"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

Pergeseran Makna Pacaran

Pergeseran Makna Pacaran

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Apa Itu Pacaran?
Setidaknya, kita dapat mendefinisikan “pacaran” sebagai hubungan emosional yang terjalin antara dua anak manusia dan dilandasi oleh ikatan batin antar kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Melalui definisi tersebut, sesungguhnya mereka yang berpacaran tak sebatas pada individu-individu yang berlawanan jenis (pria-wanita), melainkan pula mereka individu-individu sesama jenis; pria dengan pria yang kerap disebut “homo”, atau sesama wanita yang disebut “lesbi”.

Fungsi Pacaran?
Umumnya, pacaran berfungsi sebagai proses penyesuaian antara dua anak manusia yang saling mencintai sebelum beranjak pada jenjang yang lebih serius, pernikahan. Melaluinya, diharapkan setiap pasangan mampu menentukan dan menimbang apakah pasangannya (baca: pacarnya) memenuhi kriteria-kriteria yang diharapkannya berikut mampu menjadi pendamping hidupnya di kemudian hari dalam suka maupun duka.


Pergeseran Fungsi Pacaran
Namun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa saat ini telah terjadi distorsi (pergeseran) sedemikian rupa dalam jalinan batin antara dua anak manusia yang kerap diistilahkan dengan pacaran ini. Apabila pada mulanya pacaran berfungsi sebagai tahap penyesuaian sebelum beranjak pada jenjang yang lebih serius, kini pacaran lebih tampak sebagai having fun, semacam perilaku yang sekedar berorientasi pada kesenangan belaka, hal ini kiranya tampak melalui kecenderungan “gonta-ganti” pacar yang kerap kita temui pada anak muda dewasa ini. Bagi mereka, pacaran tak lagi dianggap sebagai perihal yang “sakral” dan suci, ataupun sebagai proses penyesuaian pada tahapan pra-Nikah, melainkan lebih pada hasrat “untuk mencoba”; “Bagaimana rasanya berpacaran dengan Si A, Si B atau Si C?”, kira-kira demikian ilustrasinya. Melalui hal tersebut, dapatlah ditilik bahwa saat ini pacaran sekedar menjadi pengejawantahan “hasrat-libidinal”.       


Tak hanya itu saja, dewasa ini pacaran lebih dianggap sebagai “tren”, agaknya cukup banyak dari mereka yang merasa “minder” atau “kurang” dalam pergaulan apabila belum memiliki pacar. Dengan demikian, seolah pacaran sekedar ditujukan sebagai “status” semata. Kiranya, hal tersebut kian diperparah dengan berbagai media jejaring sosial yang menyediakan informasi mengenai “tengah berhubungan atau tidaknya seseorang”. Di samping itu, tak jarang pula saat ini banyak pemuda/i yang sengaja memacari pria atau wanita tertentu guna mendongkrak pamornya dalam pergaulan. Sebagai misal, bakal timbul “keseganan” dari pihak lain atau kepuasan diri apabila seseorang dapat memacari pria/wanita yang diidolakan banyak orang. Secara tak langsung, hal tersebut sudah pasti bakal mendongkrak citranya dalam pergaulan—bakal “diperhitungkan”. 


*****

Senin, 24 Oktober 2011

Cinta adalah “Keyakinan yang Buruk”

Cinta adalah “Keyakinan yang Buruk”
Cinta dalam Pandangan Kaum Eksistensialis

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Jean Paul Sartre, salah seorang filsuf Perancis berhalauan eksistensialis[1] menegaskan keberadaan cinta sebagai perihal/keyakinan yang buruk—dalam bahasa Perancis: mauvaise foi. Mengapa demikian? Setidaknya, hal tersebut didasarkan pada beberapa argumennya sebagai berikut.  

Cinta merupakan “Penindasan Halus”
Menurut Sartre, perihal di atas dibuktikan dengan ajegnya seorang pecinta bersusah payah mengabulkan segala pinta orang yang dicintainya, meskipun terkadang syarat melakukan berbagai hal yang irasional alias “tak masuk akal”. Sebagai misal, kita kerap mengajak kekasih bersantap malam di sebuah rumah makan/cafĂ© mahal guna menyenangkan hatinya, namun kenyataannya, untuk makan sehari-hari saja kita hanya dapat mengandalkan “warung angkringan”. Dengan rela dan “ikhlas”, kita pun menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang dimiliki guna memberikan “makan malam yang berkesan” bagi sang kekasih. Tak pelak, hal tersebut menemui bentuknya sebagai penindasan halus yang tak kasat mata—ia ada, namun tak tampak. Begitu pula dengan kasus “pulsa”, “nonton bioskop” dan lain sejenisnya. Bisa jadi, inilah mengapa banyak orang berkata, “Cinta tak pakai logika”, dan bisa jadi pula, hal tersebut dapat menjelaskan banyaknya pejabat yang terdorong untuk melakukan korupsi akibat perilaku konsumtif pasangan hidupnya.

“…the woman in love demands that the beloved in his acts should sacrifice traditional morality for her and is anxious to know to know whether the beloved would betray his friends for her, ‘would steal for her’, ‘would kill for her’, etc.” (J.P Sartre, 1956: 369)


Esensi Cinta adalah Menguasai Dunia Orang Lain
“Cinta membuat individu terasing dengan dirinya!”, demikian pungkas Sartre. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan ditemuinya “tuntutan-tuntutan” dalam cinta. Sebagai misal, sang kekasih meminta kita untuk merubah penampilan, melakukan diet, membentuk tubuh, merubah sikap dan lain sebagainya. Tak pelak, hal tersebut membuat kita “tak terbebaskan”, dan pada akhirnya sekedar bermuara pada “keterasingan” kita atas diri sendiri. Semisal, anda tak suka mengenakan pakaian yang terlampau formal, namun pasangan anda tak hentinya meminta dan memohon, suka tidak suka, mau tidak mau, anda pun syarat mengenakannya. Setelahnya, cobalah berdiri di hadapan cermin, saya mengetahui benar apa yang anda rasakan: serasa tak menjadi diri sendiri, seolah apa yang anda saksikan seketika itu juga adalah orang lain, begitu terasing!. Cobal andaikan pula semisal anda adalah pribadi yang suka berpetualang bersama teman-teman (mendaki gunung, reli, berkemah, dsb.), namun dilatarbelakangi oleh rasa cemburu yang “tak jelas”, kemudian sang pasangan melarang anda untuk melakukan serangkaian kegiatan di atas, apa yang anda rasakan? Tak bebas!. Berbagai hal tersebutlah yang kemudian menyebabkan Sartre turut berkata bahwa esensi cinta adalah “terjebak pada dunia orang lain”.

“…Love the Lover wants to be ‘the whole world’ for the beloved.” (J.P Sartre, 1956: 367)

Pernikahan sebagai Pelanggeng Borjuisme
Tak khayal, berbagai pemikirannya di atas berimplikasi pada penolakan Sartre terhadap institusi pernikahan. Di samping berbagai argumen filosofis, menurutnya pernikahan sekedar melanggengkan lembaga borjuasi/isme. Apa yang dimaksudkannya adalah, apabila kita menikah dan memiliki anak, sekedar terdapat dua kemungkinan bagi masa depan anak kita. Pertama, menjadi seorang yang sukses, yang dengan demikian ia menjadi seorang borjuis (majikan). Kedua, menjadi seorang yang gagal, yang dengan demikian ia menjadi seorang proletar (buruh). Dan baik keduanya menurut Sartre, sama-sama melanggengkan lembaga borjuasi—relasi hierarkis yang kaku dan menindas antara majikan dengan buruh. Kiranya, demikian penjelasan Sartre atas penolakannya terhadap institusi pernikahan—perlu diingat, ia bukan seorang gay.


*****


Referensi:
      §  Sartre, Jean Paul. 1956. Being and Nothingness. New York: Philosophical Library.





     





[1] Eksistensialis utamanya dicirikan dengan semangat individualisme dan antisosial.


Sabtu, 22 Oktober 2011

Orang yang Jatuh Cinta adalah Narsis!

Orang yang Jatuh Cinta adalah Narsis!

 Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Ada satu pandangan unik mengenai cinta dari salah seorang pemikir posmodern asal Perancis, Jacques Derrida. Bisa jadi, ini dikarenakan metode “dekonstruksi” yang digunakannya sehingga memberikan sudut pandang yang tak terduga-duga dan tak lazim bagi orang awam, bahkan bagi para pemikir sekalipun. Tak pelak, Derrida memang kerap mengejutkan rekan-rekannya melalui berbagai “pemikiran nakal” yang dicetuskannya.

(Jacques Derrida)
Dekonstruksi sebagaimana kita ketahui, berupaya menggeser “inti pemikiran” sedari pusat pada pinggiran. Sebagai misal, banyak orang menghujat dan memandang negatif peristiwa 9/11 [pusat pemikiran], namun Derrida justru menilainya secara positif, baginya kejadian tersebut justru membuat Amerika Serikat kian meningkatkan sistem keamanan nasional berikut memiliki momentum dalam upaya “penyegaran kembali” relasi sosial antar warganya yang dirasa cukup renggang sebelum terjadinya peristiwa 9/11 [pinggiran].


Kembali pada permasalahan semula, apa jadinya ketika Derrida menggunakan metode dekonstruksi dalam menganalisis cinta? Jawabnya, “Orang yang jatuh cinta adalah narsis!”. Mengapa demikian? Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa seseorang yang tengah jatuh cinta pada dasarnya membutuhkan perhatian, kasih sayang, bahkan “pemujaan” dari orang yang dicintainya. Itulah mengapa, Derrida mendaulat mereka yang tengah jatuh cinta sebagai narsis.    

Apakah Anda sedang jatuh cinta?


*****

Kamis, 04 Agustus 2011

Membunuh Karma Cinta melalui "Psikoanalisis Eksistensial"

Membunuh Karma Cinta melalui "Psikoanalisis Eksistensial"
(Karma menurut Jean Paul Sartre)

Oleh: Wahyu Budi Nugroho

“Anda memiliki keyakinan yang buruk!”
(Jean Paul Sartre)


“Akibat karma, tidakkah ada cinta untukku?”
Alkisah, di salah satu sudut kota Paris hidup seorang pemuda bernama Jacques, ia serasa menjadi pria paling sial di Perancis akibat cintanya telah ditolak sebanyak dua puluh empat kali oleh para wanita di sana. Suatu kali, teman Jacques datang dan hendak memperkenalkannya dengan seorang wanita. “Buatlah janji makan malam dengannya, Jacques”, celetuk temannya. Namun Jacques menolaknya, ia berkata, “Wanita itu hanya akan menjadi wanita ke-25 yang menolak cintaku”. Jacques merasa ia mendapat semacam kutukan yang bakal membuatnya “tak laku” hingga akhir hayat. Memang, dahulu sempat ketika ia duduk di bangku SMP, ia secara sepihak memutuskan pacarnya yang bernama Michelle, kemudian Michelle pun melancarkan sumpah-serapah, “Dengar baik-baik Jacques, kau takkan memiliki kekasih lagi setelah diriku hingga kau masuk liang lahat!”. Karuan, hal tersebutlah yang menyebabkan Jacques serasa memperoleh kutukan, yakni sebentuk “karma” karena dahulu pernah menyakiti hati wanita, kini berganti hatinya lah yang dirobek-robek oleh para wanita.

Melihat akutnya kejiwaan Jacques, temannya, Pierre, merekomendasikan Jacques untuk berkonsultasi pada seorang filsuf bernama Jean Paul Sartre, ia merupakan pencetus metode terapi psikologis bernama “psikoanalisis eksistensial”.

(Sartre)
Perjumpaan dengan Sartre
Sartre   : “Jacques, mengapa kau menolak bertemu dengan wanita yang hendak dikenalkan padamu?”
Jacques: “Ia hanya akan menjadi wanita ke-25 yang bakal menolakku…”
Sartre   : “Mengapa demikian?”
Jacques: “Aku dikutuk oleh mantan pacarku, ini adalah karma yang harus kuterima dan kupikul hingga akhir hayat…”
Sartre   : “Kau memiliki keyakinan yang buruk!”
Jacques: “Apa maksudmu?”
Sartre   : “Karma tidaklah ada, semua tergantung pada usahamu semata, kehidupan manusia adalah bebas sebebas-bebasnya di dunia ini…”
Jacques: (tampak terdiam dan menunggu penjelasan lanjutan dari Sartre)
Sartre   : “Ya, tak ada skenario yang dibuatkan untukmu. Kau sendirilah sang pembuat skenario bagi hidupmu. Ambilah contoh, sekarang juga kau bisa melemparkan asbak ini padaku, tapi kau tak melakukannya, itu dikarenakan kau memilih untuk tak melakukannya…”
Jacques: “Lalu, apa hubungannya semua itu dengan persoalanku?”
Sartre   : “Kutukan mantan pacarmu hanyalah omong kosong belaka, jika memang sejauh ini kau telah ditolak dua puluh empat wanita, itu hanya kebetulan saja, bukan karena kutukannya. Ia tak membuat atau menentukan jalan hidupmu, kau sendirilah yang membuat dan menentukan jalan hidupmu…”  
Jacques: “Apa buktinya???”
Sartre   : “Teruslah bergerak, teruslah mencoba, niscaya kau akan menemui jawabnya… Siapa tahu wanita yang ke-25 ini adalah wanita yang bakal menerima cintamu, bukan sebaliknya. Tak ada yang mengetahui sampai kau mencobanya.”
Jacques: “Terima kasih Tuan Sartre, kau membangkitkan kembali gairah hidupku, akan kupegang kata-katamu”
Sartre   : “Tagihan akan dikirimkan ke rekeningmu.”

Sepulang berkonsultasi dengan Sartre, Jacques pun langsung mengiyakan tawaran temannya untuk mempertemukannya dengan seorang wanita. Beberapa waktu kemudian, Jacques pun bertemu dengan wanita itu. Dan tak khayal, wanita yang ke-25 itu pun menerima cinta Jacques. Apa jadinya jika Jacques berhenti dan menyerah pada wanita ke-24? Ia bakal menjadi “jejaka tua” seumur-umur tentunya.

Moral: “Pantang menyerah, teruslah bergerak dan mencoba.”

Inti Psikoanalisis Eksistensial
  • Menyadarkan individu bahwa ia memiliki kebebasan penuh untuk membuat dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
  • Berupaya membongkar “tembok-tembok ketidakmungkinan” dalam diri individu.
  • Mengajak individu untuk terus bergerak dan mencoba.


*****

Referensi:
  • Satre, Jean Paul. 1956. Being and Nothingness. New York: Philosophical Library.
  • Palmer, Donald D. 2003. Sartre untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.









Rabu, 11 Mei 2011

Cinta & Kasih Sayang menurut Nietzsche

Cinta & Kasih Sayang menurut Nietzsche
Oleh: Koko Wijayanto
Universitas Gadjah Mada


“Obat yang paling baik untuk menyembuhkan cinta adalah obat yang telah diketahui sepanjang zaman: membalas cinta.” – Friedrich Wilhelm Nietzsche[1]

Cuplikan pernyataan Nietzsche tentang “cinta” di atas adalah sebuah pengantar pada konsep pemikiran keharusan bertindak di mana kehidupan yang kita jalani selama ini seakan adalah kehidupan “berulang” yang terjadi selama-lamanya. Dengan kata lain, setiap momen yang terjadi dan telah kita jalani selama ini adalah salah satu bentuk dari “keberulangan abadi”. Tak lebih dari sebuah dongeng ataupun cerita belaka bagi banyak orang, Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat dipercaya. Secara tak langsung, ia telah menggambarkan bahwa hal ini adalah “formula bagi keagungan umat manusia.”[2]

Penegasan yang romantik dan luar biasa ini sekaligus menghantarkan kita pada sebuah nasehat Nietzsche agar kita bisa menikmati hidup ini sampai pada tingkat kepenuhannya (puncak kepuasan). Di balik kesungguhan gagasan puitis yang dibuat oleh Nietzsche, faktual mengandung sebuah kekuatan istimewaThe Will to Power. Gagasan ini mengandung ungkapan klise “menjalani hidup sepenuhnya” dan membawa arti yang bermakna mendalam betapapun ambigunya kalimat itu.

Seniman yang juga penulis mashyur sekelas Kahlil Gibran pun menaruh hati dan mengagumi sosok Nietzsche. Hal ini tampak melalui tulisan-tulisan Gibran yang kerap menyinggung nama Nietzsche berikut Zarathustra (buah karya Nietzsche). Ia juga menyatakan,Nietzsche bagiku adalah seorang dionysus yang bijaksanasosok manusia unggul yang hidup di hutanhutan dan ladang-ladangsesosok makhluk agung yang menyenangi musik, tarian dan semua kesenangan.”[3] Sampai pada akhirnya Gibran juga menyatakan dalam salah satu tulisan surat yang ditujukan untuk kekasihnya “…sekarang aku akan pergi tidur dengan Zarathustra, dan kita kelak akan membacanya bersama…”.[4] Begitu kagumnya Kahlil Gibran, sampai-sampai ia tak luput menuliskan tentang Nietzsche dalam berbagai karyanya.

“Bahkan orang-orang yang paling berani pun jarang sekali memiliki ketegaran atas apa yang benar-benar mereka ketahui.”[5]

Jika kita masuk dalam ranah kebenaran seperti halnya yang telah Nietzsche gagaskan, kiranya sudah dapat dianggap mengilhami sebuah citra puitis. Gagasan ini juga mempunyai banyak makna di dalamnya agar dapat dipandang bukan semata-mata puisi sampah yang terbuang begitu saja. Sebuah ungkapan Nietzsche dapat dibenarkan dalam melihat fenomena yang terjadi pada ranah umum saat ini. Seperti halnya ganti-ganti pasangan, bila ditelisik akar permasalahannya terkadang disebabkan kurangnya perhatian ataupun “kasih sayang” yang diberikan oleh pasangan yang membuat kejenuhan”, dan pada akhirnya mengganggu keharmonisan hubungan yang berujung pada perpisahan.

“Aku tak akan menipu, bahkan pada diriku sendiri.”[6] Itulah kata-kata Nietzsche yang secara tegas ia lontarkan dan tak lepas dari keyakinan bahwasanya kebenaranlah yang ia tonjolkan.

How about you…?


[1] Nietzsche, Human, All Too Human, Vol I, Bagian 9, h. 483.
[2] Paul Strathern, 90 Menit Bersama Nietzsche, Penerbit Erlangga, Jakarta, h. 52.
[3] Kahlil Gibran, Falling in Love, Klein Press, Yogyakarta, 2008, h. 22-23.
[4] Ibid, h. 26.
[5] Twilight of the Idols, Maxims and Arrows, h. 2.
[6] Gay Science, Buku V, Bagian 344.

Minggu, 08 Mei 2011

KETIKA ERICH FROMM BICARA “CINTA”

KETIKA ERICH FROMM BICARA “CINTA”

Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Erich Fromm: “Cinta bukan memiliki, tetapi menjadi…”
Erich Fromm dikenal sebagai salah seorang pemikir Mahzab Frankfurt generasi pertama di samping Marcuse, Adorno dan Horkheimer. Buah pemikirannya yang terkenal adalah peng-klasifikasian-nya akan dua ragam modus (baca: motivasi/pemikiran) yang dimiliki setiap individu yakni, to have/having ‘memiliki’ dan to be/being ‘menjadi’. Konsep tersebut digunakan pula oleh Marcuse dalam menjelaskan fenomena one dimensional society ‘masyarakat dengan kesadaran tunggal’ di era modern. 

Sebagaimana pemikirannya di atas, menurut Fromm terdapat dua modus bagi seseorang dalam mencintai orang lain, “memiliki” ataukah “menjadi”. Cinta atas dasar modus memiliki bagi Fromm, adalah cinta yang buruk lagi menindas. Mengapa? Menurutnya, seseorang yang mencintai atas dasar “ingin memiliki” pada mulanya akan mati-matian menutupi segala keburukan dan kekurangan dalam diri. Namun, setelah sang pujaan hati dimiliki, lambat-laun, sedikit demi sedikit, tabir kegelapan dalam dirinya akan terungkap. Di sisi lain, cinta dengan modus memiliki hanya akan memunculkan tindak kesewenang-wenangan, pemaksaan dan “kediktatoran”—kau milikku, kau berada penuh dalam kuasaku. Perilaku “posesif” yang dimiliki pasangan adalah salah satu ekses dari cinta dengan modus memiliki. Bagi Fromm, cinta yang demikian ini tidaklah langgeng.

Berbeda halnya dengan cinta atas dasar modus memiliki, cinta dengan modus “menjadi” adalah cinta yang baik menurut Fromm. Cinta yang demikian adalah cinta yang “membebaskan”, penuh toleransi dan memenuhi sendi-sendi kemanusiaan. Sebagai misal, saya adalah seorang yang kaku lagi pendiam, jauh di lubuk hati sesungguhnya saya ingin menjadi pribadi yang supel dan komunikatif. Suatu hari, saya menemui sesosok wanita yang demikian—supel dan komunikatif—kemudian jatuh cinta padanya. Melalui cinta dengan modus menjadi, hal tersebut akan menghantarkan pada perasaan berikut kognitif bahwa “saya telah menjadi dia, dan sebaliknya: dia menjadi saya”. Dan, ketika suatu hari nanti gadis yang saya cintai tersebut berkata akan lebih bahagia bila bersama pria lain, maka dengan ikhlas dan rela hati pun saya akan melepas kepergiannya. Mengapa? Hal tersebut dikarenakan diri saya yang telah menjadi dia, sehingga saya pun akan turut bersuka cita apabila dia merasa lebih bahagia dengan pria lain—“saya adalah dia”. Bagi Fromm, cinta yang demikian—modus “menjadi”—adalah cinta yang langgeng dan abadi.

Bagaimana dengan modus cinta Anda ataukah pasangan Anda? J


Referensi:
  §  Fromm, Erich. 1987. Memiliki & Menjadi. Jakarta: LP3ES.
  §  Jay, Martin. 2009. Sejarah Mazhab Frankfurt. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger