai siaran berita media massa elektronik yang secara tak langsung justru menyampaikan (menginformasikan) fatwa yang didengungkan Osama. Dalam hal ini, berbagai media massa elektronik mengklaim bahwa penyampaian informasi yang mereka lakukan bersifat netral dan berimbang, namun sebagaimana ungkap Iean Ang bahwa audiens bukanlah “subyek-subyek yang kosong”, dalam arti, telah ditemuinya serangkaian nilai, norma berikut pola pikir tersendiri dari audiens yang memungkinkannya menafsirkan segala informasi yang datang secara otonom (Nugroho, 2004: 108). Bisa jadi, sebagian audiens menerima informasi perihal fatwa Osama secara netral, namun tak menutup kemungkinan pula hal tersebut menjadi sebentuk persuasi tersendiri bagi sebagian yang lain. Ini bisa jadi disebabkan oleh informasi yang diterimanya justru kian meneguhkan ideologi yang dianutnya, atau justru menginformasikan bahwa “kolega-koleganya” nan jauh di sana telah menyatakan sikap tertentu sehingga ia syarat mengikutinya.

            Lebih jauh, dimensi globalisasi yang demikian kentara pula di dalamnya tampak melalui naiknya pamor berikut popularitas Osama bin Laden secara drastis di negeri-negeri muslim, terutama Indonesia. Akibat beragam informasi yang diterima masyarakat negeri-negeri muslim melalui citra satelit, sosok Osama kemudian menjadi simbol perlawanan atas hagemoni Amerika Serikat bagi umat muslim di saentaro dunia. Tak hanya sampai di situ, berbagai aksesoris mengenainya pun semisal kaos, poster berikut berbagai film dokumenter yang mengulas perjalanan jihadnya pun tiba-tiba banyak ditemui di negeri-negeri muslim, terutama Indonesia.

            Pada ranah yang berlainan, “efek Osama” di atas turut mempengaruhi berbagai kalangan yang kontra terhadapnya. Di Indonesia misalnya, pascatragedi September Kelabu banyak seminar-seminar yang digelar untuk mengulas berikut menanggulangi menyebarnya “efek Osama” di tanah air. Umumnya, berbagai seminar tersebut digelar oleh kalangan Islam-revivalis, liberal, berikut Islam-radikal nir-Kekerasan. Begitu pula, apa yang lebih penting lagi adalah “latahnya” pemerintah Indonesia yang segera menyusun Perpu No.1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, kemudian disusul oleh Inpres No. 2 Tahun 2002 tentang penunjukan instansi pemerintah yang berwenang untuk mengkoordinasikan tindakan memerangi teorisme di mana kemudian melejitkan nama Densus 88 Antiteror (Abimayu, 2005: 136 & 224).

Imam Samudera dan Fenomena “Aku Melawan Teroris!”
            Pada tahun 2004, publik tanah air dikejutkan dengan terbitnya buku karangan Imam Samudra (Abdul Aziz) yang berjudul, Aku Melawan Teroris!. Buku tersebut berisi berbagai tulisan Imam Samudra kala mendekam di penjara (rutan) Provost Polda Bali yang antara lain berisi; autobiografi singkatnya semasa kecil hingga remaja, perkenalannya dengan pemikiran Islam garis keras, manfestasi politiknya mengenai Bom Bali yang dilakukannya bersama “kawan-kawan seperjuangan”, berikut berbagai catatan kecilnya selama mendekam di rutan. Tak pelak, buku yang diterbitkan oleh Jazera tersebut (Solo) dinilai demikian provokatif dan kontroversial oleh banyak pihak sehingga dihentikan peredarannya (baca: dibreidel) pascatiga bulan peluncuran perdananya.

            Memang, bagian terpenting dari karya Samudra di atas terletak pada manifesto politiknya mengenai “jihad” Bom Bali yang berisi serangkaian pembenarannya atas aksi teror yang ia lakukan. Di sini, pengkajian takkan difokuskan pada berbagai manifestasi politik tersebut, melainkan lebih pada unsur-unsur intrinstik yang tersembunyi berikut tak menjadi tema inti dalam penulisan buku terkait, yakni lebih pada catatan pengalaman Imam Samudra akan persentuhannya dengan “bacaan-bacaan asing” serta dunia maya (internet) yang sedikit-banyak mempengaruhi pola pikir berikut tindakannya.

            Dalam tulisannya mengenai masa muda, tepatnya ketika Imam Samudra duduk di bangku SMP, ia menceritakan perkenalannya dengan tulisan Dr. Abdullah Azzam, pelopor lahirnya organisasi Al-Qaeda di Afghanistan, yang berjudul Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad di Afghanistan. Samudra (2004: 41) mengekspresikan kekagumannya pada buku tersebut dengan menuliskannya sebagai berikut,

“Mereka yang sempat membaca buku itu, Insya Allah, akan tergerak hatinya untuk berjihad mengangkat senjata ke Afghanistan. Tapi waktu itu umurku masih 16 tahun, baru bisa membayangkan, menghayati, dan kemudian melamun.”

            Melalui pernyataan Samudra di atas, kiranya dapat ditilik betapa pembacaannya pada buku karya Dr. Abdullah Azzam membentuk pola pikirnya di kemudian hari. Kiranya, hanya mekanisme globalisasi-lah yang dapat menghantarkan buku berbahasa asing tulis seorang tokoh nan jauh di sana dapat tercetak berikut terpublikasi secara luas di tanah air hingga akhirnya sampai di tangan Samudra kecil. Di dalamnya terdapat serangkaian proses semisal perpindahan naskah, alih bahasa dan berbagai prosedur teknis lainnya yang mencirikan salah satu karakteristik utama era globalisasi, yakni “perpindahan arus barang secara cepat” berikut inrelevansi dimensi ruang dan waktu.

            Pada kesempatan yang lain, Samudra (2004: 100) menceritakan aktivitasnya dalam dunia maya sebagai berikut,

“Saat aku surfing dalam lautan internet, kutemukan gambar bayi-bayi Afghanistan tanpa kepala dan tangan. Mereka dibombardir pasukan salib Amerika dan sekutunya dengan sangat-sangat brutal pada Ramadhan 2001. Itu saja telah menghambat aktivitasku.”

            Hal di atas kiranya jelas menunjukkan relasi antara afeksi pada diri Imam Samudra yang disebabkan oleh salah satu instrumen globalisasi: internet. Di sisi lain, hal terkait turut menunjukkan bahwa internet dapat pula menjadi media ampuh guna menyebarkan semangat radikalisme-Islam. Sebagaimana gambar-gambar yang ditunjukkan Samudra, agaknya hal tersebut mampu mengeksploitasi batin dan pola pikir mereka yang melihatnya sehingga merasa “terpanggil” untuk melakukan jihad. Menyitir ungkap Gramsci bahwa dalam setiap praktek hagemoni selalu terdapat ruang untuk melakukan counter hagemoni, faktual dunia maya tak sekedar berisi hal-hal yang berisfat anti-Transendensi, liberal, pragmatis berikut kosmopolitan, tetapi juga dapat berisi berbagai hal yang berkebalikan dengannya.

            Lebih jauh, dalam bukunya, Samudra turut menyertakan satu subbab yang berisi tentang langkah-langkah untuk melakukan hacking (pembajakan via dunia maya), ia pun mem-propaganda-kan tindakan tersebut pada para pemuda muslim, tujuannya untuk mengganggu bahkan merusak sistem keamanan negara-negara yang dicapnya kafir (Samudra, 2004: 265). Tak pelak, hal tersebut secara eksplisit menunjukkan turut terjadinya perang di dunia maya antara kelompok Islam-radikal dengan Barat selaku pengusung teknologi terkait sekaligus pencetus era globalisasi.

Gelombang Radikalisme Islam-Dunia

Gelombang Radikalisme Islam-Dunia


Oleh: Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A.

Revolusi Islam Iran
            Banyak pakar sependapat bahwa peristiwa Revolusi Islam Iran di tahun 1979 merupakan bentuk gelombang radikalisme Islam-dunia yang pertama. Keberhasilan rakyat Iran dalam mengakhiri monarki absolut Dinasti Pahlevi yang telah berlangsung selama kurang-lebih 2.500 tahun berikut mengangkat para mullah ke permukaan jelas mengejutkan dunia Internasional, terutama Barat. Hal tersebut mengingat, Iran di bawah kekuasaan Pahlevi merupakan salah satu rezim terkuat di negara dunia ketiga yang sepenuhnya ditopang oleh kekuatan negara adikuasa Amerika Serikat. Oleh karenanya, Richard Cottam menjuluki Revolusi Islam Iran sebagai “one of the greatest populist explosions in human history”. Di satu sisi, peristiwa tersebut menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi umat Islam-dunia untuk mengatur kehidupannya berdasarkan nilai-nilai Islami, sedang di sisi lain peristiwa tersebut menjadi ancaman bagi dunia Barat, yakni terkait kekhawatiran terjadinya “ekspor revolusi” pada berbagai negeri muslim lainnya di dunia. Kekhawatiran tersebut tampak dengan upaya Amerika Serikat memprovokasi berbagai negara monarki Arab untuk mengucilkan (baca: mengisolasi) Iran, bahkan provokasi tersebut berdampak pada munculnya kembali persoalan Sunni-Syi’ah yang sesungguhnya telah tak relevan (Maulana, 2003: 3, 11, 167, & 186).

FIS dan Intifadah
            Karuan, pascaperistiwa Revolusi Islam Iran 1979 berbagai gerakan Islam pun mulai muncul ke permukaan bak jamur di musim hujan, sedang beberapa gerakan Islam yang telah ada sebelumnya kian menampakkan keaktifannya. Beberapa di antaranya seperti Hizbullah di Libanon dan Suriah, Front islamique du salut ‘Front Keselamatan Islam’ (FIS) di Aljazair, Hamas dan Intifadah di Palestina, Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Yordania serta Mujahiddin dan Taliban di Afghanistan (Maulana, 2003: 10). Hal tersebut sebagaimana ungkap Huntington (2006: 188) sebagai berikut,

“Pada tahun 1980-an dan 1990-an, gerakan-gerakan Islam mendominasi, dan tidak jarang memonopoli gerakan-gerakan oposisi di negara-negara Islam dalam menentang rezim yang berkuasa. Kekuatan mereka mampu mengalahkan kekuatan-kekuatan oposisi lainnya ... Kelompok demokrasi liberal dapat dijumpai di wilayah-wilayah muslim. Namun, biasanya terbatas pada kalangan intelektual dan mereka yang memiliki akar-akar (budaya) dan hubungan-hubungan dengan Barat.”

            Dalam periode-periode di atas, dua momentum yang kiranya patut menjadi perhatian lebih adalah kemenangan partai FIS di Aljazair serta meletusnya gerakan Intifadah di Palestina. Setelah lama larut dalam kekacauan politik yang tak berkesudahan berikut menelan korban jiwa yang tak sedikit, pada tahun 1986 Aljazair menggelar pemilu demokratis untuk pertama kalinya dan segera dimenangkan oleh partai FIS. Namun, kemenangan tersebut sontak dianulir partai nasionalis Aljazair, Front de liberation nationale (FLN) yang didukung penuh oleh kekuatan asing yakni pemerintah Perancis. Yitzak Rabin, perdana menteri Perancis kala itu, mengatakan bahwa kemenangan FIS tidaklah sah mengingat partai tersebut merupakan “anak haram demokrasi”, yakni mereka yang berupaya menggunakan jalur demokrasi untuk “membunuh” demokrasi. Tak pelak, pasca kejadian tersebut tak ditemui titik temu antara partai FIS dengan FLN dalam setiap kompromi yang digelar, hal tersebut pun kembali membawa Aljazair larut dalam kekacauan politik yang tak berkesudahan hingga kini (Turmudi & Sihbudi, 2005: 80-82; Taher, 2004: 17).           

            Setahun selang kemenangan partai FIS, tepatnya di tahun 1987, dunia kembali dikejutkan oleh meletusnya gerakan Intifadah di Palestina. Peristiwa tersebut ditandai dengan serangan masif yang dilancarkan para pemuda Palestina terhadap pasukan pendudukan Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan. Perihal yang membuat peristiwa tersebut fenomenal adalah keberanian para pemuda Palestina yang sekedar bersenjatakan batu dan ban-ban bekas melawan pasukan Israel yang dilengkapi dengan persenjataan mutakhir. Tak khayal, gerakan tersebut menuai simpati dunia internasional, khususnya dunia Islam, sebagian dari simpatisan secara latah menyebutnya sebagai perlawanan David atas Goliath—sedang sesungguhnya David (dalam Islam: Nabi Daud) merupakan figur sentral bagi orang-orang Yahudi, bahkan pendirian Zionisme ditujukan untuk menyiapkan kerajaan Daud di muka bumi. Kiranya, kedua peristiwa di atas dapat ditempatkan sebagai gelombang radikalisme Islam-dunia yang kedua mengingat implikasi dan cakupannya yang cukup luas—menarik perhatian berikut melibatkan campur tangan dunia internasional (Turmudi & Sihbudi, 2005: 73).

Milisi Taliban
Pada perkembangan gerakan Islam-radikal selanjutnya, di paruh awal dekade 1990-an terdapat satu momen penting yang kiranya dapat ditasbihkan sebagai gelombang radikalisme Islam-dunia yang ketiga, yakni berdirinya milisi Taliban pada Oktober 1994 di pedalaman Mandahar. Organisasi tersebut bermula dari sebuah gerakan sosial yang dicetuskan oleh para murid salah satu sekolah agama di Pakistan. Mengingat bentuknya sebagai sebuah wadah sosial, organisasi tersebut memperoleh dukungan penuh dari pemerintah Pakistan, bahkan pemerintah turut melengkapinya dengan berbagai persenjataan militer yang mumpuni. Tercatat, dalam periode-periode awal pendiriannya Taliban telah memiliki empat ratus tank serta beberapa pesawat tempur MTG-21 (Setiyanto & Sutarno, 2002: 44-45).   

            Penetrasi yang dilakukan milisi Taliban di Afghanistan sesungguhnya dilatarbelakangi oleh upayanya untuk menciptakan stabilitas sosial-politik di negara tersebut, niat itu pun disambut baik oleh rakyat Afghanistan yang telah lelah dengan konflik perebutan kekuasaan yang berkepanjangan akibat terpecahnya Mujahiddin ke dalam banyak faksi militer. Sesungguhnya, baik Taliban maupun Mujahiddin memiliki tujuan yang sama, yakni mendirikan pemerintahan Islam di Afghanistan, namun perpecahan akut pada tubuh Mujahiddin agaknya membuat tujuan tersebut kian “jauh panggang dari api”, sementara rakyat Afghanistan telah dibuat jenuh dengan nasib mereka dan negaranya yang serba tak menentu. Berbekal persenjataan militer yang lengkap berikut dukungan luas rakyat Afghanistan, pada akhirnya milisi Taliban berhasil menjatuhkan rezim Mujahiddin dan mengambil alih kekuasaan (Setiyanto & Sutarno, 2002: 46).

            Segera setelah berkuasa, Taliban menerapkan hukum Islam secara ketat, semisal hukum potong tangan bagi mereka yang diketahui mencuri, rajam bagi mereka yang berzina, berikut qishas bagi mereka yang membunuh, bahkan Taliban turut mengatur rakyatnya dalam berpenampilan: pria diwajibkan menumbuhkan jenggot, sedang wanita menggunakan cadar. Tak pelak, ketatnya hukum Islam yang diterapkan Taliban membuat sebagian rakyatnya berupaya menghindari hukum tersebut dengan bermigrasi ke daerah lain. Lambat-laun, Taliban pun kehilangan simpati rakyat Afghanistan akibat berbagai persoalan di atas. Keadaan tersebut pun dimanfaatkan oleh mereka yang anti terhadap Taliban untuk menjatuhkan pemerintahannya (Setiyanto & Sutarno, 2002: 61). Pada gilirannya, konflik yang terjadi di Afghanistan turut menyeret kekuatan asing untuk terlibat di dalamnya. Pasukan sekutu yang terdiri dari militer Amerika Serikat, Inggris dan berbagai negara lainnya, bergabung dengan pasukan lokal anti-Taliban untuk menyudahi kekuasaan milisi yang bermula dari sebuah gerakan (wadah) sosial di Pakistan itu. Meskipun rezim Taliban telah berhasil ditumbangkan, namun hingga kini pergolakan di Afghanistan masih saja terjadi, berikut tetap melibatkan pihak asing di dalamnya.

Al-Qaeda
            Gelombang radikalisme-Islam yang keempat berikut yang tersignifikan di era kontemporer adalah aksi serangan teroris pada World Trade Center (WTC) yang terjadi pada tanggal 11 September 2001. Aksi tersebut membuka mata dunia bahwa terorisme merupakan ancaman masyarakat internasional yang benar-benar nyata. Adalah Osama bin Laden selaku pemimpin Al-Qaeda yang bertanggung jawab terhadap serangan di atas. Sebelumnya, ia ditengarai pula melakukan serangkaian aksi teror seperti pengeboman kapal induk AS di Timur Tengah, peledakan gedung WTC di tahun 1993, pengeboman Oklahoma City di tahun 1995, Tragedi Luxor-1997, pengeboman sejumlah kantor kedubes AS di tahun 1998, bahkan Osama turut dianggap terlibat dalam pengeboman di Bali pada Oktober 2002 (Abimayu, 2005: 139).

            Pada mulanya, Al-Qaeda merupakan sebuah LSM yang didirikan oleh Dr. Abdullah Azzam, seorang tokoh Ikhwanul Muslimim asal Palestina. Awalnya Al-Qaeda bernama Maktab Al Khidmat lil-Mujjihedin al-Arab (MAK). Pada masa pendudukan komunis-Soviet di Afghanistan dan berbagai wilayah sekitar Rusia lainnya, Osama bekerjasama dengan militer Amerika Serikat untuk mengusir Tentara Merah di berbagai daerah tersebut, bahkan militer Amerika Serikat sempat melakukan pelatihan profesional pada para gerilyawan pimpinan Osama. Pasca berakhirnya Perang Dingin pada awal dekade 1990-an, hubungan yang terjalin antara Osama dengan pemerintah Amerika Serikat pun mengalami perubahan. Osama dengan Al-Qaeda-nya mendorong berbagai wilayah ex-pendudukan Soviet untuk menerapkan sistem pemerintahan Islam, sedang pemerintah Amerika Serikat menuntut adanya demokratisasi di berbagai daerah tersebut. Oposisi-biner kepentingan inilah yang menyebabkan pecah-kongsi antara gerilyawan Al-Qaeda dengan pemerintahan Amerika Serikat (Abimayu, 2005: 140-144).                     

            Pecah-kongsi dan perbedaan kepentingan itulah yang kemudian menyebabkan Osama ditengarai melakukan serangkaian aksi teror sebagai bentuk perlawanannya atas bentuk penjajahan ideologi-baru yang dilakukan Amerika Serikat—penyebaran ide demokrasi liberal. Serangkaian aksi teror Osama tersebut mencapai puncaknya ketika ia melihat kuatnya kepentingan pemerintah Amerika Serikat di Timur Tengah, terlebih dengan dibangunnya pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi demi kepentingan Perang Teluk. Bersamaan dengan terjadinya peristiwa September Kelabu, Osama pun mengeluarkan fatwa yang mencengangkan dunia, yakni “kewajiban untuk memerangi Amerika Serikat beserta simbol-simbolnya dimanapun mereka berada”. Di sisi lain, George W. Bush selaku presiden Amerika Serikat kala serangan 11 September 2001 terjadi, mengumumkan pada dunia untuk melakukan perang terhadap terorisme global. Bahkan, ia sekedar mengajukan dua opsi pada masyarakat dunia: “Bergabung dengan ‘kami’ (Amerika Serikat) ataukah ‘mereka’ (teroris)?” (Abimayu, 2005: 37 & 129). Tak khayal, dua pernyataan tokoh yang saling berseberangan di atas menimbulkan serangkaian gesekan yang lebih keras lagi di kemudian hari.

Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Radikalisme-Islam

Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Radikalisme-Islam


Oleh: Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A.

            Menurut Muhammad Azhar (2001: 124), radikalisme atau fundamentalisme-Islam setidaknya disebabkan oleh berbagai faktor berikut;

1.   Kekecewaan umat Islam terhadap ideologi komunisme, kapitalisme, pragmatisme, reformisme, serta liberalisme.
2.  Praktek hagemoni Barat yang tak terkendali di berbagai wilayah Islam seperti Palestina, FIS di Aljazair, Sudan, Afghanistan, Arab Saudi dan lain sebagainya.
3.   Runtuhnya komunisme-Soviet yang ditengarai membuat Barat menempatkan Islam sebagai musuh baru mereka.
4.    Tersingkirnya kelompok Islam-ideologis dari percaturan politik negeri sendiri akibat dominasi para politisi nasionalis dan kiri.
5.     Pengaruh Revolusi Islam Iran-1979.
6.     Penetrasi paham sekularisme di tengah-tengah masyarakat muslim.
7.     Upaya menentang pengaruh zionisme di dunia Islam.
8.    Tindakan represif para pemimpin negeri muslim terhadap berbagai tokoh muslim di negerinya, serta adanya berbagai peraturan yang tak mengakomodasi umat muslim, semisal pelarangan penggunaan jilbab dan lain sebagainya.
9.   Berlarut-larutnya proses perdamaian Timur Tengah, berikut hilangnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah yang berkuasa.
10.   Mulai bermunculannya tokoh sekular muslim yang dinilai “membahayakan” umat.
11.   Romantisme kejayaan Islam masa lalu.

Di sisi lain, Sardar dan Malik (1999: 158) turut mengemukakan beberapa faktor yang ditengarai menimbulkan benih-benih radikalisme dalam Islam. Beberapa di antaranya seperti; tindakan para pemimpin modernis yang berlebihan dalam mempertahankan kekuasaan dengan cara-cara kekerasan, kegagalan kebijakan ekonomi para pemimpin modernis yang menyebabkan akumulasi kekayaan pada segelintir orang, penyalahgunaan berikut pelecehan terhadap gaya hidup tradisional yang telah berlangsung lama dalam dunia Islam, serta tindakan para penguasa Barat yang sengaja menimbulkan berbagai bentuk oposisi dalam Islam.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger