"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

 

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Gender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi Gender. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2011

R U R A L S O C I E T Y J O U R N A L

R U R A L   S O C I E T Y   J O U R N A L
§ Jurnal “original” disertakan di bawah resume ini.
Relevansi Teoretis dan Tantangan dalam Studi Gender di Pedesaan Eropa
Oleh:
Wahyu Budi Nugroho


           
Pada tahun 1980-an terjadi peningkatan daya tarik atas studi pedesaan Eropa, terutama mengenai posisi wanita dalam keluarga pertanian. Hal ini penting mengingat selama ini kajian gender dalam pedesaan Eropa mengalami isoloasi sedemikian rupa dalam lapangan pengkajian atau penelitian (Whatmore 1988 : 239).

            Riset mengenai situasi dan kondisi gender di pedesaan Eropa mengalami stagnasi selama lima tahun akibat perbenturannya dengan konsep pembangunan yang mempengaruhi banyak bagian dari teori sosial, dan terlebih, pada restrukturasi, diversifikasi agrikultur dan hubungan “normatif” yang melandasi relasi antargender, dan terutama partisipasi wanita pedesaan terhadap dinamika sosial-ekonomi di sana. Harus diakui memang, terjadi kompleksitas hubungan antara produksi pangan dengan konsumsi, dan di saat yang sama terjadi peningkatan diversifikasi interrelasi dalam bidang sosial, ekonomi dan lingkungan.
            Di tengah penulisan paper ini, tak dapat dipungkiri tengah terjadi pula perdebatan mengenai regulasi agrikultur antara rezim lawas dengan rezim baru. Proses tersebut harus diandaikan tak sekedar menjadi subyek permasalahan politik Eropa melainkan pula dunia di mana menyangkut perdagangan makanan, teknologi berikut ketertarikan institusional. Di satu sisi, pengkajian tersebut secara tak langsung terkait erat dengan relasi antargender; pemberdayaaan dan dis-Pemberdayaan wanita (dan pria) dalam cara dan lokasi yang berbeda. Lebih jauh, proses ini bersentuhan pula dengan aspek interseksi kekuasaan sosial, kelas tak berdaya, ras dan etnis.
            Satu dekade lalu wanita tak dianggap dan dimasukkan dalam riset dan pertimbangan kebijakan industri pertanian Eropa. Konsep “kerja” dari “keluarga” mereduksi partisipasi dan kontribusi wanita dalam proses tersebut. Hal ini, disadari atau tidak, disebabkan oleh standar baku pengukuran produktivitas berdasarkan ukuran pekerja pria. Sejauh ini, penelitian membuktikan bahwa kerap terjadi penyederhanaan keluarga petani sebagai pria yang bertindak selaku kepala keluarga semata, sedangkan divisi sosial, hubungan kekuasaan dan ketidaksetaraan dalam arti luas tak dikenal di dalamnya.
            Riset mengenai wanita pedesaan harus dimulai dengan konstruksi rumusan perempuan sebagai salah satu tolak ukur yang terkandung dalam konsep kerja yang antara lain mencakup jam kerja, jenis pekerjaan dan partisipasinya dalam pengambilan keputusan. Namun demikian, pada dasarnya hal tersebut memang telah menjadi bagian dari pengembangan konsep gender itu sendiri di mana sejauh ini pelabelan gender secara biologis lebih kental atau tampak ketimbang eksistensinya sebagai konstruksi sosial. Dalam hal ini, kita perlu memperhatikan pernyataan Simon De Beauvoir yang menegaskan bahwa perempuan tidaklah “dilahirkan” melainkan “dibentuk”.
            Pengembangan teori gender dalam perspektif pedesaan Eropa begitu kental terkait dengan pemikiran feminis. Teori gender, pada umumnya meyakini pemisahan antara wanita dan pria, namun, dengan penelitian lapangan (grounded) secara mendalam di mana berbagai dimensi dan ekspresi kehidupan pedesaan tergali, mencakup aspek institusional, profesionalitas berikut arena masyarakat akar rumput kiranya memberikan celah bagi terbentuknya rumusan atau konsep baru atas gender sehingga memberi sumbangsih pula bagi perkembangan teori feminis.

*****
RURAL SOCIETY Journal

Theoretical achievements and challenges in European rural gender studies

Sarah Whatmore
Department of Geography, University of Bristol, United Kingdom

Keywords

gender, farming, Europe

Article Text

In the 1980s European rural studies saw growing research interest in rural women and particularly, in their position within family farming. The focus was primarily on women's position in the division of family labour, decision-making and, to a lesser extent, property. Introducing an issue of Sociological Ruralis on 'Farm women in Europe', I argued that while this work marked a significant improvement in the position of women on the rural research agenda, its theoretical approach tended to isolate farm women as a specialist field of research (Whatmore 1988: 239).
It has been an interesting exercise to revisit this research literature five years on. I am struck by important developments, influenced in part by the challenge of social theory but, more markedly, by the consequences of rural restructuring, agricultural diversification and broader normative shifts in the landscape of gender relations. But the danger of marginalisation seems to be undiminished. The significance of gender relations to the social and economic dynamics of rural life remains a segregated specialism in which rural women and 'their' issues can be safely corralled by researchers and policy-makers, while 'mainstream' research and policy concepts and concerns proceed untouched.
This paper outlines some of the theoretical and associated methodological achievements of European research on rural gender relations. While it focuses on women on family farms, part of my argument is that such a focus on farming in isolation is increasingly problematic. Policymaking and research must follow the experiences of people living on the land: there are increased ties between farming and the complex networks of food production and consumption. At the same time, there are increasingly diverse interrelations between farming and the wider rural economy, society and environment.
As this paper is written, the post-war regime of agricultural regulation in Europe has been destabilised and the contours of any new regime are still in the making. This process is the subject of intense political energies not just within Europe, but in relation to a global realignment of food trade, technologies and institutional interests. These developments and realignments build on and, in turn, reshape rural gender relations; empowering and disempowering women (and men) in different ways in particular localities. These processes are further complicated by their intersection with other axes of social power, notably class, race and ethnicity. This paper centres on the unevenness in rural women's experience and position across Europe and some of the consequences for the way research is conducted.

Achievements

A decade ago women were all but invisible in research and policy accounts of the European farming industry. Concepts of 'work' and treatment of 'the family' discounted or silenced women's presence and contribution. The concept of the labour process had conventionally been applied only to agricultural work activities and measured against statistical measures such as the 'standard man day' which took the male worker and work pattern as the norm. The work which sustained the farm household's labouring capacity on a daily basis and the long-term security of its relationship to capital and the land, traditionally performed by women, was simply eclipsed. 'The family', identified in much research as a distinctive feature of the social organisation of farming, had been treated as an organic or unitary entity, accessed through and represented by a single individual - the farmer and head of the household, both masculine-defined terms. The social divisions, power relations and inequalities within the family unit went largely unrecognised.
Research on women in farming began with the important tasks of making women visible within the established categories and measures of labour and economic activity on the farm: hours worked, tasks performed and involvement in farm decision-making (Siiskonen et al 1982; Lagrave 1983; Bauwens & Loeffen 1983; Gasson 1987, 1990; MAPA 1991a&b; Shorthall 1991). But it has been the development of the concept of gender itself, as a social division constructed on cultural rather than biological foundations that marks the most significant theoretical achievement to date in the study of women's position in farming.
Building on Simone de Beauviour's observation that 'women are not born but made' this approach changes the research emphasis in rural studies. The task is no longer to fit women in to a picture of farming defined by men's perspectives and experiences as 'farmers', 'successors' and 'head of households', but a redefinition of the way farming and rural life are described that admit women's experiences and perspectives as constitutive. How have these theoretical developments been achieved?
The development of gender theory in European rural studies is related to broader shifts in feminist thinking. Role theory, which sees people learning ways of behaving which accord with established gender norms, has largely given way to gender identity theories - reflexive or interpretative theories of the unstable and fragmented meanings attached to the categories of 'woman' and 'man' (Connell 1987). This conceptual shift is multi-faceted and in no sense uniform, or have all its dimensions and formulations found expression in rural research. Rural social science research is institutionalised within agricultural policy, professional and grassroots arenas, which has given a practical edge to theoretical projects. This has helped to mark off the rethinking of gender within rural studies from the 'literary turn', so influential in the broader development of feminist theory.


Sabtu, 12 Maret 2011

Sejarah Pornografi & Pornoaksi

SEJARAH PORNOGRAFI & PORNOAKSI
MENILIK PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI DARI MASA KE MASA
Oleh: Wahyu Budi Nugroho


Sekilas Sejarah Istilah Pornografi dan Pornoaksi
            Istilah "porno" dalam terminus pornografi dan pornoaksi berasal dari mitologi Yunani. Alkisah, terdapat seorang perempuan bernama "Phryne" yang memiliki hobi bersenang-senang dengan para jejaka Athena semasa hidupnya. Suatu waktu, Phryne dituduh telah melakukan pencurian atas beberapa jejaka, segeralah ia diseret dalam pengadilan. Dalam pengadilan tersebut terdapat pembela Phryne yang bernama Hyperides, dalam pembelaanya Hyperides meminta Phryne untuk berdiri di suatu tempat yang mana seluruh orang dalam pengadilan tersebut dapat melihatnya. Tak hanya sampai di situ, Hyperides pun meminta Phryne untuk menanggalkan pakaiannya satu persatu, segeralah Phryne melakukan hal tersebut hingga tak sehelai kain pun menutupi tubuhnya. Ketika hal tersebut terjadi, sontak seluruh hadirin dalam pengadilan terpesona dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Phryne, segeralah Phryne dibebaskan dari segala tuduhan.[2]  

Bagi banyak pihak, apa yang dilakukan Phryne di atas kerap dianggap sebagai streape-tease show maupun pornografi dan pornoaksi pertama dalam sejarah umat manusia. Kata “grafi” atau “graphos” yang melekat pada kata “porno” merupakan suatu bentuk penggambaran atau ekspresi atas berbagai hal yang berbau porno.[3]

Pornografi dan Pornoaksi dari Masa ke Masa[4]
            Taufik Abdullah menegaskan bahwa dunia penuh dengan catatan sejarah berbagai peradaban. Peradaban pertama yang muncul ke permukaan adalah India Kuno, disusul Mesir Kuno kemudian Yunani, Romawi, Islam dan terakhir serta sedang menunjukkan taringnya saat ini adalah Barat (baca: kapitalis).[5] Apabila penelaahan lebih dalam dilakukan maka ditemui bahwa pornografi dan pornoaksi-tak terkait istilah melainkan praksis-telah ditemui sejak peradaban India Kuno eksis.

India Kuno
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa di era peradaban India Kuno ditemui banyak kuil atau sejenis tempat peribadatan lainnya dengan ornamen yang kental dengan muatan pornografi. Tak sampai di situ, berbagai kuil dengan bentuk palus ’penis’ dan alat kelamin wanita dijumpai pula dalam peradaban tersebut. Dalam hal ini, meskipun terlalu jauh dan tak ditemui fakta sekitar kehidupan konkret masyarakat India Kuno kala itu, namun demikian ditemuinya berbagai kuil dan tempat peribadatan layaknya di atas cukup mempresentasikan bagaimana relasi sosial yang terjalin dalam masyarakat peradaban India Kuno saat itu.  
Mesir Kuno
            Peradaban yang muncul setelah kejatuhan India Kuno adalah Mesir Kuno. Sama halnya dengan peradaban sebelumnya, muatan pornografi ditemui pula dalam berbagai ruang publik masyarakat Mesir Kuno. Satu hal yang begitu tampak di antaranya adalah ikon terkenal peradaban tersebut yakni piramida. Faktual, ditemui bahwa piramida Mesir disusun dalam konteks manusia yang sedang berhubungan seksual, bahkan ditemui pula ukiran dewa Mesir Kuno tengah melakukan “onani” yang diyakini masyarakat sebagai pembawa kemakmuran Mesir.

Yunani Kuno
                Sejak peradaban Yunani Kuno muncul, catatan sejarah berikut prilaku umat manusia mulai terdokumentasikan dengan baik, hal tersebut tak mengherankan mengingat berkembang pesatnya tradisi fixasi ‘tulis menulis dan simbol’ dalam Yunani Kuno. Tercatat, pada 300 SM terdapat suatu konsili Yunani yang memutuskan wanita sebagai makhluk setingkat hewan. Hal tersebut pun berdampak pada prilaku semene-mena yang diterima perempuan kemudian, sering kali terjadi hubungan interseks dalam masyarakat Yunani Kuno di mana satu wanita memiliki banyak suami sedangkan kehamilan yang terjadi kemudian tak disertai tanggung jawab pria-pria tersebut. Di sisi lain, incest ‘perkawinan sedarah’ pun lumrah terjadi dalam konstruksi masyarakat tersebut, bahkan sodomi yang terjadi antara seorang ayah dengan anak laki-lakinya merupakan sesuatu yang dimaklumi pula. Dalam masyarakat Yunani Kuno berbagai muatan pornografi pun tersebar luas dalam masyarakat, entah melalui media ukir, patung, sastra hingga lukisan-lukisan.

Romawi
            Tak jauh berbeda dengan Yunani Kuno, budaya fixasi dalam masyarakat Romawi pun berkembang dengan demikian pesatnya. Di satu sisi, ditemui pula pornomedia dalam berbagai ruang publik masyarakatnya seperti dinding jalan, colosseum, berbagai ukiran dan patung berikut karya sastra yang berkembang kala itu.

Implikasi Negatif Pornografi dan Pornoaksi[6]
            Di antara peradaban Romawi dan Islam, faktual terdapat peradaban Kristen yang kerap dikucilkan dalam catatan sejarah. Namun demikian, dalam menilik dampak negatif yang dihasilkan pornografi dan pornoaksi bagi masyarakat tampaknya pengkajian atas peradaban Kristen dan perkembangannya kemudian layak disertakan sebagai pembanding satu sama lain.  

            Terdapat satu tokoh menonjol dalam peradaban Kristen yakni Santo Agustinus dengan julukan “Agustinus dari Hippo” yang terkenal melalui eksemplarnya, Confessiones.[7] Menurutnya, tidak ada satu hal pun yang harus dihindari umat Kristen melainkan hubungan seks, bahkan lebih jauhnya Santo Agustinus menganjurkan pada umatnya untuk tidak menikah.

            Ketika periode-periode Perang Salib II terjadi, sepulang pasukan salib dari perang, mereka membutuhkan tempat guna “membudalkan” onak atau libido, oleh karenanya dengan berbagai legitimasi atasnya, Raja Phillip Augustus menyewa ribuan pelacur guna menghibur dan memuaskan hasrat libido pasukan Salib. Segera, berbagai tempat di Prancis layaknya kolam renang dan public sphere lainnya menjadi media pornoaksi pasukan salib dan ribuan pelacur.

            Namun demikian, hal di atas bukannya tanpa konsekuensi sama sekali, di era-era tersebutlah penyakit kelamin sipilis muncul untuk pertama kalinya di dunia. Pada tahapan selanjutnya, Vasco Da Gama yang melakukan pelayaran ke India menularkan penyakit  tersebut. Faktual, dalam kamar dagang India terdapat pula para pedagang China yang segera setelah mereka kembali ke tempat asalnya menularkan pula sipilis. Sehingga, dalam waktu tak kurang dari sepuluh tahun penyakit kelamin sipilis telah tersebar ke seluruh dunia.  

            Pada perkembangannya, Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang terjadi pada abad 20 secara tidak langsung membawa kemajuan besar bagi dunia kedokteran. Era pasca Perang Dunia II (1940-an hingga 1950-an) menandai ditemukannya penicillin sebagai penawar sipilis. Ditemukannya obat tersebut berdampak pada kian menggilanya kegiatan seks bebas masyarakat Barat kala itu, penyakit yang pada mulanya menjadi ketakutan akut masyarakat, kini dapat disembuhkan dalam waktu beberapa jam saja.

Hal di atas diperparah dengan konstruksi sosial yang ada di mana berbagai band besar layaknya Rolling Stones dan Beatles turut membentuk tradisi seks bebas pemuda saat itu. Di satu sisi, institusi agama pun praktis telah kehilangan kontrol masyarakat sejak renaissance Eropa abad 15-18 yakni sejak Nietzsche mendiktumkan, “Allah telah mati”.[8] Hal tersebutlah yang kiranya memunculkan virus baru yang lebih ganas akibat hubungan seks bebas di era 1980-an yakni AIDS dan hingga kini belum ditemukan obatnya.

Pornografi dan Pornoaksi di Era Kapitalisme Lanjut
            Berakhirnya great depression 1930-an dan terutama Perang Dunia II menandai kelahiran spat kapitalismus ‘kapitalisme lanjut’. Di era tersebut cara-cara eksploitatif dan penindasan telah ditinggalkan kapitalisme, sebaliknya ia berubah menjadi ‘kapitalis dengan wajah humanis’. Kapitalisme lanjut tak segan-segan memberi jaminan kerja, berbagai bentuk asuransi dan bonus akhir tahun bagi pekerjanya guna merangsang produktivitas.[9]

Namun demikian, di satu sisi spat kapitalismus memunculkan apa yang disebut dengan “budaya pop” atau “budaya massa”. Melalui budaya tersebut kerap kali kapitalis menciptakan kebutuhan-kebutuhan semu guna merangsang konsumerisme masyarakat dengan jalan mengeksploitasi psikis dan batin yakni melalui berbagai konstruksi semu yang diciptakannya.[10] Sebagai misal kapitalis menciptakan mitos kecantikan guna menjual produk-produk kosmetiknya di pasaran dan sebagainya. Dalam hal ini, kerap kali wanita menjadi korban konstruksi dan marketing kapitalis, hal tersebut tampak melalui berbagai iklan yang mengeksploitasi aspek seksualitas perempuan.

Tak dapat dipungkiri bahwa di era spat kapitalismus perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berdampak pula pada berkembang pesatnya pornomedia. Kiranya berbagai terbitan majalah porno semisal playboy, pent house berikut channel porno dalam berbagai stasiun televisi yang ada, belum ribuan situs porno yang terdapat dalam internet menjadi bukti akan hal ini. Bagi seorang sosiolog sekligus futurolog kenamaan, Robert Nisbett, tak heran perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat sekedar menyebabkan degradasi nilai-nilai kemanusiaan pada masyarakat. Terlebih dengan menilik pandangan Fredrick Jameson bahwa saat ini kita telah memasuki era postmodern yang ditandai dengan dominanya sektor jasa-konsumsi-ketimbang produksi dan terutama beralihnya produksi manufaktur pada peroduksi informasi.[11] Hal tersebut disadari atau tidak, memiliki konsekuensi pada serangan bertubi-bertubi informasi pada masyarakat yang dengan demikian berdampak pada kian gencarnya penyebaran pornografi dan pornoaksi di tengah-tengah mereka.

Pornografi dan Pornoaksi
dalam Pandangan Michael Foucault



            Berbeda halnya dengan teori sosial modern, teori sosial postmodern ditandai dengan karakter relativisme, irasionalisme bahkan nihilisme.[12] Salah satu tokoh besar dalam mahzab tersebut yang kerap bicara mengenai seksualitas adalah Michael Foucault. Dalam hal ini motivasi Foucault mengkaji sejarah seksualitas lebih dikarenakan pengalaman pribadinya sebagai gay yang sempat di-streotipe-kan oleh mereka yang mengaku “pakar”.[13]   

Eksemplar Kegilaan dan Peradaban Foucault menjadi salah satu catatan penting atas  sejarah seksualitas yang kerap diacu banyak pihak. Dalam karya tersebut Foucault menyimpulkan bahwa normal-abnormal, kegilaan-kewarasan, baik-buruk tidaklah dapat didefinisikan. Hal tersebut dikarenakan setiap periode yang memiliki episteme-nya tersendiri-total set relasi-relasi yang menyatukan pada satu periode tertentu.[14] Lebih jauh, ia memisalkan dengan seorang yang dipasung saat ini bakal dilabelkan sebagai gila, tak waras dan sebagainya, namun ia menemui bahwa dulu ketika Yesus dipasung justru disembah-sembah dan dituhankan masyarakat luas, hal ini menurutnya membuktikan bahwa pemaknaan “gila” selalu diskursif-berubah dari waktu ke waktu. Begitu juga dengan kondisi mereka yang dicap memiliki kelainan jiwa, pada era pra-Revolusi Prancis orang-orang tersebut dipenjara, namun setelah revolusi berlangsung dan berhasil, mereka yang dicap gila dibebaskan, hidup berdampingan layaknya orang normal dengan kita, dan di era sekarang mereka yang dilabelkan memiliki penyakit jiwa kembali dibui. Kiranya penekanan episteme dalam contoh tersebut ialah ditemuinya seorang tokoh bernama Mirebeau yang dicap “gila seks” oleh pemerintah namun merupakan pahlawan revolusi bagi masyarakat Prancis kala itu.[15] Begitu pula dengan tradisi incest, hubungan seks sesama jenis yang dianggap menyimpang di era kontemporer namun merupakan hal yang biasa dan normal dalam peradaban Yunani Kuno.     

Hal di atas menurut Foucault terjadi karena bentuk-bentuk kekuasaan yang bermain di dalamnya. Di mana mereka yang memegang kekuasaan kala itu dapat dengan bebas melabelkan siapapun yang dianggapnya “mengganggu”. Oleh karenya, layaknya Fancis Bacon hanya saja dengan makna yang berbeda, Foucault menyimpulkan bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan”. Berbeda dengan Bacon, bila ia menganggap upaya memahami alam sebagai jalan guna menaklukkannya,[16] maka Foucault menegaskan bahwa definisi baik dan buruk, normal dan abnormal, karakter kemajuan dan kemunduran sepenuhnya ditentukan oleh mereka yang tengah berkuasa.[17] Itulah mengapa bagi Foucault dan teoretisi postmodern kebanyakan segala konstruksi yang ada merupakan “omong-kosong” belaka sehingga tak heran mahzab postmodern dicirikan dengan relativisme dan nihilismenya.

Lebih jauh, Foucault menekankan relativisme dalam pemikirannya di mana manusia pada dasarnya bebas memilih nilai dan norma yang dianggapnya terbaik bagi diri. Sebagai misal, meskipun seseorang hidup di era kini namun ia tetap memiliki pilihan bebas guna menganut sistem nilai dan norma masyarakat yang telah eksis ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Hal tersebut dikarenakan eksistensi manusia yang memang sui generic ‘apa adanya’, sebelum individu ada  masyarakat telah ada, ketika individu ada masyarakat ada dan ketika individu mati masyarkat tidak ikut mati, jadi antara individu dan masyarakat dapat dipisahkan satu sama lain.     

Kesimpulan dan Penutup
            Melalui berbagai penjabaran di atas dapatlah dianalisis bahwa komodifikasi perempuan dalam bentuk pornografi dan pornoaksi tidak hanya terjadi di era kapitalisme, melainkan telah eksis pula dalam berbagai peradaban yang ada sebelumnya. Di satu sisi, terdapat argumen cukup menarik yang hadir melalui salah satu tokoh kenamaan teori sosial postmodern yakni Foucault yang juga concern pada pengkajian sekitar seksualitas di mana menurutnya berbagai motif kehidupan seksual semisal kecintaan pada pornografi dan pornoaksi, pergaulan bebas, hubungan cinta sesama jenis faktual tidaklah dapat disederhanakan dalam kategori baik dan buruk, normal dan abnormal serta gila dan waras. Begitu juga, pengkajian kita atas dampak negatif yang ditimbulkan pornografi dan pornoaksi faktual tak hanya dikarenakan menjamurnya budaya tersebut, melainkan dapat disebabkan pula melalui “pengekangan” kondisi alami manusia terkait libido atau hasrat seksual layaknya yang terjadi pada periode-periode Perang Salib II di bawah kepemimpinan Phillip Augustus, Prancis.     


Daftar Pustaka
Buku
·         Djubaedah, Neng.  2004. Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Hukum Islam. Bogor:  Kencana.  
·         Azhar, Muhammad. 2001. Fiqh Peradaban. Yogyakarta: Ittaqa Press.
·         Smith, Linda-Raeper, William. 2000. Ide-Ide. Yogyakarta: Kanisius.
·         Adian, Donny Gahral.  2006. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.
·         Ritzer, George- Goodman, Douglas J. 2006. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
·         Deleuze, Gilles. 2002. Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Ikon.
·         Fillingham, Lydia Alix. 2001. Foucault Untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.
·         Hardiman, F. Budi. 2004. Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia.
Internet
·         Ing, Balkan Kaplale Terima 6.013 SMS, http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/28/18221583/balkan.kaplale.terima.6.013.sms 
Film
·         Sebagian besar dicuplik dari film dokumenter “Sejarah Pornografi”  






[1] RUU APP yang diajukan Komisi Fatwa MUI dapat dilihat dalam Neng Djubaedah, Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Hukum Islam, Kencana, Bogor, 2004, h. 367-386. Sekitar pengesahan RUU APP akses Ing, Balkan Kaplale Terima 6.013 SMS,  http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/28/18221583/balkan.kaplale.terima.6.013.sms 
[2] Neng Djubaedah, op. cit., h. 138.
[3] Loc.cit.  
[4] Sebagian besar dicuplik dari film dokumenter “Sejarah Pornografi”, El-Moesa Production.   
[5] Muhammad Azhar, Fiqh Peradaban, Ittaqa Press, Yogyakarta, 2001, h. 12.
[6] Sebagian besar dicuplik pula dari film dokumenter “Sejarah Pornografi”, El-Moesa Production.  
[7] Linda Smith & William Raeper, Ide-Ide, Kanisius, Yogyakarta, 2000, h.
[8] Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, Ikon, Yogyakarta, 2002, h. 214.
[9] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, Jalasutra, Yogyakarta, 2006, h. 193.
[10] Ibid., h. 57.
[11] George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Kencana, Jakarta, 2006, h. 105.  
[12] Ibid., h. 631.
[13] Lydia Alix Fillingham, Foucault Untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta, 2001, h. 22.  
[14] Donny Gahral Adian, op. cit., h. 85.
[15] Lydia Alix Fillingham, op. cit., h. 48.
[16] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, Gramedia, Jakarta, 2004, h. 27-28.
[17] Lydia Alix Fillingham, op. cit., h. 6-7. 

Feminisme Eksistensial

FEMINISME EKSISTENSIAL
MENINJAU EKSISTENSIALISME SARTRE DALAM FEMINISME BEAUVOIR
By Wahyu Budi Nugroho


Sekilas Feminisme Eksistensial
            Berbicara mengenai feminisme eksistensial tak dapat lepas dari dua pemikir kenamaan Prancis abad 20 yakni Jean Paul Sartre dan Simon De Beauvoir. Dalam hal ini, Beauvoir dikenal sebagai pemikir perempuan pertama yang mencetuskan salah satu gerakan pemikiran dan perlawanan perempuan yang populer dengan sebutan “feminisme eksistensial” melalui Second Sex, sedangkan Sartre sendiri telah diakui dan didaulat sebagai tokoh terpenting dalam gerakan pemikiran eksistensialisme melalui eksemplar Being and Nothingness serta Existentialism and Humanism. Namun demikian, hingga saat ini masih juga ditemui samarnya penjelasan terkait orisinalitas pemikiran eksistensialisme abad 20 antara Sartre dan Beauvoir terkait “siapa mempengaruhi atau dipengaruhi siapa” mengingat begitu intimnya hubungan Sartre dengan Beauvoir.[1]
            Sartre dan Beauvoir untuk pertama kali bertemu di Ecole Normale Supreriure, sebuah universitas ternama dan paling bergengsi di saentaro Prancis, dan segera setelahnya keduanya tak terpisahkan kemudian.[2] Sartre dan Beauvoir hidup serumah tanpa menikah, baik keduanya memiliki perspektif negatif atas pernikahan yang dianggapnya sekedar melanggengkan lembaga borjuasi berikut beberapa alasan filosofis lainnya.[3]           
            Seperti apa yang telah disinggung sebelumnya bahwa ditemui samarnya penjelasan terkait orisinalitas pemikiran eksistensialisme antara Sartre dengan Beauvoir, namun demikian dalam ranah feminisme eksistensial banyak pihak beranggapan bahwa Being and Nothingness Sartre lah yang menjadi inspirasi utama Beauvoir dalam penyusunan ide feminisme eksistensial. Apabila benar demikian adanya maka pengkajian atas eksistensialisme Sartre menjadi syarat dan mutlak dilakukan sebelum lebih jauh melangkah pada feminisme eksistensial Beauvoir. Hal tersebut bukannya tanpa alasan, melainkan sebagai upaya guna membentuk pemahaman yang sistematis serta diakronis atas feminisme eksistensial Beauvoir.
Sekilas Eksistensialisme      
Eksistensialisme merupakan salah satu bentuk “filsafat besar” yang merajai dunia intelektual Eropa di era 1940-an hingga 1960-an. Tokoh paling menonjol dalam arus pemikiran tersebut adalah Jean Paul Sartre (1905-1980).[4] Cukup sulit memastikan kapan eksistensialisme untuk pertama kali lahir, namun banyak pihak meyakini Thus Spoke of Zarathustra karya filsuf anti-Pencerahan abad 19, Nietzsche yang mewartakan “kematian Allah” dan kesendirian manusia sebagai awal kemunculan eksistensialisme.[5]
Pada perkembangannya kemudian, munculah berbagai pemikir yang menamakan diri atau mewarisi tradisi pemikiran eksistensialisme baik bagi mereka yang tergolong theis maupun atheis. Berbagai tokoh eksistensialisme religius antara lain Soren Kierkegaard, Karl Jaspers, Paul Tillich, Rodaf Batman, Gabriel Marcel, Nicolai Berdyaev dan Martin Buber, sedangkan mereka yang tergolong atheis seperti Martin Heidegger, Albert Camus, Dostoevsky, Maurice Ponty dan Sartre sendiri.[6]  
Kata “eksistensi” yang menjadi akar istilah eksistensialisme berasal dari bahasa Latin “existo” dan “exister” yang berarti to stand.[7] Secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti “ada”, “adanya”, “hidup”, “kehidupan”, “keadaan hidup”, “berdiri”, “keadaan berdiri”, “keadaan mengada” atau “berada”.[8] Sedangkan imbuhan –isme di belakang kata tersebut mengacu pada sebentuk aliran, ajaran atau pemahaman sehingga apabila keseluruhan kata tersebut secara telanjang diterjemahkan, eksistensialisme akan berarti suatu aliran, ajaran atau pemahaman mengenai “ada”, “hidup”, “kehidupan” atau “berada”.
Namun demikian, tataran ontologis di atas belumlah mempresentasikan eksistensialisme yang dimaksudkan, oleh karena itu pendefinisiannya sebagai salah satu gerakan pemikiran yang terdapat dalam filsafat syarat dilakukan. Sartre dalam Existentialism and Humanism (1946) mendefinisikan eksistensialisme sebagai aliran, ajaran atau pemahaman yang menempatkan “eksistensi mendahului esensi” (existence precedes essence). Secara singkat, apa yang dimaksud Sartre adalah sesuatu barulah dapat dimaknai ketika sesuatu tersebut “ada” terlebih dahulu, sebagai misal, Sartre mengatakan, “…pertama-tama manusia ada, berhadapan dengan dirinya sendiri, terjun ke dalam dunia-dan barulah setelah itu ia mendefinisikan dirinya…Ia tidak akan menjadi ‘apa-apa’ sampai ia menjadikan hidupnya ‘apa-apa’…manusia adalah bukan apa-apa selain apa yang ia buat dari dirinya sendiri, itulah prinsip pertama eksistensialisme”.[9]
Dalam upaya memahami eksistensialisme Sartre maupun feminisme eksistensial Beauvoir  terdapat beberapa kata kunci yang patut dijadikan perhatian lebih, antara lain kebebasan, pilihan bebas, etre en soi-etre pour soi, kesadaran reflektif-nonreflektif, mauvaise foi dan objektivasi (other is hell).
Eksistensialisme Jean Paul Sartre
Kebebasan
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa eksistensialisme “mengkramatkan” dalil “eksistensi mendahului esensi”, hal ini bagi Sartre mengimplikasikan ketiadaan tuhan. Karena tuhan tidaklah ada maka kabar baik bagi manusia adalah keberadaannya yang bebas-sebebasnya di dunia ini  bahkan menurutnya manusia adalah kebebasan itu sendiri.[10] Namun demikian, ketiadaan tuhan tidaklah serta-merta membawa kebaikan penuh bagi manusia. Permasalahan muncul ketika eksistensialisme sendiri menghendaki manusia memaknai diri dan tak dimaknai orang lain serta lingkungan sebagai konsekuensi atas “kesadaran diri” yang dimiliki.
Dalam hal ini, karena tuhan tidak ada maka manusia pun menemui kesulitan dalam upaya menyusun patokan nilai, norma dan etika bagi dirinya sendiri. Manusia dengan segala keterbatasan dan kapasitasnya dipaksa menyusun tatanan moral, etika serta tujuan hidup bagi dirinya sendiri sebagai konsekuensi ketiadaan tuhan, terkait hal ini Sartre mengatakan, “Je suis condamned a etre libre!” (Aku dikutuk untuk bebas) dan segalanya bagi Sartre-hidup tanpa patokan norma dan nilai berikut tujuan yang jelas-adalah nausea ‘memuakkan’.[11]
Pilihan Bebas  
Ketiadaan tuhan bagi Sartre berimplikasi pula pada kebebasan manusia menentukan pilihan hidup. Prihal menarik yang kiranya patut menjadi perhatian lebih adalah absurditas yang muncul melalui ketidakmampuan manusia menyusun tujuan hidupnya sendiri menghantarkan pada kematian sebagai salah satu pilihan bebas hidup yang tak dianggap tabu dalam eksistensialisme. Dengan demikian, melalui indikator sederhana pengukuran epistemologi berupa pemaknaan “asal kehidupan, tujuan kehidupan dan kematian” dengan tegas dan lugas seorang eksistensialis bakal mengatakan bahwa semuanya adalah absurd![12]             
            Bunuh diri sebagai pengejawantahan kebebasan pilihan hidup eksistensialisme salah satunya tampak dalam buah karya Albert Camus, Mite Sisifus di mana menceritarakan seorang bernama Sisifus-mitologi Yunani-yang dikenai hukuman para dewa untuk membawa sebuah batu besar ke puncak bukit dan setelah mencapainya batu besar tersebut digelindingkan kembali oleh para dewa ke kaki bukit dan Sisifus diharuskan melakukan hal yang sama, membawanya kembali ke puncak bukit, terus-menerus dan  berulang-ulang. Dalam hal ini Camus menengarai bahwa jika hidup sudah lagi tak bermakna maka apakah tetap layak untuk dijalani, dengan kata lain Camus mengajak orang-orang yang telah kehilangan makna hidup untuk melakukan tindakan bunuh diri.[13]
            Di sisi lain terkait pilihan bebas di atas, Sartre menambahkan premis, “ketika anda memilih berarti anda memilih untuk seluruh umat manusia”. Hal tersebut senada dengan konsep etika Immanuel Kant yang menegaskan bahwa bertindaklah sehingga tindakanmu menjadi model bagi seluruh umat manusia.[14]        
Etre En Soi & Etre Pour Soi
            Eksistensialisme Sartre dikenal pula sebagai bentuk ontologi radikal dengan oposisi biner di dalamnya-essay on phenomenological ontology. Oposisi biner tersebut tampak melalui pembagian Sartre akan segala hal menjadi etre en soi ‘berada dalam dirinya’ dan etre pour soi ‘berada bagi dirinya’. Menurut Sartre etre en soi adalah segala sesuatu yang tak memiliki kesadaran, tak mampu menyusun tujuan hidupnya sendiri, tujuan keberadaannya sepenuhnya ditentukan oleh eksistensi lain. Etre en soi dapat dimisalkan dengan sebuah meja, kursi, bangunan dan sebagainya. Namun demikian, meskipun etre en soi tak memiliki kesadaran tetapi ianya adalah sempurna, sempurna sebagai kursi, meja, bangunan dan sebagainya. Ia tak memiliki celah untuk dikritisi, ia tak memiliki kekosongan yang memunculkan keinginan-keinginan, di sinilah kelebihan etre en soi.[15]
            Berseberangan dengan etre en soi, etre pour soi adalah segala sesuatu yang memiliki kesadaran, dalam hal ini manusia itu sendiri. Dengan kesadaran tersebut manusia mampu menyusun tujuan hidupnya, memaknai diri sendiri sesuai kehendaknya, bahkan memaknai pihak lain. Namun demikian, di satu sisi etre pour soi pun memiliki kekurangan yakni celah yang dimilikinya berikut keinginan-keinginan yang menandakan ajegnya kekosongan.[16]
            Menurut Sartre, pada hakekatnya manusia selalu ingin menjadi sempurna-tak memiliki celah dan kekosongan-namun di satu sisi ia tetap ingin memiliki kesadaran, dengan demikian ia hendak menjadi etre en soi-etre pour soi, namun yang demikian hanyalah sifat tuhan semata, oleh karena itu kesimpulan fenomenal Sartre atas manusia adalah, “man is useless passion!”.[17]     

Kesadaran Reflektif & Nonreflektif
            Seperti apa yang telah diuraikan sebelumnya bahwa eksistensialisme Sartre turut berbicara mengenai kesadaran, lebih lanjut, kesadaran dalam eksistensialisme Sartre terbagi dalam dua bentuk yakni kesadaran reflektif dan kesadaran nonreflektif. Kesadaran reflektif adalah kesadaran akan eksistensi dan kehadiran diri, sedangkan kesadaran nonreflektif adalah kesadaran akan eksistensi dan kehadiran individu lain. Bagi Sartre, kesadaran pastilah dikotomis, tak terdapat jalan guna menggabungkan reflektif dan nonreflektif, antara yang satu dengan yang lain selalu saling “mengenyahkan”.
            Sebagai misal, Sartre kerap mencontohkan hal di atas melalui temu janjinya dengan seorang teman di sebuah cafe. Ketika Sartre tiba di sebuah cafe yang telah disepakati dengan segera ia mencari temannya, pandangannya menyapu seisi orang yang terdapat dalam cafe tersebut, ketika hal tersebut terjadi maka kesadaran yang ada dalam diri Sartre adalah kesadaran nonreflektif karena seluruh alam pikirannya terfokus pada orang-orang yang terdapat dalam cafe tersebut, ia telah mengenyahkan dirinya sendiri. Ketika Sartre telah selesai menyapu bersih pandangannya pada seisi orang yang terdapat dalam cafe dan ia tak menemui teman yang memiliki temu janji dengannya, Sartre berkata pada dirinya, “Saya ditipu!”, ketika ia mengatakan hal tersebut maka bentuk kesadaran yang terdapat dalam dirinya dengan segera berubah menjadi bentuk kesadaran reflektif, yakni kesadaran akan eksistensi dan kehadiran dirinya, “diri yang telah ditipu seorang teman”.[18]
Mauvaise Foi
            Mauvaise foi adalah istilah yang digunakan Sartre guna menunjuk pada “keyakinan buruk” manusia. Menurut Sartre pilihan manusia hanyalah dua yakni hidup secara otentik atau hidup dengan keyakinan buruk. Bagi Sartre, seseorang hidup secara otentik bila ia meyakini sepenuhnya bahwa dirinya benar-benar bebas, tidak terikat oleh aturan tuhan dan berbagai hukum yang ada. Sebaliknya dengan mereka yang hidup dengan mauvaise foi ‘keyakinan buruk’, ialah mereka yang terikat oleh aturan tuhan dan berbagai hukum yang ada, termasuk di dalamnya bentuk-bentuk streotipe dan pelabelan tertentu.[19]
Other Is Hell
            “Other is hell” merupakan salah satu ide yang ditawarkan eksistensialisme Sartre. Penajisan orang lain sebagai neraka tersebut bagi Sartre dikarenakan eksistensi orang lain yang selalu mengobjekkan diri kita. Hal tersebut dapat terjadi mengingat aspek kesadaran yang dimiliki pula oleh individu lain layaknya diri kita sehingga tak khayal berpotensi membentuk penilaian ataupun menstrukstur eksistensi kita.[20]
            Hal di atas dapat dimisalkan dengan kesendirian saya di sebuah kelas, ketika hal tersebut tengah berlangsung maka semisal kursi, meja dan papan tulis menjadi objek saya-ataupun segala sesuatu yang berada pada jangkauan penglihatan saya. Namun, ketika orang lain datang di kelas tersebut, situasi berbalik di mana sayalah yang menjadi objek kemudian, saya tersipu malu, tertindas, orang tersebut telah merenggut dunia saya.  
            Ide “other is hell” yang ditawarkan eksistensialisme tak heran memunculkan anggapan miris terkait eksistensialisme sebagai filsafat antisosial, individualis maupun borjuis. Namun demikian, hal tersebut memang diakui Sartre sebagai inti pemikiran yang ditawarkan dalam eksistensialisme. Apabila penelaahan lebih jauh kita lakukan atas eksistensialisme maka ditemui bahwa kesendirian, keterkucilan, kesedihan, alienasi kerap menjadi tema sentral dalam karya-karya berbagai tokoh eksistensialis.  
Aplikasi Eksistensialisme Sartre Dalam Feminisme Beauvoir
            Setelah memahami beberapa ide sentral dalam eksistensialisme Jean Paul Sartre yang antara lain berupa kebebasan, pilihan bebas, etre en soi dan etre pour soi, kesadaran reflektif dan nonreflektif, mauvaise foi ‘keyakinan buruk’ berikut other is hell ‘orang lain adalah neraka’,  selanjutnya sub-Bab ini akan menelaah lebih jauh implementatsi atau aplikasi eksistensialisme Sartre dalam konsep feminisme eksistensial Simon De Beauvoir.  
Kebebasan dalam Feminisme Eksistensial
            Telah disinggung sebelumnya bahwa pada hakekatnya manusia adalah bebas sebebas-bebasnya, bahkan manusia adalah kebebasan itu sendiri. Konsekuensi dari kebebasan tersebut adalah tak berlakunya berbagai aturan tuhan, nilai dan norma dalam masyarakat bagi dirinya. Implikasi yang demikian menuntut manusia guna menciptakan nilai dan norma bagi dirinya.
            Dalam ranah feminisme eksistensial hal di atas dapat dimisalkan dengan tak berlakunya status berikut peran yang diajukan agama maupun masyarakat bagi perempuan. Dalam tataran sosial, umumnya wanita ditempatkan sebagai makhluk yang seharusnya bertutur kata sopan, lemah lembut, menjaga aurat, tidak “berkeliaran” di malam hari dan sebagainya, maka bagi seorang feminis eksistensialis hal tersebut tak berlaku baginya, ia bebas menjadi apapun yang diinginkan. Feminis eksistensialis memiliki kuasa penuh untuk menentukan status dan perannya sendiri berikut mendobrak tatanan nilai dan norma sosial yang telah mapan.    
Pilihan Bebas dalam Feminisme Eksistensial
            Pengkajian kita atas pilihan bebas dalam eksistensialisme menemui satu hal menarik terkait bunuh diri sebagai salah satu pilihan bebas manusia yang tak tabu dalam aliran pemikiran tersebut. Singkatnya, hal tersebut termuat dalam dialog singkat antara Beauvoir dan Sartre di mana Beauvoir berkata bahwa dunia ini diciptakan oleh laki-laki dan dengan segera Sartre menjawab bahwa biar demikian wanita tetap memiliki pilihan bebas antara lain, larut dalam sistem patriarki, berupaya melawannya atau melakukan tindakan bunuh diri untuk menghindarinya, jika sang wanita tetap memilih untuk hidup maka wanita tersebut dengan sengaja memasukkan patriarki dalam penglihatan dan pikirannya, dengan demikian ia harus menanggung konsekuensinya sendiri.     
Etre En Soi & Etre Pour Soi dalam Feminisme Eksistensial
Konsep etre en soi dan etre pour soi dalam feminisme eksistensial pada dasarnya sekedar bentuk pengukuhan atas hidup yang absurd dan kenihilan manusia sebagai useless passion ‘hasrat kesia-siaan’, bahwa keinginan manusia untuk menjadi etre en soi sekaligus etre pour soi adalah hal yang mustahil dan oleh karenanya seorang wanita yang tak mampu lagi menghadapi penderitaan hidup akibat lingkungan maupun tekanan sistem patriarki dianjurkan untuk bunuh diri.
Kesadaran Reflektif & Nonreflektif dalam Feminisme Eksistensial
            Kesadaran reflektif dan nonreflektif dalam feminisme eksistensial menunjukkan bahwa wanita pada dasarnya kerap tak sadar akan dirinya yakni dengan mengeliminasi diri demi eksistensi objek-objek lain. Dalam hal ini, konsep kesadaran feminisme eksistensial lebih berperan sebagai bentuk motivasi perempuan guna meruntuhkan tembok kemapanan nilai dan norma sosial yang dinilai menyudutkan perempuan.
            Sebagai misal, dalam ranah sosial faktual perempuan lebih kerap memiliki kesadaran nonreflektif. Ia dituntut terus-menerus menjaga penampilan, terlebih dengan konstruksi masyarakat semisal bila ia telah mencapai usia tertentu dan belum juga menikah maka dapat dilabelkan “tidak laku” dan sebagainya. Dalam hal ini, upaya perempuan dalam menjaga penampilannya kerap kali disadari maupun tak disadarinya sebagai tuntutan lingkungan. Begitu pula dengan seorang wanita yang dikontruksi menjadi ibu rumah tangga, kesadaran dominan yang dimilikinya adalah nonreflektif karena pikirannya terfokus dan terkuras guna mengurus anak, suami, suplai makanan bagi keluarga dan sebagainya. Oleh karena itu, feminisme eksistensial berupaya melakukan emansipatoris melalui kesadaran reflektif guna menghentikan pengobjekkan terus-menerus pada wanita.                  
Mauvaise Foi dalam Feminisme Eksistensial
            Layaknya eksistensialisme Sartre, feminisme eksistensial Beauvoir mengajarkan perempuan untuk hidup secara otentik yakni memunculkan kesadaran bahwa pada hakekatnya mereka bebas, tak terikat dengan segala aturan, hukum, nilai dan norma berikut berbagai streotipe yang ada. Dalam hal ini, feminisme eksistensial menilai wanita dengan mauvaise foi bila ia terjebak dan meyakini bentuk-bentuk streotipe maupun kodrat tertentu semisal wanita sebagai jelmaan iblis atau iblis itu sendiri, memiliki dosa asali, makhluk lemah, inferior ketimbang pria, diharuskan berkorban, konco wingking dan berbagai bentuk streotipe maupun konsep kodrat lainnya.
Other Is Hell dalam Feminisme Eksistensial
            Konsep other is hell dalam feminisme eksistensial terkait erat dengan beberapa konsep yang telah dijabarkan sebelumnya. Dalam hal ini, other is hell bilamana masyarakat maupun pihak-pihak tertentu memaksakan norma dan nilai berikut streotipe yang menyudutkan eksistensi perempuan-mengobjekkan. Beberapa contoh konkret lain mengenai hal ini ialah sadisme dan masokisme, sadisme merupakan upaya pencapaian kenikmatan seksual dengan jalan menyiksa pasangan, begitu juga dengan masokisme hanya saja dengan cara yang berbeda yakni dengan penyerahan diri total pada pasangan. Baik sadisme maupun masokisme merupakan sesuatu yang konyol dalam perspektif feminisme eksistensial mengingat upaya saling mengobjekkan dan diobjekkan antarkeduanya.[21]                 
Motivasi Beauvoir
            Kemantapan Beauvoir meminang eksistensialisme dalam upaya emansipatoris perempuan setidaknya dimotivasi oleh beberapa hal. Pertama, ketidakpuasannya atas perspektif biologis dalam menjelaskan fenomena pria vis a vis wanita. Di satu sisi, Beauvoir menerima penjelasan perspektif biologis terkait proses reproduksi perempuan sebagai bentuk perendahan diri, namun di sisi lain ia menolak pengaruh signifikan atasnya bagi kedudukan perempuan yang dianggap inferior ketimbang laki-laki.[22]  
            Kedua, penolakannya atas psikologi freudian yang menilai inferioritas perempuan dibandingkan laki-laki disebabkan ketiadaan penis yang kemudian menimbulkan kekecewaan pada sang ibu sehingga memunculkan elektra complex-kecintaan pada ayah-disertai upaya keras perempuan untuk menjadi laki-laki.[23] Di sisi lain, kajian Freud terhadap agama yang kental dengan muatan hubungan keluarga dalam Totem and Taboo faktual menyiratkan pendeskreditan atas perempuan di mana Freud menjelaskan, “Pada suatu masa terdapat ayah besar yang memiliki banyak istri...”.[24]   
            Ketiga, penolakan atas konsep ekonomi marxis yang ditegaskan Engels bahwa pembedaan antara perempuan dan laki-laki terkait penentuan upah berdasarkan gender-wanita yang diupah lebih rendah ketimbang pria-bakal berakhir ketika kapitalisme ditumbangkan dan seluruh alat produksi dimiliki merata baik oleh pria maupun wanita. Menurut Beauvoir pembedaan tersebut tak sesederhana argumen di atas, namun lebih dikarenakan aspek ontologis di mana terkait realitas “ada” antara laki-laki dan wanita yang dengan demikian turut memperhitungkan faktor will to power ‘keinginan untuk berkuasa’-dalam istilah Nietzsche.[25] Dengan demikian dapatlah dianalisis bahwa ketiga alasan di ataslah yang menjadikan eksistensialisme sebagai tempat peraduan terakhir Simon De Beauvoir dalam upayanya merumuskan bentuk-bentuk pemikiran bagi pembebasan kaum hawa.  
Kesimpulan & Penutup
            Dengan demikian, melalui berbagai uraian singkat di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa feminisme eksistensial Simon De Beauvoir yakni implementasi eksistensialisme Sartre dalam ranah feminitas berupaya melakukan pembebasan wanita dengan jalan memunculkan kesadaran terkait hakekat perempuan yang pada dasarnya adalah bebas sebebas-bebasnya, atau dengan kata lain ia adalah kebebasan itu sendiri, dapat menjadi apa pun yang diinginkannya, menembus batas-batas struktur yang ada, keberadaannya di dunia ini adalah sendiri dan oleh karenanya ia syarat hidup secara otentik dan menolak mauvaise foi, ia memiliki pilihan bebas yang sering kali tak disadarinya, bahkan kematian pun menjadi salah satu bentuk pilihan bebas dalam hidupnya.
Singkat kata, humanisme eksistensialisme memang unik! Penghargaan atas diri sebagai manusia utuh dengan menajiskan orang lain sebagai neraka...


Daftar Pustaka

§  Tong, Rosemarie Putnam. 2004. Feminist Thought. Yogyakarta: Jalasutra.
§  Sartre, Jean Paul. 1956. Being and Nothingness. New York: Philosophical Library.
§  Sartre, Jean Paul. 2002. Eksistensialisme dan Humanisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
§  Camus, Albert. 1999. Mite Sisifus. Jakarta: Gramedia.
§  Freud, Sigmund. 1942. Totem and Taboo. New York: Pelican Books.
§  Palmer, Donald D. 2003.  Sartre Untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.
§  Martin, Vincent. 2003. Filsafat Eksistensialisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
§  Muzairi, H. 2002. Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
§  Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.
§  Echols, John. M & Shadily, Hassan. 1996. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.





[1] Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought, Jalasutra, Yogyakarta, 2004, h. 254 & Donald D. Palmer, Sartre Untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta, 2003, h. 7.  
[2] Ibid., h. 6.
[3] H. Muzairi, Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, h. 74.
[4] Donald D. Palmer, op. cit., h. 2.
[5] Ibid., h. 19 & H. Muzairi, op. cit., h. 200.
[6] Ibid., h. 52-53.
[7] Ibid., h. 28.  
[8] John M. Echols & Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996, h. 224.
[9] Jean Paul Sartre, Eksistensialisme dan Humanisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, h. 40-41, 44-45.
[10] Jean Paul Sartre, Being and Nothingness, Philosophical Library, New York, 1956, h. 179.
[11] H. Muzairi, op. cit., h. 82-83.
[12] Vincent Martin, Filsafat Eksistensialisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, h. 30.
[13] Albert Camus, Mite Sisifus, Gramedia, Jakarta, 1999.
[14] Donald D. Palmer, op. cit., h. 116-117.
[15] Jean Paul Sartre, Being and Nothingness, h. 74.
[16] Ibid., h. 222-223.
[17] Ibid., h. 599 & Donald D. Palmer, op. cit., h. 104.  
[18] Ibid., h. 56-59.
[19] Ibid., h. 78.
[20] H. Muzairi, op. cit., h. 174-175.
[21] Donald D. Palmer, op. cit., h. 96-97.
[22] Rosemarie Putnam Tong, op. cit., h. 263.
[23] Ibid., h. 264.
[24] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, Jalasutra, Yogyakarta, 2006, h. 12-13. Selengkapnya baca Sigmund Freud, Totem and Taboo, Pelican Books, New York, 1942.
[25] Rosemarie Putnam Tong, op. cit., h. 266. 

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger