"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Konflik dan Rekonsiliasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Konflik dan Rekonsiliasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Menyoal Geng Motor Dewasa Ini

Menyoal Geng Motor Dewasa Ini
Suara Publik, TVRI Bali 09/03/15


Apa yang melatarbelakangi munculnya geng motor remaja?
Pertama, kita perlu membedakan antara geng motor dengan klub motor. Klub motor umumnya tercatat di kepolisian dan masyarakat, menggunakan satu jenis (merek) motor, dan umumnya membawa agenda-agenda advokasi, seperti; mensosialisasikan cara berkendara yang baik dan benar, advokasi lingkungan, tak jarang juga mereka turun memberikan bantuan sosial saat terjadi bencana alam. Tegas dan jelasnya, klub motor lebih sebagai bentuk komunitas hobi.

Sebaliknya, geng motor tidak tercatat di kepolisian ataupun masyarakat, mereka menggunakan beragam jenis motor, serta memiliki aturan atau nilai-normanya sendiri.

Sesungguhnya, fenomena “geng-gengan” di usia remaja merupakan hal yang wajar, anak dengan usia remaja memang cenderung menjadikan teman sebaya atau sepermainan (peer-group) sebagai acuan. Hal ini menjadi tak wajar ketika tindakan mereka mulai menyalahi nilai dan norma sosial, bahkan mengarah ke tindakan-tindakan vandal; pengrusakan, kekerasan, dan sejenisnya. Di sisi lain, sering kali muncul rasa bangga pada remaja yang memiliki keanggotaan suatu geng; merasa berbeda dari yang lain, istimewa, atau serasa mempunyai prestige tersendiri. Dan umumnya, anak-anak yang tergabung dalam geng motor adalah mereka yang kurang memiliki saluran untuk beraktualisasi dan mengekspresikan diri.

Mengapa geng motor identik dengan kriminalitas?
Para anggota geng motor adalah mereka yang mengalami desosialisasi; tercerabut dari akar sosial, kemudian memasuki suatu perkumpulan baru yang memiliki nilai dan normanya sendiri. Sering kali, perkumpulan ini menjelma menjadi massa di mana benar-salah menjadi tersamarkan, inilah mengapa, tindakan mereka cenderung mengarah pada anarkisme dan vandalisme.

Di sisi lain, kultur masyarakat kita yang kental dengan konsumerisme mendorong masyarakat untuk “terus memiliki dan memiliki”, inilah yang kemudian mendorong mereka yang tak kritis untuk memperoleh segala sesuatu secara instan; tanpa pikir panjang.

Bagaimana dengan masyarakat yang main hakim sendiri dalam merespon munculnya geng motor?
Ketika negara atau aparat tak hadir, menjadi lumrah ketika nantinya msyarakat “bergerak sendiri”. Akhirnya, masyarakat sendiri pun menjadi sekumpulan massa layaknya geng motor di mana benar-salah tersamarkan. Inilah mengapa, tindakan-tindakan seperti main hakim sendiri pun kemudian dilumrahkan—oleh masyarakat.

Tak ada hal lain yang ditimbulkan anarkisme kecuali munculnya bentuk-bentuk anarkisme baru sebagai balasan. Di sinilah peran penting pemerintah atau aparat untuk memutus mata rantai anarkisme tersebut mengingat merekalah yang sesungguhnya memiliki legitimasi untuk menggunakan berbagai instrumen kekerasan.

Apa solusi jangka pendek dan jangka panjang yang bisa diambil untuk mengatasi persoalan ini?
Pertama, keluarga sebagai unit sosial terkecil harusnya mempunyai peran lebih dalam mengontrol anggotanya (baca: anak). Kedua, sekolah. Ihwal yang patut disayangkan, tak diragukan lagi jika guru memiliki basis pedagogi—ilmu kependidikan—yang baik, namun sering kali mereka, entah secara sadar atau tidak, “keceplosan” melabelkan siswa-siswi yang dianggap nakal dengan berbagai label negatif, inilah yang membuat mereka—anak didik—justru tercerabut dari akar dan kian ter-eksklusi. Pada gilirannya, mereka pun bakal beralih pada kelompok atau komunitas-komunitas sosial yang tak terkontrol.

Jangka panjang. Satu hal yang sangat disesalkan adalah, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang tak memberikan pelajaran sastra bagi siswa-siswi di sekolah—bukan pelajaran bahasa Indonesia, tetapi sastra. Pelajaran sastra memiliki fungsi strategis dalam melunakkan pola pikir berikut perasaan para peserta didik, sekaligus memberikan saluran berekspresi yang konstruktif. Dengan demikian, apabila remaja tengah membutuhkan sarana untuk bereskpresi, mereka akan lari ke puisi, cerpen, dan sejenisnya; ini justru melahirkan kreativitas tersendiri. Pembelajaran sastra juga dapat meredam tumbuhnya bibit-bibit radikalisme.

Begitu pula, patut disayangkan, sepuluh-dua puluh tahun lalu kultur menulis diary atau buku harian sempat menggejala, namun sekarang mulai jarang ditemui, berganti gadget dan media sosial yang menyiratkan ketiadaan ruang privat. Apabila tak terkontrol, bentuk-bentuk ekspresi yang diejawantahkan di ruang publik ini pun dapat menimbulkan provokasi-provokasi baru dan serangkaian hal negatif kemudian.


*****

Jumat, 17 Juni 2011

John Lennon & Imagine: Pemberontak & Lagu Perdamaiannya

John Lennon & Imagine: Pemberontak & Lagu Perdamaiannya
Oleh: Koko Wijayanto
Universitas Gadjah Mada


John Lennon
Dalam perjalanan solo karirnya, John Lennon adalah seorang maestro musik pencipta sebuah lagu populer berjudul, Imagine. Pria ini mempunyai banyak prestasi dalam sejarah bermusiknya. Banyak penghargaan dari kalangan aktivis gerakan sosial, pemerintah bahkan PBB yang menobatkannya sebagai musisi dengan pengaruh besar pada publik. Tak heran jika fans Lennon hingga kini masih tersebar di saentaro dunia. Meskipun John Lennon adalah generasi musisi tahun 60-an, di sisi lain seni musiknya telah memberi segudang inspirasi bagi pemusik era kontemporer.

Pria bernama lengkap John Winston Lennon ini lahir pada 9 Oktober 1940 di Liverpool, Inggris. Ia lahir pada malam saat Jerman membombardir kota London dan kota-kota lainnya era Perang Dunia II. Untuk mengabadikan kejadian itu, Julia (Ibu John Lennon) menambahkan nama tengah “Winston” pada John Lennon. Nama tengah ini sengaja diberikan ibunya mengingat Winston Churchill merupakan sosok yang dikaguminyasaat itu menjabat pula sebagai Perdana Menteri Inggris. John Lennon lahir dari pasangan Alfred Lennon dan Julia Stanley. Ayah Lennon adalah seorang pelaut yang sering berpergian dan jarang kembali ke Liverpool, bahkan pada saat John Lennon lahir Alfred tak mendampingi ibunya.

Tahun 1946, Alfred kembali ke Liverpool dan membawa Lennon serta Julia berlibur ke Blackpool. Namun, liburan tersebut tak seindah yang dibayangkan Lennon kecil. Saat itu, ia dihadapkan pada dua pilihan yang cukup sulit: memilih untuk mengikuti ayahnya atau tinggal bersama ibunya. Dengan kata lain, orang tua John Lennon memutuskan untuk bercerai pada saat itu. Dengan berat hati dan tetesan air mata, pada akhirnya Lennon memilih untuk ikut bersama ibunya.


John kemudian diasuh oleh Mimi Smith (kakak tertua dari ibunya) dan suaminya (George Martin). George Martin adalah orang pertama yang mengajarkan Lennon bermain musik. Martin mengajarkan alat musik banjo dan piano pada Lennon kecil, sedang kemampuannya dalam bermain gitar didapatnya secara otodidak. Masa muda Lennon dihabiskan bersama keluarga George Martin dan Mimi Smith.

Di tengah keseharian Lennon bermain gitar, Mimi Smith berkata, “John sayang, bermain gitar memang menyenangkan, tetapi kamu tak bisa hidup dan menghasilkan uang hanya dengan bermain gitar”. Perkataan tersebut seakan menjadi cambuk baginya, John Lennon bertekad membuktikan bahwa ucapan bibinya tidaklah benar. Selang beberapa hari kemudian, ia membujuk ibunya untuk membelikan sebuah gitar. Julia pun membelikan sebuah gitar bekas. Meskipun bekas, John Lennon sangat senang dengan gitar pemberian ibunya tersebut. Sejak saat itu, ia semakin rajin memainkan gitar pemberian ibunya.

Saat menginjak usia remaja, John Lennon dihadapkan pada kecelakaan yang menimpa ibunya di dekat rumah Mimi Smith. Julia tertabak oleh sebuah mobil. Saat itu juga, ibunya menghembuskan nafas terakhir. Saat itu, John Lennon berusia 17 tahun. Peristiwa tersebut lantas membuat Lennon kian membenci pemerintah maupun aparat pemerintah dikarenakan kecelakaan yang menewaskan ibunya. Kecelakaan tersebut disebabkan oleh kecerobohan seorang polisi yang mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk. Sungguh ironis, polisi yang menjadi tersangka dalam kecelakaan tersebut terbebas dari segala tuntutan hukum.

Awal Terbentuknya The Beatles
            Tahun 1957 adalah saat John Lennon memulai karirnya. Pada waktu itu, ia mengenyam pendidikan di Liverpool College of Art, di situ pula lah ia untuk pertama kalinya membentuk sebuah band bernama Black Jack. Dalam band itu, ia bertemu dengan Ringgo Star, sang penabuh drum. Berselang kemudian, nama Black Jack berubah menjadi The Quarrymen oleh karena sebagian besar anggota band tersebut bersekolah di Quarry Bank Grammar School.

            Pada tanggal 6 Juli 1957, The Quarrymen tampil pada sebuah acara gereja di Woolton di mana untuk pertama kalinya John Lennon bertemu dengan Paul McCartney. McCartney merasa kagum dengan penampilan John Lennon hingga pada akhirnya ia menghampiri John Lennon di belakang panggung untuk menyatakan rasa kagumnya dan menyatakan ingin bergabung dengan John dalam sebuah band. Dengan modal keahlian bermain musik yang pas-pasan, ia sempat diragukan Lennon. Di lain sisi, John juga mempertimbangkan kemauan kuat yang dimiliki McCartney, yang pada akhirnya John bisa menerima pria bernama lengkap Paul McCartney sebagai bagian dari band-nya.


            Beberapa hari kemudian, McCartney memperkenalkan George Harrison kepada John Lennonsetahun lebih muda dari McCartney. Harrison lahir di Wavertree, Liverpool, Inggris pada 24 Februari 1943. Harisson yang jago dalam bermain gitar, pada akhirnya ikut bergabung dengan John Lennon. Pada awalnya, personil band The Quarrymen banyak mengalami perubahan. Hingga pada akhirnya menyisakan John Lennon, Ringgo Star, Paul McCartney dan George Harrison.

Dalam perjalanannya, setelah The Quarrymen beberapa kali berganti nama. Pada tahun 1959, nama band pun berubah menjadi The Beatles di Liverpool. Ide ini muncul dari John Lennon dan Allan Williams yang sekaligus menjadi manajer The Beatles untuk pertama kalinya. Nama The Beatles sebenarnya tidak memiliki makna yang spesifik, melainkan ditemukan dari hasil permainan kata-kata nama serangga (beetle atau kumbang) digabung dengan beat (gaya music yang dimainkan) sehingga pada akhirnya diputuskan menggunakan nama The Beatles.


Tahun 1960, Allan Williams untuk pertama kalinya memperoleh kontrak bagi The Beatles untuk tampil di sebuah klab di Hamburg, Jerman. Agustus 1960 di Hamburg, The Beatles tampil setiap malam di beberapa klab-klab malam yang terlihat kotor. Mereka juga tinggal di penginapan kecil dekat klab-klab malam. Debut awal karir mereka di Jerman terbilang cukup sukses. Hal ini terlihat dari penuhnya pengunjung klub-klub malam di setiap penampilan mereka. Dengan beberapa alasan, kemudian mereka kembali ke Liverpool untuk melanjutkan karir musiknya.

Sekembalinya ke Liverpool, mereka tampil di Cavern Club. The Beatles menjadi sangat terkenal di Liverpool karena klab ini. Pada setiap show, The Beatles ramai dikunjungi penonton. Kerap kali, sebelum show dimulai banyak orang yang rela mengantri panjang demi melihat penampilan musik The Beatles. Lantaran awal karirnya yang bermula dari klab-klab malam Jerman, banyak yang menyangka The Beatles berasal dari Jerman. Apalagi poster konser yang terpasang pada awal bermain di Inggris bertuliskan The Beatles Direct from Hamburg.

Kematian John Lennon
            Bulan Desember, sepulang dari wawancara RKO Radio, John Lennon memutuskan kembali ke apartemen tempatnya menginap. Didampingi Yoko Ono (istrinya) dengan mobil limo yang mereka tunggangi, langsung bergegas mengantar keduanya. Yoko Ono keluar terlebih dahulu disusul Lennon yang membawa lilin guna mengusir hawa dingin malam itu. Ia berjalan menaiki tangga gedung sambil menjaga api lilin supaya tidak padam. Saat John melewati bawah lengkungan gerbang masuk yang menghubungkan halaman dalam gedung Dakota, tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya, “Tuan Lennon,” saat itu waktu menunjukkan pukul 10.50, 8 Desember 1980, John pun menoleh sambil membalikkan badannya, mencoba melihat seseorang yang berdiri di dalam gelap.

Seorang pria dengan tenang menghampiri John di depan apartemennya. Pria yang memanggil John telah berdiri lima langkah di depannya dan mencoba mengarahkan pistol  dengan kedua tanggannya. Sebelum Lennon tahu apa yang akan terjadi menimpa dirinya, pistol Revolver 38 terlebih dahulu mengeluarkan peluru dan bersarang di tubuhnya. Suara tembakan pertama, seakan membuat suasana sekitar hening untuk sejenak. Lilin yang ada dalam genggaman John pun terlepas setelah butir peluru menembus tubuhnya. Empat peluru berikutnya menyusul disarangkan ke arah John.


Dengan satu peluru yang meleset dan empat lainnya yang berhasil menembus tubuh Lennon, saat itu ia tak langsung roboh. Lennon sempat berjalan terhuyung-huyung sejauh 6 langkah ke arah penjaga pintu Dakota. Dengan meninggalkan bercak darah di lantai tempat ia melangkah. John berkata, “Saya ditembak” (rintih John). John yang tak kuasa menahan tubuhnya, jatuh bersimpah darah di depan kantor penjaga pintu Dakota.

            Penembak yang menjadi tersangka pembunuhan John Lennon bernama Mark David Chapman yang saat itu berumur 25 tahun, kemudian membuang pistolnya, dengan cepat penjaga pintu menyepak benda itu sejauh mungkin. “Apakah kamu menyadari apa yang baru saja kamu lakukan?”, tanya penjaga pintu kepada Chapman. “Saya baru saja menembak John Lennon,” jawab Chapman dengan tenang.

            Atas laporan penjaga pintu melalui telepon, beberapa menit kemudian polisi berdatangan. Chapman memang tak melarikan diri. Justru saat itu ia membaca novel klasik karangan J.D Silinger berjudul The Catcther In The Rye yang dibawanya. Hanya dalam hitungan menit, Chapman yang masih berada di lokasi kejadian ditangkap polisi. Dalam kondisi sekarat, John Lennon diangkat menggunakan mobil patroli polisi. Rumah sakit berada lima belas blok dari lokasi penembakan. Yoko Ono bersama Anthony Palma (polisi yang datang di tempat kejadian) segera membuntuti mobil yang digunakan untuk mengantar Lennon menuju rumah sakit.

            Setibanya di Rumah Sakit Roosevelt, John Lennon ditangani oleh satu tim dokter yang terdiri dari tujuh orang yang berusaha keras menyelamatkan John. Peralatan canggih yang dimiliki RS Rosevelt serta kerja keras tim dokter yang diketuai Dr. Stephen tak membuahkan hasil, Lennon pun menghembuskan nafas terakhirnya. Tak lama kemudian, tim dokter yang menanganinya mengumumkan kematian John Lennon pada publik. Salah satu musisi jenius yang pernah dimiliki dunia telah tiada...

Kembalinya Personel The Beatles
            Setelah meninggalnya John Lennon padan 8 Desember 1980, seakan menjadi magnet bagi personil The Beatles untuk kembali. Mereka kembali untuk mengerjakan proyek John yang tertunda. Di lain sisi, ini adalah cara mereka untuk menghargai rekan lamanya (John Lennon). Bagi mereka, Lennon merupakan sosok seorang pemimpin yang layak dihargai. Menurut McCartney, John Lennon adalah orang yang dipandang pantas duduk sebagai pemimpin The Beatles mengingat dirinya sebagai pendiri band tersebut. Dengan kelebihan yang dimiliki Lennon, tak heran ia dapat menyedot perhatian khalayak. McCartney pernah menyatakan, “Kami semua memandang John. Ia lebih tua dan lebih memenuhi syarat sebagai pemimpin. Dia lebih cekatan, cerdas dan unggul dalam segala hal.


Sepuluh tahun selang bubarnya The Beatles berdampak pula pada pupusnya harapan banyak penggemarnya akan rujuknya band asal Liverpool tersebut. Akan tetapi, rasa kekecewaan para fans pun mungkin terbayar dengan munculnya album terakhir The Beatles yang bertajuk nuansa damai, ketenangan yang seakan mengajak pendengarnya untuk menikmati arti hidup yang penuh makna.

Pada tahun 1994, para personil The Beatles yang tersisa, kembali masuk studio rekaman untuk merangkap album The Anthology yang belum terselesaikan oleh John Lennon. Lagu ini adalah karya Lennon yang sempat diabadikan Yoko Ono dalam rekaman sederhana. Meski tidak didampingi Lennon, ketiga personil The Beatles yang tersisa berhasil menyelesaikan single baru berjudul Free as A Bird. Album ini mampu meraih sukses besar pada tahun 1995-1996. Selang beberapa tahun kemudian, pada November 2001, George Harisson menyusul John Lennon. Sebab kematian Harrisson tidak lain adalah penyakit kanker yang dideritanya.

Secuil Karya Lennon untuk Dunia
Beberapa karya Lennon yang terkenal, salah satunya lagu Imagine, secara serius telah memberi dampak yang luas di seluruh dunia. Album Imagine tahun 1971, adalah lagu bagi gerakan pecinta damai (antiperang) yang membawa misi menciptakan kehidupan dunia yang aman dan tentram. Album ini telah sukses diproduksi dan laris di pasaran.

            “Jika ada satu orang yang bermimpi, maka tetaplah mimpi. Tapi jika ada dua orang memiliki mimpi yang sama, itulah realitas. Yaitu mimpi tentang Love Peace No War,” Ucap John Lennon saat menentang kebijakan Amerika Serikat tentang perang Vietnam. Secara serius, ia telah mengajak para penggemarnya dan khalayak pada umumnya untuk mencintai perdamaian dunia. Lennon membayangkan, kehidupan yang sempurna adalah kehidupan yang penuh perdamaian; tak ada saling bunuh, tak ada kemiskinan, semuanya serba damai dan bahagia.

Tak tanggung-tanggung, dua tahun terakhirnya bersama The Beatles di Inggris, Lennon mengikuti serangkaian protes publik menentang kebijakan perang Vietnam yang dilakukan oleh Amerika. Pada tahun 1965, sebagai salah satu bentuk protesnya kepada pemerintahan Inggris yang juga terlibat dalam pertempuran, Lennon mengembalikan medali penghargaan MBE (Member of British Empire) yang pernah diberikan Ratu Elizabeth pada tanggal 26 Oktober 1965 di Istana Buckingham, London. Hal ini ia lakukan juga sebagai salah satu bentuk ketidakpuasan John atas keikutsertaan Inggris dalam perang di Nigeria.

Bersamaan dengan itu, John Lennon memutuskan untuk meninggalkan Inggris dan menetap di Amerika. Bagi Lennon, Amerika adalah salah satu tempat yang sesuai dengan dirinya dalam mengekspresikan karya-karyanya. Di lain sisi, ia telah menjadi motor gerakan penentang kebijakan perang Vietnam oleh AS. Ia memandang Amerika sebagai pusat perkembangan musik dunia sekaligus tempat yang tepat bagi kehidupannya. Di sana, Lennon berupaya menciptakan budaya perdamaian yang ujung-ujungnya ber-efek pada dunia. Pada tahun 1972, John merilis album Sometime in New York City yang kental akan nuansa politik. Lagu-lagu dalam album ini berisikan pemberontakan di penjara oleh karena diskriminasi rasial, peran Inggris terhadap Irlandia Utara, dan juga permasalahan pribadi di Amerika dalam proses mendapatkan Green Card.


Dalam proses mendapatkan Green Card di Amerika, John Lennon dan Yoko Ono terbentur dengan upaya deportasi pihak-pihak yang tak menginginkan dirinya berada di Amerika. Salah satu orang yang “menolaknya” adalah Richard Nixon, presiden AS kala itu. Alasan mendasar Nixon tak menginginkan Lennon tinggal di Amerika tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh sikap radikal Lennon dan teman-teman aktivis perdamaiannya berikut berbagai organisasi yang kerap menentang beberapa kebijakan pemerintah Amerika Serikatsemisal Pink Panther.

Richard Nixon memasukkan John Winston Lennon ke dalam blacklist negaranya. Di lain sisi, hal ini juga disebabkan terlalu vocalnya Lennon dalam mengkampanyekan gerakan damai-antiperang di Amerika Serikat. Akan tetapi, Lennon tak gentar berhadapan dengan siapa pun. Ia terus melanjutkan perjuangan dan melakukan hal yang diyakininya bahwa, “kehidupan lebih menyenangkan bila berdampingan secara damai.”

Pemerintah dan departemen dalam negeri seakan mencari cara untuk mendeportasi John Lennon dan Yoko Ono dari Amerika Serikat. Namun, Lennon tetap yakin bahwa, ia tak sendirian melainkan banyak massa yang mendukungnya meski dirinya terancam bakal dideportasi Nixon. Hingga pada 9 agustus 1974, Richard Nixon turun dari jabatannya sebagai presiden dan digantikan oleh Gerald Ford. Pergantian kepala negara tersebut berdampak pada John Lennon dan Yoko Ono dalam memperoleh Green Card. Beberapa tahun kemudian, mereka mengurus proses kepindahannya di Amerika, dan pada tahun 1976 Lennon dan Ono dinyatakan sah menjadi warga Amerika.

Lebih jauh, sebagai bentuk simpatinya terhadap perdamaian dunia, melalui solo karirnya, Lennon melanjutkan aktivitas perdamainnya melalui banyak karya musik. Tahun 1969 di Toronto, dengan Plastic Ono Band, Ia berhasil merekam tiga single lagu yang mempunyai makna anti-perang antara lain; Give Peace a Chance, Cold Turkey, dan Instant Karma.

Makna Ekplisit Imagine
Tanggal 8 Desember tak lain menjadi  hari  kenangan bagi para penggemar The Beatles. Itu adalah hari kematian John Lennon dalam insiden penembakannya di Dakota. Sebagai penghormatan atas kematian Lennon, pada tahun 2002 Liverpool mengubah nama bandaranya menjadi Liverpool John Lennon Airport dan menggunakan semboyan, Above us only sky” yang dipetik dari lagu Imagine karya Lennon.


            Album Imagine tahun 1971 menjadi tema lagu gerakan antiperang bagi kalangan aktivis perdamaian dunia. Melalui lagu Imagine, John Lennon secara lantang menyuarakan pada warga dunia untuk hidup dalam kedamaian-tanpa perang, tidak ada yang membunuh, tidak ada yang mati terbunuh, dan tidak ada kemiskinan. Selain itu, Lennon juga memimpikan seluruh umat manusia hidup secara damai lagi bahagia.

The Beatles yang populer di era 60-an seakan menjadi cermin bagi generasi sekarang. Sampai saat ini, banyak album The Beatles yang ajeg diburu oleh para penikmat musik dunia

Imagine
By John Lennon

Imagine there’s no heaven, it easy if you try,
No hell below us, above us only sky,
Imagine all the people, living for today…

Imagine there’s no country, it isn’t hard to do,
Nothing to kill or die for, and no religion too,
Imagine all the people, living life in peace…

You … you may say I’m a dreamer, but I’m not the only one,
I hope someday you’ll join us, and the world will live as one…

Imagine no possesion, I wonder if you can,
No need for greed or hunger, a brotherhood of man,
Imagine all the people, sharing all the world…


***

Referensi;

Pustaka:
  • Hai-Klip, “The Beatles”, Edisi ke-6, Tahun 2003.
  • Triono, Hendi. 2010. Imagine John Lennon. Yogyakarta: Titinada.
Film:
  • The U.S. vs. John Lennon by David Leaf and John Scheinfeld.
  • Nowhere Boy by Sam Taylor-Wood. 

Minggu, 13 Maret 2011

MENUJU GERAKAN MAHASISWA YANG LEBIH BERMARTABAT...

MENUJU GERAKAN MAHASISWA YANG LEBIH BERMARTABAT...
Wahyu Budi Nugroho, S. Sos

“All we are saying is give ‘peace’ a chance...”
(John Lennon, Give Peace A Chance)


Sebagaimana kita sepakati bersama, penggunaan berbagai instrumen kekerasan dalam pencapaian tujuan tidaklah dibenarkan dengan alasan apapun. Selama lebih dari enam dekade Indonesia merdeka, separuh lebih dari usianya “dihabiskan” oleh berbagai rezim yang tak segan menggunakan instrumen kekerasan guna mencapai tujuan dan memberangus mereka yang berseberangan dengannnya― Orde Lama dan Orde Baru. Disadari atau tidak, pada hakekatnya hal tersebut merupakan representasi atas budaya politik bangsa yang telah mbalung sung-sum dalam kehidupan sehari-hari. Konsepsi power ‘kekuasaan’ sebagai mandate of heaven ‘pemberian syurga’ seolah menyebabkan pemegangnya can do no wrong ‘tak dapat berbuat salah’. Kini, dengan bergulirnya reformasi pada akhir dasawarsa 1990-an seolah terjadi peralihan power pada pihak yang telah menggulingkan pemerintahan terdahulu yakni “mahasiswa”. Melalui mandate of heaven yang dimiliki secara kolektif, semua pihak seakan “diwajibkan” taat, dan bagi mereka yang menentang, sekonyong-konyong dicap sebagai “musuh demokrasi” berikut dikukuhkan sebagai golongan “kontra reformasi”.
            Bilamana kita cermati, berbagai tindakan anarkis dan vandalis mahasiswa dalam serangkaian momen demonstrasi yang kian intens terjadi belakangan ini tak ubahnya dengan politik bumi hangus dan eliminasi berbagai rezim pra-Reformasi yang lebih terfokus pada “hasil” ketimbang “proses” politik. Ironisnya, hal tersebut seolah mengisyaratkan upaya mahasiswa guna mengembalikan budaya politik klasik yang dahulu ditentangnya mati-matian, hanya saja dengan figur sentral dan muara kejadian yang berbeda yakni mahasiswa itu sendiri.
            Tak heran, berbagai hal di atas memicu beragam reaksi sinis terhadap gerakan mahasiswa kontemporer, semisal terjadinya disorientasi pada gerakan mahasiswa itu sendiri, “kebingungan” dalam menempatkan posisi atau peran di era keterbukaan mengingat kontrol dan pengawasan terhadap pemerintahan telah tergantikan oleh LSM serta media massa dewasa ini, kurangnya kematangan serta kemapanan pola pikir, atau gerakan mahasiswa yang sekedar ditempatkan sebagai kerumunan massa semata. Kiranya, serangkaian pertanyaan yang syarat menjadi perenungan kita bersama adalah, apakah mahasiswa atau masyarakat harus selalu ditempatkan sebagai oposisi dari pemerintah? Tidakkah mungkin kedua entitas tersebut berjalan secara beriringan dan harmonis?.
Begitu pula―tanpa meremehkan komitmen nilai dan moral teman-teman mahasiswa―hendaknya kita renungi benar berbagai tendensi halus nan tak kasat mata yang bisa jadi hadir dan bersembunyi di balik setiap gerakan yang muncul ke permukaan. Hal tersebut urgen mengingat eksisnya para “broker politik” yang telah lihai memanipulasi berikut mengalihkan gerakan mahasiswa guna kepentingan pragmatis. Meningkat pesatnya popularitas beberapa politisi yang “tersingkir”―terutama melalui media jejaring sosial dunia maya―sebagaimana kita saksikan akhir-akhir ini dapat menjadi misal mungkinnya gerakan mahasiswa telah ditunggangi sedemikian rupa oleh berbagai pihak dengan muatan kepentingan tersendiri.
Menurut hemat saya, selama kita ajeg menempatkan mahasiswa dan pemerintah sebagai “oposisi biner” yang saling berseberangan satu sama lain berikut tanpa optimisme terwujudnya political entity yang mapan, sebentuk “oto-imunisasi” pun bakal selalu terjadi atasnya. Artinya, konflik seolah menjadi perihal yang niscaya, sedang keharmonisan antarkeduanya merupakan mitos belaka. Konstelasi yang demikian pastilah membawa kita pada satu titik hingga semuanya tersamarkan, tak jelas siapa yang memulai, mana yang menjadi “sebab” dan mana “akibat” ―serba tak berujung dan tak berpangkal.
Bisa jadi, beragam bentuk demonstrasi yang cenderung mengarah pada berbagai tindakan ekstrim pun radikal lebih sesuai diterapkan pada suatu rezim yang secara “empiris-objektif” despostis dan tiranis. Seyogyanya, di era keterbukaan dewasa ini di mana kran berekspresi dan berpendapat terbuka selebar-lebarnya, telah sepatutnya pula dibarengi ikhtiar guna menghasilkan format baru gerakan kemahasiswaan. Bentuk-bentuk aksi massa damai sebagaimana ditunjukkan organisasi Black Panther atau pastur kenamaan Alabama, Martin Luther King di Amerika Serikat tak menutup kemungkinan menjadi salah satu alternatif format baru gerakan mahasiswa yang lebih simpatik dan bermartabat di mata semua pihak.
Saya pribadi, sebagai seseorang yang begitu menaruh perhatian terhadap berbagai pemikiran, proses maupun manifestasi sosial-politik dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, mendambakan terakomodasinya seluruh kepentingan elemen terkait melalui sebuah diskusi yang “elegan” dalam berbagai ruang publik yang telah tersedia. Namun, lagi-lagi, dua hal yang masih saja membuat saya gusar hingga kini, pertama, menyaksikan sentakan ekspresi keterkejutan para mahasiswa ketika dalam beberapa kesempatan saya uraikan bahwa krisis ekonomi yang terjadi pada akhir dekade 1990-an di Indonesia tidaklah disebabkan oleh korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan Soeharto, melainkan lebih pada fenomena bubble economic ‘gelembung ekonomi’ yang melanda eight of Asian magic. Kedua, nasehat para orang tua kepada anaknya yang kerap saya dengar, “Besok kalau sudah kuliah, tidak usah ikut ‘demo-demo’ yang cuma merusak” ... .

Salam Pergerakan. 






Sabtu, 12 Maret 2011

ADOLF HITLER TOKOH PERDAMAIAN DUNIA YANG TERLUPAKAN

ADOLF HITLER TOKOH PERDAMAIAN DUNIA YANG TERLUPAKAN
TOTALITARIANISME, PERANG DUNIA II DAN HOLOCAUST
SEBAGAI LANGKAH BESAR DEMOKRASI, PERDAMAIAN DAN KEMANUSIAAN
Oleh: Wahyu Budi Nugroho



Sekilas Riwayat Hidup
            Adolf Hitler lahir di Braunau, Austria pada 20 April 1889, ayahnya bernama Alois Hitler dan ibunya Klara Hitler.[1] Sejak kecil dikenal sebagai siswa yang bodoh, tidak berbakat dalam pelajaran apapun kecuali seni lukis. Setelah lulus dari sekolah setingkat SMA (16 tahun) ia mendaftarkan diri pada Akademi Seni Vienna namun gagal dua kali. Kegagalannya menghantarkan Hitler hidup di jalanan, menggelandang dan bekerja serabutan, namun justru di jalanan inilah ia untuk pertama kalinya mengenal politik dan belajar menjadi orator hebat, di masa tersebut jiwa nasionalisme Hitler mulai tampak-bahkan cenderung  chauvinis.[2]
            Tahun 1914-1918 pecah Perang Dunia I, Hitler mengikuti wajib militer, menjadi perajurit perang dan menerima medali penghargaan Iron Cross dikarenakan keberaniannya.[3] Perang hampir menyebabkan Hitler mengalami kebutaan permanen, ketika ia dirawat di rumah sakit kabar tentang menyerahnya Jerman pada sekutu pun terdengar, sontak, ia marah dan berteriak memaki-maki pemerintah.
            Setelah perang, Hitler yang masih tergabung dalam militer Jerman ditugaskan memata-matai Partai Pekerja yang disinyalir akan melakukan “makar” terhadap pemerintah. Berawal dari ini, Hitler justru bergabung dalam kepartaian dan dengan wawasan politik yang ia dapat di jalanan serta kemampuan oratori yang telah ia asah sebelumnya, dengan mudah ia  menjadi pimpinan dari partai tersebut dan segera merubah nama partai menjadi National Sozialitsche (Nazi).  
            Pada tahun 1923, tepatnya pada 8 November, merasa percaya diri dengan kekuatan yang dimilikinya, Hitler mencoba melakukan kudeta yang kemudian berakhir dengan kegagalan. Ia dijebloskan ke penjara dengan tuduhan “pengkhianatan”. Di penjara Hitler menyusun sebuah buku yang berisi cita-cita dan ide-ide besarnya (baca : gila), buku tersebut berjudul Mein Kampf ‘Perjuanganku’ dan menjadi landasan pergerakan partai kemudian.[4] Hitler yang pada awalnya diganjar dengan hukuman 5 tahun penjara faktual hanya menjalaninya selama 9 bulan.[5]   
            Keluar dari penjara, Hitler merombak ulang partai, dan pada tahun 1930 Nazi segera menjadi partai terbesar kedua setelah partai milik Presiden Hindenburg.[6] Tahun 1933 Hitler berhasil menduduki tampuk kekuasaan tertinggi di Jerman, bentuk pemerintahan totaliter digunakan, langkah guna merealisasikan cita-cita dan idenya dalam Mein Kampf mulai tampak.[7]
            Pada 1 September 1939 Hitler melakukan invasi pada Polandia dan dengan cepat menaklukannya, hal tersebut menandai awal dari Perang Dunia II. Keberhasilan invasi atas Polandia berlanjut pada invasi negara-negara Eropa lain seperti Austria, Denmark, Belanda, Norwegia, Perancis, dll. Tercatat, pada tahun 1940 angkatan perang Jerman menguasai saentaro Eropa kecuali Inggris dan Rusia. Di masa ini Hitler membangun kamp-kamp konsentrasi guna mengenyahkan bangsa-bangsa atau ras non-Jerman terutama Yahudi-inilah yang kemudian disebut dengan holocaust.[8]  
            Invasi Hitler atas Rusia pada tahun 1941 menjadi awal berbaliknya kondisi, berawal dari peristiwa tersebut, angkatan perang Jerman kemudian mengalami kekalahan beruntun hingga sekutu (Amerika, Inggris, Rusia) dapat mendesaknya mundur. Pada 30 April 1945 sekutu berhasil memasuki Jerman, peristiwa ini menandai kekalahan angkatan perang Jerman, tak lama berselang, Hitler dan gundiknya, Eva Braun bunuh diri di dalam bunker bawah tanah kota Berlin, Hitler sengaja memerintahkan anak buahnya untuk membakar jasad mereka guna menghindari anggapan bahwa ia jatuh ke tangan sekutu, petualangan fuhrer berakhir sudah.[9]
    
Jasa Hitler
bagi Perkembangan Demokrasi, Perdamaian dan Kemanusiaan

Totalitarianisme
            Totalitarianisme adalah suatu paham yang menempatkan militer sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, paham ini menghasilkan bentuk pemerintahan totaliter[10]. Bentuk pemerintahan ini umumnya digunakan oleh negara-negara penganut Fasisme, selain Jerman di bawah Hitler semisal Italia di bawah Mussolini-tokoh inilah yang sebenarnya untuk pertama kali memperkenalkan ideologi fasis dan bentuk pemerintahan totaliter di awal abad 20-Jepang di bawah Hirohito serta Spanyol di bawah kekuasaan Jendral Franco.[11] Fasisme sangat kental dengan bentuk pemerintahan totaliter mengingat mentalitas fasisme sendiri yang bercirikan kebebasan mutlak negara untuk melakukan apapun guna mencapai tujuannya sekalipun melalui jalan kekerasan,mentalitas inilah yang kemudian menyebabkan peran militer dinilai cukup efisien dan efektif sebagai instrumen pencapaian tujuan tersebut.[12]           
            Dalam prakteknya, totalitarianisme terbukti membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi individu maupun masyarakat. Sebelum menduduki tampuk kekuasaan tertinggi di Jerman, Hitler telah menggunakan pasukan khusus yang militeristik untuk mencapai tujuannya yakni SA-sama halnya dengan Mussolini dengan pasukan jubah hitamnya. SA merupakan singkatan dari sturmabteilung yang berarti laskar badai dan digunakan Hitler guna menciptakan   kekacauan Jerman agar mengalami instabilitas, dengan demikian  posisi kanselir kian lemah dan membuka peluang bagi Hitler untuk menduduki posisi tersebut. Namun demikian, setelah Hitler menjabat posisi tersebut, pimpinan dan seluruh anggota SA dihabisi, dalam hal ini SA sekedar digunakan sebagai instrumen pencapaian tujuan (baca: tumbal) Hitler.[13]  
            Ketika Hitler telah menggantikan posisi Hindenburg dan menjadi pemimpin Jerman, ia membentuk pasukan elit pula yang bernama SS, singkatan dari staffelschutz yang berarti staff pelindung.[14] SS inilah yang kemudian menjadi eksekutor sistem pemerintahan totaliter Hitler, mereka meneror bangsa-bangsa non-Jerman, para intelektual yang berseberangan dengan NAZI, pemuka agama, dll. sehingga peran SS dalam menjalankan kebijakan Nazi dapatlah dikatakan cukup sentral. Di samping itu, salah satu implikasi sistem totaliter yang dibawa Hitler secara makro adalah terjadinya Perang Dunia II-di mana Jerman berusaha mewujudkan kembali kejayaan masa lalu.
            Dengan demikian, tampaklah jelas ketakutan dan kekacauan yang dibawa sistem totaliter Hitler yang ia wujudkan dengan pembentukan SA dan SS serta Perang Dunia II. Lembaran pahit dunia berkait hal tersebut di satu sisi menaikkan pamor demokrasi di mata dunia, setelah Perang Dunia II, dikotomi antara demokrasi dan otokrasi[15] (semisal totalitarianisme) kian jelas, seolah apa yang bukan demokrasi menjadi sangat negatif-agak picik memang.  
  
Perang Dunia II
Setelah Perang Dunia I usai, muncul inisiatif berbagai negara dunia untuk membentuk suatu lembaga internasional yang diharapkan dapat menjaga ketentraman dan perdamaian dunia, terwujudlah hal tersebut dalam Liga Bangsa-Bangsa. Namun demikian, kemunculan Hitler pada 1933 benar-benar menguji ketetapan Liga Bangsa-Bangsa, ia menyobek Perjanjian Versailles dan mengumandangkan genderang perang pada negara-negara yang dianggapnya telah menghancurkan Jerman.    
            Keikutsertaan Italia dan Jepang sebagai “partner perang” Jerman pada tahun 1938 memperparah situasi dan kondisi kala itu, Jerman dengan doktrin Deutchland Uber Alles-nya, Italia dengan Italia Irradenta-nya dan Jepang dengan propaganda “3 A”-nya, masing-masing slogan dan doktrin tersebut menandakan ketiga belah pihak yang haus akan penaklukkan dan penguasaan.[16] Dalam perang tersebut, ketiga aliansi memiliki “pembagian kerja”, Jerman bertugas menaklukkan Eropa, Italia ditugaskan menguasai Afrika, sedangkan Jepang diharuskan menguasai Asia.    
            Perang Dunia II disulut Hitler dengan invasinya pada Polandia pada 1 September 1939-setelah invasi Italia pada Ethiopia tahun 1935 yang dianggap Mussolini sebagai “gerbang Afrika”. Pada awalnya, angkatan perang Jerman dengan mudah menguasai negara-negara Eropa, dari Polandia, Ceko, Denmark, Belanda hingga Prancis. Dalam perang ini, Jerman tercatat menguasai saentaro Eropa selama tiga tahun terkecuali Inggris dan Rusia,[17] kerusakan yang ditimbulkan tentara Nazi tak terhitung, di samping itu banyak pula benda-benda berharga yang dijarah dari museum, tempat ibadah serta tempat bersejarah lainnya.      
            Namun demikian, keberuntungan Hitler tampaknya berbalik setelah perintah invasi atas Rusia pada tahun 1941 melalui operasi Barbarosa dijalankan. Sebelumnya, Hitler dan Stalin-diktator Rusia-mengadakan perjanjian untuk tidak saling serang, namun kemudian Hitler mengingkari kesepakatan tersebut sebagai pelampiasannya atas kekalahan angkatan udara Jerman-Massachemitts-dari angkatan udara Inggris, RAF. Musim dingin yang panjang ditunjang perlengkapan yang tidak memadai memaksa langkah pasukan Hitler harus terhenti, tampaknya kekalahan di tempat yang sama yakni di dataran Siberia yang dialami pasukan Napoleon ratusan tahun sebelumnya berulang pada Hitler. Berawal dari peristiwa tersebut, pasukan Nazi berangsur-angsur mampu dipukul mundur oleh pasukan sekutu hingga memasuki Berlin-yang kemudian menandai akhir dari Perang Dunia II.[18]    
            Kehancuran Eropa akibat perang tersebut sekali lagi membuka mata dunia bahwa lembaga internasional guna menjaga keamanan dan perdamaian dunia mutlak dibutuhkan. Kesadaran tersebut mendorong Liga Bangsa-Bangsa membenahi diri dan sebagai langkah baru merubah namanya menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Peraturan guna menjaga keamanan dan perdamaian dunia pun diperbaruhi dan diperketat, melalui hal tersebut tampak bahwa Liga Bangsa-Bangsa mengalami kemajuan pesat setelah “perang besar” yang dibuat Hitler. 
Holocaust
            Perang Dunia II menyisakan kepiluan bagi umat manusia dan bangsa-bangsa dunia terutama Yahudi. Dalam perang tersebut di mana Hitler menerapkan kebijakan antisemit, tercatat enam juta Yahudi dibunuh dalam kamp-kamp konsentrasi dengan asap beracun di Jerricho, Denish dan terutama Auschwitz, Austria, peristiwa ini dikenal dengan nama holocaust yang berasal dari bahasa Yahudi “holokausten” yang berarti pengorbanan di atas api. Sejak Nazi berkuasa pada 1933, serangkaian teror terhadap bangsa Yahudi terus terjadi, rumah-rumah mereka dirusak, begitu pula dengan berbagai usaha dan pertokoan Yahudi, hal tersebut dilakukan atas anggapan Hitler bahwa bangsa Yahudi sebagai penyebab jatuhnya perekonomian Jerman.  
            Serangkaian pembenaran atas tindakan Nazi terhadap Yahudi pun disusun oleh Hitler dan menteri propagandanya, Paul Joseph Goebless, antara lain pengadopsian mereka terhadap teori evolusi Darwin di mana terdapat seleksi alam di dalamnya, teori Ernst Heackel tentang eugenika[19] serta filsafat filsuf kenamaan Jerman, Nietzsche berkait filsafatnya tentang manusia super atau ubermansch.[20] Melalui berbagai teori tersebut Hitler berusaha mengatakan bahwa bangsa Yahudi tak beda halnya dengan hewan, dan oleh karena itu ras yang telah mencapai tangga evolusi terbaik-yakni bangsa Jerman sendiri-berhak membinasakannya, begitu pula dengan keyakinannya terhadap filsafat Nietzsche di mana segala aktivitas selalu dalam kerangka will to power ‘kehendak akan kuasa’.   
Setelah Perang Dunia II berakhir, peristiwa Holocaust atau genosida tersebut lebih menyadarkan masyarakat dunia tentang arti penting kemanusiaan. Semenjak itu perlindungan dan perhatian terhadap suatu kelompok, golongan, bangsa atau ras tertentu menjadi kian urgen dalam kaca mata masyarakat internasional-terutama PBB-agaknya.
  
Pembelaan atas Hitler
Kematian fuhrer faktual tidak serta-merta mengubur ide dan cita-citanya, hingga saat ini masih dapat ditemui berbagai kelompok yang memperjuangkan ide dan cita-cita Hitler serta  menyuarakan pembelaan terhadapnya-terutama kelompok neo-Nazi di Jerman. Mereka menganggap munculnya orang-orang seperti Hitler tidaklah sui generic, melainkan melalui serangkaian proses tertentu. Menurut mereka, “sebab besar” munculnya sang fuhrer adalah Perjanjian Versailles yang dinilai sangat syarat ketidakadilan bagi bangsa Jerman sehingga wajar apabila orang seperti Hitler muncul ke permukaan melakukan penolakan keras terhadapnya,[21] bagaimana tidak, Perjanjian Versailles antara lain berisi,    
  1. Jerman menanggung kerugian perang senilai 2 Milyar Marks
  2. Beberapa wilayah Jerman dan koloninya diberikan pada sekutu, dan
  3. Militer Jerman harus diperkecil
Selain itu, apa yang dilakukan Hitler melalui perang yang diciptakannya tidaklah selalu dapat dikatakan sebagai buah konflik apabila dilihat melalui kaca mata konflik Simmel-walaupun memang Simmel sendiri berkebangsaan Yahudi. Sosiolog ini mengatakan bahwa perang merupakan salah satu bentuk “kerja sama”, hal tersebut dikarenakan apabila dalam kerja sama terdapat stimulan dan respon, ternyata begitu pula halnya dalam perang, yakni ketika pihak yang bertikai saling serang satu sama lain, terlebih dikarenakan pula oleh masing-masing pihak yang bekerja sama untuk mengeliminasi salah satu dari mereka.[22]
    
Kesimpulan
            Singkatnya, melalui berbagai penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pemerintahan totaliter yang diterapkan Hitler justru mengangkat pamor sistem pemerintahan demokrasi di kemudian hari, begitu halnya dengan Perang Dunia II dan Holocaust yang diciptakan Hitler, kedua tragedi tersebut justru berdampak pada perkembangan pesat perdamaian dan kemanusiaan dunia melalui pembentukan PBB. Dengan demikian, mau-tidak mau, disadari atau tidak, Hitler terbukti memiliki jasa yang besar bagi perkembangan pesat demokrasi, perdamaian serta kemanusiaan dunia.    
***





[1] Wikipedia Indonesia, Adolf Hitlerhttp://id.wikipedia.org/wiki/Adolf_Hitler
[3] Lihat Jules Archer, Kisah Para Diktator, Narasi, Yogyakarta, 2004, h. 143.
[4] Lihat Ery Syahrian, Fasisme Terorisme Negara, Pondok Edukasi, Solo, 2003, h. 7-8.
[5] Jules Archer, op. cit., h. 144.  
[6] Ery Syahrian, op. cit., h. 8.
[7] Jules Archer, op. cit., h. 146-147.
[8] Ery Syahrian, op. cit., h. 25-26.
[9] Anonim, Adolf Hitler Sang Diktator, http://forum.indowebster.com/adolf-hittler-sang-ditaktor-t-1289.html, Sekilas Riwayat Hidup Hitler di atas dilengkapi pula berdasarkan film Hitler: The Rise of Evil yang diperankan oleh Robert Carlyle dan disutradarai oleh Christian Duguay. 
[10] Pemerintahan yang dikuasai militer.
[11] Ery Syahrian, op. cit., h. 5-12.
[12] Baca Paul Wilkinson, New Fascist, Resist Book, Yogyakarta, 2005, h. 13.  
[13] Ery Syahrian, op. cit., h. 7-9.
[14] Ibid., h. 7.
[15] Lihat Ramdlon Naning, Aneka Asas Ilmu Negara, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1982, h. 50-51. Demokrasi berasal dari kata “demos” dan “cratein” yang berarti pemerintahan (oleh) rakyat, sedangkan  otokrasi berasal dari kata “auto” dan “cratein”, yang berarti memerintah sendirian.
[16] Deutchland Uber Alles berarti “Jerman di atas segala-galanya”, Italia Irradenta bermakna, setiap tanah yang diduduki bangsa Italia adalah milik Italia, sedangkan 3 A berisi, Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia. Erry Syahrian menjelaskan bahwa irasionalisme memang menjadi salah satu ciri fasisme di samping darwinisme sosial dan elitisme kekuasaan.  
[17] Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, http://media.isnet.org/iptek/100/Hitler.html

[18] Loc. cit
[19] Lihat Harun Yahya, Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme, Globalmedia, Jakarta, 2003, h. 59-68. Eugenika berarti membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta “memperbaiki” ras manusia dengan memperbanyak jumlah individu sehat.
[20] Linda Smith & William Raeper, Ide-Ide, Kanisius, Yogyakarta, 2000, h. 126-131. Sebagai pelengkap baca pula Paul Strathern, 90 Menit Bersama Nietzsche, Erlangga, Jakarta, 2001 dan Dave Robinson, Nietzsche dan Posmodernisme, Jendela, Yogyakarta, 2002.
[21] Anggia Puspita, Kisah Kesalahan Orang-Orang Besar, Progres, Jakarta, 2003, h. 36-38.
[22] Soerjono Soekanto, Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi, Rajawali Pers, Jakarta, 2002, h. 330.

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger